Kekerasan Terhadap Anak Sangat Tinggi di Riau, Makanya Jadi Tuan Rumah HAN 2017

Admin
1.145 view
Kekerasan Terhadap Anak Sangat Tinggi di Riau, Makanya Jadi Tuan Rumah HAN 2017
Int.

PEKANBARU, datariau.com - Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2017 dilaksanakan di Pekanbaru, Riau, Ahad (23/7/2017) besok. Selain dihadiri langsung Presiden Joko Widodo, puncak HAN 2017 akan diikuti sekitar lebih dari 3.000 anak yang mewakili kabupaten/kota dari 34 provinsi di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohana Yembise, saat dialog interaktif di RRI Pekanbaru, Sabtu (22/7/2017) sore tadi.

Dikatakan Menteri Yohana, dipilihnya Provinsi Riau menjadi tuan rumah HAN 2017 adalah karena di daerah ini angka kekerasan terhadap anak sangat tinggi. Bahkan Riau menempati urutan kedua di Indonesia tingkat kekerasan terhadap anak.

"Selama ini HAN selalu dilaksanakan di Istana tapi Presiden Joko Widodo maunya dilaksanakan di daerah-daerah di Indonesia. Tahun lalu HAN dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat dan tahun ini dilaksanakan di Riau," kata menteri Yohana.

"Dipilih Riau karena kekerasan cukup tinggi nomor dua di Indonesia. Pernikahan usia anak cukup tinggi, KDRT, kekerasan seksual di sini juga tinggi. Jadi Riau harus mendapat perhatian khusus. Tidak hanya Riau tapi semua kabupaten kota di Indonesia semua harus bekerja keras menurunkan tindak kekerasan," ujar menteri lagi.
 
Tingginya angka kekerasan di Riau setiap tahunnya tertuang dari data yang diperoleh Kekerasan fisik terhadap anak misalnya, tahun 2015 hanya 1 kasus, tahun 2016 meningkat jadi 4 kasus. Bahkan hingga Maret 2017 sudah ada 2 kasus.

Begitu juga kasus kejahatan seksual terhadap anak, dari 32 kasus tahun 2015, meningkat jadi 37 kasus di tahun 2016. Hingga Maret 2017 sudah mencapai angka 11 kasus.

Yasonna menjelaskan bukan hanya di Riau, wilayah lain di Sumatera hingga di desa-desa pihaknya bekerja keras agar angka kekerasan terhadap perempuan dan anak menurun.

Menteri Yohana juga mengatakan, untuk mencapai Kota Layak Anak (KLA) banyak indikator yang harus dipenuhi oleh kepala daerah. Bahkan indikator dan tahapan yang harus dilewati tergolong berat seperti memenuhi hak sipil anak yakni akte kelahiran, tidak boleh ada anak jalanan, tidak boleh ada pornografi, dan rokok.

Pada dialog tersebut Menteri PPPA Yohana Yembise, juga mengatakan sesuai tema HAN 2017 di Riau yakni "Saya Anak Indonesia Saya Gembira" pesan yang ingin disampaikan adalah perlindungan terhadap anak harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Sementara itu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Pekanbaru Helda Kasmi, membenarkan tingginya tingkat kekerasan terhadap anak di Provinsi Riau, khususnya di Pekanbaru.

Ia menyebut tahun ini saja kasus kekerasan terhadap anak di Riau sudah mencapai 107 kasus, dan kasus yang masuk ke P2TP2 Pekanbaru hingga kini sudah mencapai 50 kasus.
Helda mengatakan, sebenarnya tindak kekerasan terhadap anak jumlahnya jauh lebih tinggi namun banyak masyarakat yang enggan melaporkannya ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak. "Atau ada kasus kekerasan tersebut selesai di tingkat masyarakat itu sendiri sehingga tidak dilaporkan," ujarnya.

Sementara Sosiolog Resdayati, mengatakan basis pertama anak adalah keluarga. Akan tetapi terkadang kekerasan terhadap anak justru datang dari lingkungan terdekatnya yakni keluarga.

Ia mengatakan, pemicu kekerasan terhadap anak tidak hanya karena faktor ekonomi namun banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya. "Kekerasan terhadap tidak hanya melulu faktor ekonomi saja, karena banyak orang kaya yang menganiaya atau memperlakukan anaknya tidak manusiawi," pungkasnya.

Editor
: Agusri
Sumber
: Cakaplah.com
Tag: