Illiza, Cermin Sultanah Safiatuddin di Kota Madani

Mahdi Andela
2.414 view
Illiza, Cermin Sultanah Safiatuddin di Kota Madani
Foto: Dok. Humas Pemko Banda Aceh
Hj. Illiza Sa'aduddin Djamal

Semangatnya tidak mau kalah dari seorang laki-laki, berada pada posisi mengamati aktivitas beliau yang begitu padat, butuh stamina yang tinggi untuk menjalaninya. Tapi dihadapan kita beliau tetap tegar, berdiri dari satu podium ke podium lain, memimpin rapat dari satu gedung ke gedung lain, dan terus berjalan dari satu tempat kunjungan kerja ke medan lapangan pengerjaan kota. Saya yakin beliau lelah, tapi masih banyak sudut dan tatanan kota yang belum terarah, dan beliau tidak menunjukkan keadaan untuk menyerah, semangatnya masih nomor satu, dan perempuan nomor satu itu bernama “Hj.Illiza Sa’aduddin Djamal, SE”

Perjalanan Illiza (panggilan akrabnya) dari orang nomor dua ketika visi Kota Madani hingga menjadi orang nomor satu hingga “world Islamic Tourism” memang langgeng-langgeng saja. Siapapun akan melihat sosok perempuan satu ini sebagai agent of change-nya Kota Banda Aceh pasca Tsunami, tentu setelah Sang Bapak Pembangunan (Alm.Mawardi Nurdin) berpulang ke Rahmatullah.

Ir.Mawardi Nurdin, M.Eng telah melakukan banyak hal di kota tua ini (810 tahun), dan yang menariknya Illiza mampu menyeimbangi segala kelanjutan tanpa sedikit pun merubah visi dan hakikat pembangunannya. Jauh dalam lubuk hati terasa rindu akan duo pekerja keras nan cerdas ini.

Keberadaan Illiza pasca Alm.Mawardi Nurdin menjadi populer dan sangat berpengaruh, kegiatan kedinasan sebagai walikota yang begitu padat tidak menghilangkan rekam jejak politiknya. Hal ini terbukti dari bagaimana banyaknya masih orang-orang yang menginginkan beliau maju dalam perebutan kursi Banda Aceh 1 tahub 2017, dan saya yakin beliau juga ingin maju.

Pertama atau Terakhir?
Safiatuddin terekam sebagai Sultanah pertama yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam, ditangannya segela hal yang pernah dikerjakan Sultan terdahulu tetap dilanjutkan, tanpa merubah visi, melainkan hanya berinovasi.

Pasca mangkatnya Sultan Iskandar Thani, diangkatlah Safiatuddin sebagai Sultanah, ini menjadi awal periode zamannya para Sultanah. Setelah Safiatuddin, diangkatnya Naqiatuddin, kemudian Zaqiatuddin dan yang terakhir Zainatuddin.

Mengingat tentang Sultanah Safiatuddin, seorang perempuan pertama yang berkuasa dalam kerajaan yang kuat dan jaya kala itu, mampu mempertahankan status quo-nya hingga empat sultanah berikutnya. Pasti ada hal yang dilakukan oleh Safiatuddin dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya pada zaman-nya itu hingga dia dilegalkan memimpin dan titahnya diterima serta didengarkan. Bukan perkara mudah meng-hagemoni agar kepemimpinan perempuan diterima pada zaman itu, belum ada contoh dalam negeri-negeri Islam untuk melegalkan perempuan mengatur dan mengendalikan pemerintahan. Zaman dimana bahkan negeri yang meneriaki demokrasi (Amerika Serikat) saja belum berdiri, saat itu mereka masih berupa koloni-koloni Inggris dan Perancis. Tapi jauh pada negeri-negeri dibawah angin, seorang Perempuan naik tahta di Negeri Islam, dan membuktikan dirinya bisa memimpin.

Sultanah Safiatuddin memang tidak sebanding dengan seorang Walikota Perempuan kita ini, yang beberapa hari yang lalu termasuk dalam deretan wanita berpengaruh di Indonesia. Tapi ikhtiar dan semangat yang ditunjukan Illiza membuat kita seolah akhirnya tahu bagaimana sosok kepemimpinan seorang Sultanah terdahulu, mungkin antara Safiatuddin atau Zainatuddin.

Mengenal Illiza
Salah seorang  alumni Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) yang berasal dari Malaysia, Dato Haji Abu Backer Sidek pernah menceritakan tentang kekagumannya pada sosok Walikota Banda Aceh, Hj Illiza Saaduddin Djamal. Berawal saat sama-sama sedang berada dalam satu kegiatan bersama Illiza, yakni Seminar Internasional Telaah Kritis Qanun Jinayat Aceh di Aula Mahkamah Syariah Aceh, Ketika sedang berada di Majelis, tiba-tiba beliau meminta izin untuk memantau satu program di salah-satu gedung di Banda Aceh. Kata beliau ingin memastikan apakah program tersebut sesuai dengan syariat Islam”.

Setelah ditelusuri, maksud dari Dato Haji Abu Becker Sidek adalah ketika Illiza datang ke Amel Convention Hall untuk memastikan apakah acara pencarian bakat Sunsilk Hijab Hunt 2016 tidak melanggar syariat Islam. Illiza memang menyempatkan diri hadir dan memantau langsung apakah kegiatan tersebut sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati panitia dengan Pemko Banda Aceh.

