Mahasiswa Kukerta Keperawatan UNRI Tanam TOGA dan Edukasi Hipertensi di Desa Buluh Cina

datariau.com
152 view
Mahasiswa Kukerta Keperawatan UNRI Tanam TOGA dan Edukasi Hipertensi di Desa Buluh Cina
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Keperawatan Universitas Riau (UNRI) Tahun 2026 melaksanakan program penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan edukasi kesehatan mengenai hipertensi di Desa Buluh Cina.

KAMPAR, datariau.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Keperawatan Universitas Riau (UNRI) Tahun 2026 melaksanakan program penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan edukasi kesehatan mengenai hipertensi di Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar. Kegiatan yang berlangsung pada 26-28 September 2026 ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan kesehatan sekaligus mendorong pemanfaatan potensi tanaman lokal.

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan melalui penanaman berbagai jenis tanaman obat bersama warga serta sosialisasi kesehatan. Kebun TOGA dibangun di area sekitar panggung dekat kantor Desa Buluh Cina agar dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan sumber tanaman obat keluarga secara berkelanjutan.

Dalam kegiatan penanaman, mahasiswa bersama masyarakat menanam sejumlah tanaman, di antaranya jahe, kunyit, serai, sirih, temulawak, lengkuas, mentimun, jerangau, segihitam, segiputih, kencur, kunyit belai, setawar, dan sedingin.

Penanaman ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan beragam tanaman yang dapat tumbuh di lingkungan sekitar, tetapi juga mendorong partisipasi masyarakat dalam merawat dan memanfaatkan potensi lokal untuk mendukung pemeliharaan kesehatan keluarga.

Program tersebut dilatarbelakangi oleh permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat, termasuk hipertensi serta perlunya peningkatan kesadaran mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan dan kepatuhan menjalani pengobatan.

Melalui program ini, mahasiswa berupaya memberikan edukasi yang mudah dipahami masyarakat, sekaligus mengenalkan pemanfaatan TOGA secara tepat sebagai bagian dari upaya pendampingan pemeliharaan kesehatan.

Ketua kelompok Kukerta Keperawatan UNRI, Hernanda Apriandi, mengatakan program tersebut dirancang untuk menggabungkan pemberdayaan masyarakat dengan edukasi kesehatan.

“Melalui program ini, kami berharap masyarakat tidak hanya mengenal berbagai jenis tanaman obat keluarga, tetapi juga semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan, khususnya dalam mengendalikan hipertensi. Kami juga berharap kebun TOGA yang telah ditanam dapat terus dirawat dan dimanfaatkan oleh masyarakat meskipun kegiatan Kukerta telah selesai,” ujarnya.

Sosialisasi Hipertensi Diikuti 30 Peserta


Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai hipertensi dan pemanfaatan TOGA pada 28 September 2026. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri atas unsur pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kader kesehatan, serta masyarakat setempat.

Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai hipertensi, pentingnya menjaga tekanan darah, serta upaya pencegahan dan pengendalian melalui penerapan pola hidup sehat.

Mahasiswa juga memperkenalkan jahe, kunyit, dan serai sebagai bahan ramuan herbal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemeliharaan kesehatan. Namun, peserta turut diberikan pemahaman bahwa penggunaan tanaman herbal tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis maupun pengobatan yang diresepkan oleh tenaga kesehatan.

Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, menjaga pola makan, menerapkan aktivitas fisik yang sesuai, serta mematuhi anjuran pengobatan bagi penderita hipertensi.

Pengetahuan Peserta Meningkat Setelah Edukasi


Untuk mengetahui perubahan pengetahuan peserta, mahasiswa melaksanakan evaluasi melalui pre-test sebelum penyampaian materi dan post-test setelah sosialisasi selesai.

Hasil evaluasi terhadap 30 peserta menunjukkan adanya peningkatan jumlah peserta yang memiliki kategori pengetahuan baik. Sebelum edukasi, sebanyak 15 orang atau 50 persen peserta berada dalam kategori tersebut. Setelah edukasi, jumlahnya meningkat menjadi 23 orang atau 76,7 persen.

Sementara itu, peserta dengan kategori pengetahuan cukup berkurang dari delapan orang atau 26,7 persen menjadi tujuh orang atau 23,3 persen. Adapun peserta dengan kategori pengetahuan kurang menurun dari tujuh orang atau 23,3 persen sebelum edukasi menjadi tidak ada peserta setelah kegiatan berlangsung.

Hasil tersebut menunjukkan adanya perubahan distribusi kategori pengetahuan peserta setelah mengikuti sosialisasi. Meski demikian, evaluasi ini menggambarkan perubahan pengetahuan dalam jangka pendek dan belum mengukur dampak program terhadap perilaku kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Penulis
: Hernanda Apriandi
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)