Mahasiswa Keperawatan UNRI Hadirkan Pencatatan Digital “Tumbuh Bersama” Untuk Permudah Pencatatan Pertumbuhan Balita di Desa Lubuk Sakat

datariau.com
170 view
Mahasiswa Keperawatan UNRI Hadirkan Pencatatan Digital “Tumbuh Bersama” Untuk Permudah Pencatatan Pertumbuhan Balita di Desa Lubuk Sakat

LUBUK SAKAT, datariau.com - Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan, Universitas Riau (Unri) memperkenalkan sistem pencatatan digital “Tumbuh Bersama” untuk mendukung pencatatan dan pemantauan pertumbuhan balita di Posyandu Desa Lubuk Sakat, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut melibatkan satu bidan desa dan delapan kader Posyandu. Program ini menggabungkan edukasi gizi dengan pengenalan teknologi digital guna membantu meningkatkan keteraturan pencatatan data pertumbuhan anak serta mendukung upaya pencegahan stunting.

Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdian memperkenalkan sistem yang memanfaatkan kode QR, Google Drive, dan Google Spreadsheet. Teknologi ini dirancang untuk memudahkan kader mengakses materi edukasi, memasukkan data pertumbuhan balita, serta meninjau riwayat pengukuran secara lebih terstruktur.

Pemantauan pertumbuhan balita membutuhkan pengukuran antropometri yang tepat, pencatatan berkala, dan peninjauan hasil secara konsisten. Data yang tersusun dengan baik dapat membantu tenaga kesehatan menelusuri riwayat pertumbuhan anak dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya.

Namun, pencatatan manual dapat menambah beban rekapitulasi dan menyulitkan penelusuran data sebelumnya apabila dokumentasi belum tertata dengan baik. Karena itu, pemanfaatan sistem digital diperkenalkan sebagai salah satu alternatif untuk mendukung pekerjaan kader dan koordinasi dengan bidan desa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan identifikasi kebutuhan mitra, dilanjutkan pre-test untuk mengetahui gambaran awal pengetahuan peserta. Selanjutnya, peserta mendapatkan edukasi mengenai stunting, pentingnya pemenuhan gizi seimbang, serta penggunaan standar antropometri anak dalam pemantauan pertumbuhan.

Materi tersebut menekankan bahwa pemantauan pertumbuhan tidak sekadar mencatat angka hasil pengukuran. Ketepatan pengukuran, konsistensi pencatatan, dan tindak lanjut terhadap hasil yang memerlukan perhatian juga menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan balita.

Setelah sesi edukasi, peserta mengikuti demonstrasi interaktif penggunaan sistem “Tumbuh Bersama”. Tim menjelaskan cara memindai kode QR menggunakan gawai untuk mengakses sarana pencatatan dan materi edukasi yang telah disiapkan.

Google Drive dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan berbagai materi edukasi, antara lain informasi gizi, panduan menu bagi ibu hamil, panduan makanan pendamping ASI (MPASI), serta video demonstrasi memasak. Materi tersebut diharapkan dapat membantu kader mempersiapkan penyuluhan kepada keluarga sesuai kebutuhan dan arahan tenaga kesehatan.

Sementara itu, Google Spreadsheet digunakan untuk mengelola data awal anak dan riwayat kunjungan. Melalui lembar Data Anak, pengguna dapat memasukkan identitas awal balita, sedangkan lembar Riwayat Kunjungan digunakan untuk mencatat hasil pengukuran secara berkala.

Sistem juga dilengkapi Dashboard yang menyajikan ringkasan data sehingga memudahkan proses peninjauan rekapitulasi oleh bidan desa. Dengan akses melalui kode QR, pengguna dapat membuka sarana yang dibutuhkan tanpa harus mencari tautan secara manual.

Meski demikian, sistem tersebut bukan pengganti pengukuran langsung maupun penilaian profesional tenaga kesehatan. Apabila terdapat klasifikasi atau rekomendasi awal dari sistem, hasilnya tetap perlu diperiksa dan diverifikasi oleh bidan atau tenaga kesehatan sebelum digunakan sebagai dasar penentuan tindak lanjut.

Kegiatan ini mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Acuan tersebut diperlukan agar pengukuran dan interpretasi pertumbuhan dilakukan berdasarkan standar yang berlaku.

Dalam pelaksanaannya, kader berperan membantu pencatatan sesuai tugas dan pelatihan, sedangkan peninjauan hasil serta keputusan mengenai tindak lanjut tetap melibatkan tenaga kesehatan.

Selain ketepatan pencatatan, tim juga menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan identitas dan informasi kesehatan anak. Pengelolaan data digital perlu disertai pembatasan akses kepada pihak yang berkepentingan, perlindungan dokumen, serta penggunaan data sesuai tujuan pelayanan.

Agar sistem dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, pembaruan data pada setiap kunjungan perlu dilakukan secara rutin. Kelengkapan isian juga harus diperiksa, sementara hasil pengukuran dan rekapitulasi perlu ditinjau kembali untuk mengurangi risiko kesalahan pencatatan.

Pendampingan berkala dibutuhkan untuk membantu kader mengatasi kendala penggunaan sistem sekaligus memastikan alur pencatatan dipahami oleh petugas yang terlibat. Kesepakatan mengenai pengelolaan akses dan keamanan data juga menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program.

Salah satu peserta menyampaikan bahwa pengenalan sistem digital tersebut membantu mereka memahami alur memasukkan data dan meninjau riwayat pertumbuhan balita dengan lebih teratur.

“Kami berharap penggunaannya dapat diterapkan secara rutin, dengan pendampingan apabila masih ada bagian yang perlu dipelajari,” ujar salah satu peserta.

Sementara itu, Fachrul menyampaikan bahwa rekapitulasi digital berpotensi membantu peninjauan catatan pertumbuhan menjadi lebih terstruktur. Namun, ketepatan pengukuran, kelengkapan data, dan verifikasi oleh tenaga kesehatan tetap harus dijaga agar informasi yang tercatat dapat digunakan secara bertanggung jawab.

Penulis
: Fachrul Kamil
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)