Jauh sebelum cerita kekaguman Dato Haji Abu Becker Sidek berkembang, beberapa pihak menyerang Illiza karena dianggap membatasi gerak perempuan di Kota Banda. Namun, bagaimana bisa seorang Illiza yang selalu “dikondisikan” menentang hak-hak perempuan malah mendapatkan Penghargaan Gender Award dari Pemerintah Jerman atas kepeduliannya pada kaum perempuan.

Selain itu, Illiza menuai penghargaan Tokoh Peduli Kesehatan, dan Penghargaan berupa Piala Upakarti untuk Pemerintah Kota Banda Aceh atas kepeduliannya terhadap program industri kecil dan menengah. Illiza Saaduddin Djamal juga dinobatkan menjadi Wali kota terbaik se-Indonesia oleh Jawa Pos Group. Illiza menempati urutan pertama dari 10 bupati/wali kota terbaik di Indonesia versi Jawa Pos. Penobatan itu dilakukan pada ajang Jawa Pos Group Award di Hotel Fairmont, Jakarta, 22 Januari 2016.

Di lain waktu, Illiza Sa’aduddin Djamal pernah menerima penghargaan Lencana Melati dan juga telah mendapatkan penghargaan Darma Bakti. Pengahargaan ini diberikan atas komitmen memimpin Gerakan Pramuka di Kota Banda Aceh Selama delapan tahun sebelum terpilih sebagai Wakil Walikota hingga menjadi Walikota, Illiza juga telah dikenal sebagai aktivis pramuka karena memiliki komitmen tinggi dalam memajukan gerakan Pramuka.*

Mencari lebih jauh tentang sosok kita ini tidak begitu sulit, Sejak kecil, Ely (panggilan akrab untuk Illiza Saaduddin Djamal) sudah terbiasa berbaur dalam sistem pemerintah, karena kakeknya pernah menjabat sebagai Bupati Aceh Besar selama dua periode dan Ayahanda seorang politisi PPP yang cukup disegani di masanya.

Banyak yang berpendapat, melihat latar belakang itulah, kita tidak perlu meragukan lagi perempuan yang murah senyum ini untuk memimpin kota Banda Aceh. Walaupun secara umum Banda Aceh ini mempunyai persoalan yang cukup besar, rumit dan kompleks, sehingga perlu penanganan dan pembinaan yang terus menerus, terarah dan terpadu dengan visioner andal dan kredibel.

Dalam sesi wawancara dengan awak media, sekali waktu Illiza berujar: “Saya bersyukur dengan amanah masyarakat kota untuk menciptakan perubahan kondisi sosial yang telah rusak akibat hantaman tsunami, dan semoga saya dapat melayani masyarakat dengan baik. Pelayanan masyarakat yang baik bukan sekadar menyiapkan dan membangun infrastruktur serta sistem pelayanan yang serba prima, tetapi juga melibatkan masyarakat secara aktif sehingga mereka juga merasa menjadi bagian dari proses pembangunan.”

Terlahir di Banda Aceh pada 31 Desember 1973, Illiza memang tak asing dengan dunia politik. Darah politiknya mengalir dari keluarga besarnya, mulai dari kakeknya yang dulu menjabat Residen kota Banda Aceh, Bupati Aceh Besar, Bupati Aceh Timur, dan Bupati Aceh Tengah. Kemudian ayahnya, Saduddin Djamal adalah mantan Ketua DPR Daerah Tingkat I Aceh (sekarang DPR Aceh) dari Partai Persatuan Pembangunan. Bahkan ibunya pun adalah anggota DPR Aceh.

Jadi, sejak kecil, Illiza sering mengikuti kampanye politik. Setiap ada kampanye partai saya sering dibawa, kata Illiza kepada The Atjeh Times yang mewawancarainya di Balai Kota Banda Aceh. Kendati demikian, Illiza pernah mencoba untuk menjadi relawan dan tenaga pengajar saja. Jadi tak berpikir akan ke dunia politik seperti sekarang, lanjutnya.

Namun, Illiza yang besar di lingkungan politik tentu tak bisa melawan takdir. Waktu jua yang kemudian mengantar saya ke dunia politik juga, katanya. Menurut pembelajaran yang saya dapat dari orang tua saya, bergabung dengan dunia politik bukan sesuatu yang buruk, selama kita memperjuangkan hak- hak masyarakat. Politik itu jangan diidentikkan dengan sebuah hal yang kotor karena politik juga ibadah yang paling baik dalam memperjuangkan hak- hak rakyat.

Nah sekarang Illiza siap maju untuk pertama kalinya sebagai Calon Walikota Banda Aceh, seorang perempuan yang mencoba mengingatkan kita pada seorang Sultanah kerajaan Aceh Darussalam dahulu. Visi model Kota Madani kian mendapat tempat dihati dan pikiran rakyat, tinggal bagaimana sekarang segala upaya digunakan untuk memenangkan suara rakyat. Sebagai bagian dari mengantarkan kita pada gerbang Banda Aceh lebih baik.

Tantangan yang besar mungkin datang lewat skeptisnya pihak tertentu yang mengatakan posisi Illiza sekarang karena duetnya dengan Alm.Mawardi Nurdin pada pilkada duhulu, disudutkan pada dinamika tidak mungkin (menang). Tapi saya dan tentu Illiza sendiri harus yakin bahwa ini mungkin, dan beliau bisa membuktikannya, 2017 kian dekat. Ya Kita Bisa

 

Penulis
: Muhammad Al Mushawwir
Tag:Illiza
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)