Peningkatan Pembangunan pada Perbaikan Gizi dan Kesehatan Masyarakat

Datariau.com
2.756 view
Peningkatan Pembangunan pada Perbaikan Gizi dan Kesehatan Masyarakat
Ilustrasi (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Sampai saat ini Indonesia masih berkutat terus menangani dua permasalahan utama yang berperan sangat besar terhadap upaya peningkatan kualitas kehidupan manusia, yaitu kemiskinan (poverty) dan masalah gizi (malnutrition). Masalah kemiskinan merupakan penyebab mendasar dalam menentukan indeks pembangunan manusia (HDI atau Human Development Indeks) yang merupakan indikator kemajuan suatu daerah. Masalah gizi merupakan gangguan pada beberapa segi kesejahteraan perorongan dan atau masyarakat yang disebabkan oleh karena tidak terpenuhinya kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Masalah gizi ini sangat erat kaitannya dengan masalah kesahatan dan kecukupan pangan.

Dalam ideks pembangunan manusia (IPM), kualitas sumber daya manusia (SDM) yang baik merupakan syarat mutlak untuk mengukur keberhasilan pembangunan. Kualitas fisik penduduk dapat dilihat dari derajat dan status gizi masyarakat. Human Development Indeks (HDI) adalah indeks komposit yang ditentukan berdasarkan usia harapan hidup (life expectancy), pencapaian tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan per kapita. Peningkatan pembangunan melalui peningkatan kualitas SDM dari setiap negara pada kurun waktu tertentu direfleksikan dengan penurunan angka HDI.

Sejalan dengan agenda pembangunan global yang dituangkan dalam Sustainable Development Goals untuk mewujudkan masyarakat dunia yang sejahtera, merata dan berkelanjutan, Pemerintah Indonesia menuangkan komitmen tersebut dalam tema dan agenda Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2020-2024, yaitu mewujudkan masyarakat yang Indonesia yang berpenghasilan menengah-tinggi, yang sejahtera, adil dan berkisanambungan. Sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi adalah salah satu faktor pendukung utama untuk mencapai tujuan tersebut.

Gizi baik merupakan fondasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang berkulitas karena berkaitan erat dengan peningkatan kapasitas belajar, kemampuan kognitif dan intelektualitas seseorang. Gii baik juga merupakan penanda keberhasilan pembangunan dan terpenuhinya hak asasi manusia terhadap pangan dan kesehatan. Peraikan gizi masyarakat merupakan sarana untuk memutus rantai kemiskinan melalui meningkatkan pertumbuhan ekonomi sehingga berdampak pada kesejahteraan di tingkat masyarakat, keluarga dan individu.

Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, tercantum hal ?meningkatnya status gizi masyaarakat? menjadi salah satu priritas pemangunan, dengan sasaran utama menurunkan prevalensi stunting dan wasting masing-masing menjadi 14% dan 7% di tahun 2024. Sasaran pokok lainnya adalah 1) Prevalensi Ibu Hamil Kurang energi Kronik; 2) Presentase Kabupaten/Kota yang Melaksanakan Surveilans Gizi; 3) Presentase Puskesmas Mampu Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita; 4) Presentase Bayi Usia Kurang dari 6 Bulan Mendapatkan ASI Eksklusif; 5) Presentase Balita Mendapat Suplementasi Gizi Mikro.

Untuk mencapai sasaran tersebut di atas, Rencana Stategis (Renstra) Kementrian Kesehatan 2015-2019 telah menetapkan 4 (empat) indikator kinerja kegiatan (IKK) pembinaan gizi masyarakat yang harus dicapai yaitu;1) Prevalensi Ibu Hamil Kurang Energi Kronik; 2) Presentase Kabupaten/Kota yang Melaksanakan Surveilans Gizi; 3) Presentase Puskesmas Mampu Tata Laksana Gizi Buruk pada Balita; 4) Presentase Bayi Usia Kurang dari 6 Bulan Mendapatkan ASI Eksklusif.

