DATARIAU.COM - Dilansir dari Kompas.com, Presiden RI Prabowo Subianto meluncurkan program Sekolah Rakyat sebagai salah satu upaya memutus rantai kemiskinan yang telah berlangsung dalam beberapa generasi. Program tersebut menjadi langkah strategis untuk memberikan akses pendidikan berkualitas kepada aak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial (Kemensos) Robben Rico menyampaikan dalam media briefing bertema "Menembus Batas Lewat Sekolah Rakyat" di Balai Pers Nasional, Surakarta, Ahad (20/7/2025). Adapun Sekolah Rakyat hadir dengan tiga prinsip utama, memuliakan wong cilik, menjangkau yang belum terjangkau, dan memungkinkan yang tidak mungkin.
Dalam forum tersebut Robben memaparkan data yang cukup mengejutkan. Sebanyak 227.000 anak usia sekolah dasar (SD) di Indonesia belum pernah sekolah atau putus sekolah. Angka ini melonjak pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) sebanyak 499.000 anak dan sekolah menengah atas (SMA) sebanyak 3,4 juta anak. "Sebetulnya, kesimpulannya kan pengangguran terselubung. Apa mungkin bisa bekerja tanpa punya ijazah SMA. Nah, itulah yang kemudian ingin kita selesaikan,” tegas Robben.
Per 14 Juli 2025, sebanyak 63 Sekolah Rakyat telah beroperasi. Sisanya, 37 sekolah akan dibuka pada akhir Juli atau awal Agustus 2025 untuk menjangkau 100 lokasi di seluruh Indonesia. Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyebut anggaran yang dialokasikan untuk Sekolah Rakyat dari APBN pada tahun 2025 sebesar Rp1,1 triliun dengan penggunaan terbesar ada pada pengadaan laptop dan seragam untuk 15.000 siswa lebih di 159 Sekolah Rakyat. (Antara news, 30/7/2025)
Tak Menyentuh Akar Masalah
Pemerintah kembali membuat gebrakan baru di bidang pendidikan dalam rangka mengentaskan kemiskinan. Program ini dipersiapkan dalam waktu tiga bulan sejak diluncurkan oleh Presiden. Pemerintah selalu punya ide kebijakan negara dengan niat yang baik, namun apakah menyentuh akar masalah?
Realita hari ini adalah kemiskinan struktural. Demikian juga problem pengangguran tidak lantas terselesaikan dengan anak-anak keluarga miskin masuk Sekolah Rakyat. Sebab faktanya hari ini PHK marak dan lapangan pekerjaan memang langka. Tidak sedikit penyandang sarjana yang pengangguran akibat sulit mendapatkan pekerjaan, bukan karena tidak punya ijazah saja.
Sekolah Rakyat memang gratis, namun hal ini menunjukkan bahwa negara hanya mengurusi rakyat miskin yang tidak mampu sekolah. Padahal hari ini masih banyak problem pada sekolah negeri, baik terkait kualitas pendidikan maupun sarana dan prasarana yang belum memadai, kecukupan dan kualitas tenaga pendidik, dan lain-lain. Bahkan tahun ini muncul problem baru yaitu kekurangan murid di berbagai sekolah yang sudah ada.
Nampaklah Sekolah Rakyat adalah solusi tambal sulam yang tidak menyelesaikan persoalan masyarakat. Juga kebijakan populis Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak menyentuh akar masalah. Semua adalah akibat dari penerapan sistem kapitalisme, yang menempatkan negara hanya sebagai regulator oligarki. Negara tidak menjadi pengurus rakyat, baik dalam menyediakan layanan pendidikan dan menjamin kesejahteraan.
Sistem Islam Menjamin Pendidikan Terbaik
Dalam sistem Islam, pendidikan adalah kebutuhan bagi setiap individu rakyat. Setiap rakyat berhak mendapatkan pendidikan, baik kaya ataupun miskin. Negara sebagai raa'in (pengurus) rakyat memberikan jaminan pendidikan kepada setiap rakyatnya. Maka negara akan menyediakan pendidikan sebagai bentuk pelayanan kepada rakyat, bukan objek komersial seperti saat ini.
Pendidikan dalam sistem Islam pembiayaannya ditanggung sepenuhnya oleh negara, pada semua jenjang pendidikan. Hal ini dapat dilakukan oleh negara, karena sistem ekonomi Islam yang diterapkan menjadikan negara memiliki sumber dana yang mumpuni. Terdapat banyak sumber pemasukan negara, seperti pengelolaan sumber daya alam, kharaj, fa'i, dan lain-lain.
Bukan hanya itu, bahkan sejarah telah mengukir bagaimana kualitas pendidikan pada masa kekhalifahan Islam berabad-abad silam. Mulai dari fasilitasnya yang terbaik, tenaga pengajar yang ahli, hingga beasiswa untuk pelajar dan penghargaan bagi mereka yang berprestasi. Contoh praktisnya adalah Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Muntahsir di kota Baghdad.
Pada Sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar. Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan, seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian. Begitu pula dengan Madrasah An Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad ke enam hijriah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.
Setiap individu rakyat mendapatkan pendidikan demikian tanpa memandang kelas ekonomi mereka. Demikianlah kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan dalam penerapan sistem Islam pada semua aspek kehidupan. Wallahu a'lam bishawab.***