KAMPAR, datariau.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Berdampak Khusus Kelompok 9 Fakultas Keperawatan Universitas Riau (Unri) melaksanakan program pengabdian masyarakat di Desa Teratak Buluh, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Kegiatan ini berfokus pada edukasi kesehatan anak, pembiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), serta stimulasi motorik kasar melalui permainan tradisional.
Mengusung tema “Kukerta Berdampak: Mewujudkan Anak Sehat dan Aktif melalui Edukasi Cuci Tangan dan Stimulasi Motorik Kasar dengan Permainan Tradisional di Desa Teratak Buluh”, kegiatan ini dibimbing langsung oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Riri Novayelinda, S.Kp., MNg.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan dan mendukung tumbuh kembang anak sejak dini.
Sebagai salah satu rangkaian program kerja, mahasiswa Kelompok 9 turut berpartisipasi dalam kegiatan Posyandu di desa setempat. Mereka membantu kader Posyandu dan tenaga kesehatan melakukan pengukuran pertumbuhan balita serta pengkajian perkembangan anak.
Keterlibatan tersebut bertujuan mendukung pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, sekaligus meningkatkan perhatian terhadap status gizi dan kesehatan anak di lingkungan masyarakat.
Edukasi Cuci Tangan untuk Anak Usia Sekolah
Selain terlibat dalam pelayanan Posyandu, mahasiswa juga memberikan edukasi kesehatan kepada anak-anak usia sekolah dasar. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (10/10/2026), pukul 14.00 WIB, bertempat di MDA Amanah, Desa Teratak Buluh.
Dalam penyuluhan tersebut, mahasiswa menyampaikan materi mengenai pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebagai salah satu langkah sederhana untuk menjaga kebersihan diri dan mencegah penyakit.
Anak-anak diberikan pemahaman bahwa tangan dapat menjadi media perpindahan kuman setelah menyentuh berbagai benda, seperti gagang pintu, meja, mainan, sampah, hingga hewan. Kuman yang menempel di tangan berpotensi masuk ke dalam tubuh ketika seseorang menyentuh mulut, hidung, atau mata tanpa membersihkan tangannya terlebih dahulu.
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa kebiasaan mencuci tangan yang kurang baik dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, termasuk diare. Karena itu, anak-anak diajak membiasakan diri mencuci tangan pada waktu-waktu penting, seperti sebelum dan sesudah makan, setelah menggunakan toilet, setelah menyentuh sampah, setelah batuk atau bersin, serta ketika tangan terlihat kotor.
Untuk memastikan materi dapat dipahami dan diterapkan, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi enam langkah mencuci tangan yang benar menggunakan sabun dan air mengalir. Anak-anak diperkenalkan pada tahapan mencuci tangan secara tepat agar kebiasaan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa turut menempelkan poster ajakan mencuci tangan di sejumlah lokasi strategis. Poster tersebut memuat informasi mengenai pentingnya CTPS, durasi mencuci tangan yang dianjurkan, waktu-waktu penting untuk mencuci tangan, serta panduan visual enam langkah mencuci tangan yang benar.
Kehadiran poster diharapkan dapat menjadi pengingat bagi anak-anak dan masyarakat untuk terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, meskipun kegiatan penyuluhan telah selesai dilaksanakan.
Warga setempat menyambut baik kegiatan tersebut dan menilai edukasi CTPS bermanfaat untuk membantu membangun kebiasaan menjaga kebersihan diri pada anak sejak usia dini.
Permainan Tradisional untuk Melatih Motorik Kasar
Tidak hanya berfokus pada edukasi kesehatan, mahasiswa Kukerta Kelompok 9 juga berupaya mendukung perkembangan fisik anak melalui aktivitas bermain.
Di luar kegiatan formal, mahasiswa aktif berinteraksi dengan anak-anak setempat, terutama pada sore hari di sekitar posko Kukerta. Mereka mengajak anak-anak bermain permainan tradisional, salah satunya lompat tali.
Melalui permainan tersebut, anak-anak melakukan berbagai gerakan fisik, seperti melompat, berlari, dan menjaga keseimbangan. Aktivitas ini dapat membantu melatih kemampuan motorik kasar sekaligus mendorong anak untuk lebih aktif bergerak di luar ruangan.
Permainan tradisional juga menjadi sarana interaksi sosial yang menyenangkan. Anak-anak dapat belajar mengikuti aturan permainan, berkoordinasi dengan teman, serta membangun kebersamaan melalui kegiatan yang sederhana dan mudah dilakukan.
Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi alternatif aktivitas fisik yang positif bagi anak-anak, terutama di tengah kebiasaan bermain yang semakin banyak dilakukan melalui perangkat digital.
Dukung Pencapaian SDGs
Melalui rangkaian program kerja tersebut, Kukerta Berdampak Khusus Kelompok 9 Fakultas Keperawatan Unri turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Kontribusi pertama berkaitan dengan SDGs poin 3, yakni Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). Dukungan ini diwujudkan melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan Posyandu, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, serta edukasi CTPS sebagai upaya meningkatkan kesadaran tentang kebersihan dan pencegahan penyakit.
Selanjutnya, kegiatan ini juga mendukung SDGs poin 4, yakni Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Edukasi kesehatan yang interaktif dan pendampingan melalui permainan tradisional menjadi bentuk pembelajaran di luar lingkungan sekolah formal yang membantu anak memahami perilaku hidup sehat sekaligus mendukung perkembangan fisiknya.
Melalui program tersebut, mahasiswa Kukerta Kelompok 9 Fakultas Keperawatan Unri berharap kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun dapat terus diterapkan oleh anak-anak Desa Teratak Buluh. Selain itu, permainan tradisional diharapkan tetap menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari yang mendorong anak tumbuh sehat, aktif, dan mampu berinteraksi secara positif dengan lingkungan sekitarnya.
Program ini sekaligus menjadi wujud kontribusi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu keperawatan di tengah masyarakat melalui edukasi, pendampingan, dan kegiatan promotif-preventif yang menyentuh kebutuhan kesehatan anak sejak dini.***