Agar indikator RENSTRA terseut tercapai, perlu disusun kebijakan dan strategi operasional serta kegiatan yang spesifik dan terukur setiap tahun di setiap tingkat baik di pusat maupun daerah. Rencana aksi pembinaan gizi masyarakat disusun sebagai acuan setiap pemangku kepentingan, untuk menyusun perencanaan, mengkoordinasikan dan penilaian pelaksanaan pembinaan gizi secara berkesinambungan.

Situasi Gizi Masyarakat


Masalah pangan dan gizi merupakan masalah yang multidimensi, dipengaruhi oleh banyak faktor seperti: ekonomi, pendidikan, sosial udaya, pertanian, kesehatan dan lain-lain. Data yang dikembangkan oleh UNICEF 1998 menunjukkan krisis ekonomi, politik dan sosial merupakan akar permasalahan kurang gizi, sedangkan penyebab langsungnya adalah ketidakseimbangan antara asupan makanan (food intake) yang berkaitan erat dengan penyakit infeksi. Kekurangan inti makanan membuat daya tahan tubuh sangat lemah, sehingga memudahkan seseorang terkena penyakit infeksi karena iklim tropis, sanitasi lingkungan yang sangat buruk, dan akhirnya terjadilah kurang gizi.

Terjadinya masalah gizi ini terkait dengan rendahnya aspek sumber daya manusia (SDM) suatu negara. Makna SDM sangat luas yaitu menyangkut semua aspek manusia mulai dari kesehatan, gizi, pendidikan, agama, ekonomi, politik, HAM, budaya, adat-istiadat, lingkungan dsb. SDM diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau HDI.

Hasil riset nasional terakhir menun jukkan adanya perbaikan beberapa indikator gizi, namun demikian Indonesia masih termasuk negara yang mengalami masalah beban gizi ganda (double burden of malnutrition/DBM) karena tingginya prevalensi kurang gizi dan kelebihan gizi pada saat yang bersamaan. Beban ganda gizi berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Dampak yang paling uruk dan memiliki konsekuensi jangka panjang jika masalah gizi tersebut terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan sampai anak berusia 2 tahun dan masa remaja.

Hasil Riskesdas menunjukkan bahwa 30.8% balita Indonesia mengalami stunting dan sekitar 10.2% baliita mengalami gizi kurang (wasting). Anak-anak yang mengalami masalah gizi terseut memiliki resiko 11.6 kali lebih tinggi untuk mengalami kematian dibanding anak-anak yang memiliki status gizi baik. Pun jika anak-anak dengan masalah gizi tersebut mampu bertahan tetapi akan berisiko untuk mengalami masalah pertumbuhan, perkembangan dan masalah kesehatan lainny di sepanjang tahap kehidupannya.

Selain itu masalah kekurangan zat gizi mikro masih mendominasi permasalah gizi di Indonesia yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya prevalensi anemia pada ibu hamil dari 37.1% pada tahun 2013 menjadi 48.9% pada tahun 2018. Ibu hamil yang mengalami anemia beresiko tinggi untuk melahirkan bayi premature, bayi dengan berat lahir rendah juga mengalami perdarahan pada saat melahirkan bahkan dapat mengakibatkan kematian. Sementara disisi lain, masalah gizi lebih dan obesitas pada usia dewasa juga meningkat scara signifikan dari 15% di tahun 2013 menjadi 22% di tahun 2018 (Riskesdas,2018).

Remaja adalah periode sensitif kedua untuk pertumuhan fisik yag cukup pesat. Pada fase ini juga terjadi perubahan psikososial dan emosional yang cukup mendalam serta tercapainya kapasitas intelektual dan kemampuan kognitif. Kelompok usia remaja sangat rentan untuk mengalami masalah gizi kurang maupun gizi lebih. Diperkirakan hampir sepertiga remaja puteri Indonesia akan memasuki fase kehamilan dalam keadaan kurang gizi atau sebagai ibu hamil beresiko tinggi karena kelebihan berat badan (overweight). Riskesdas 2018 melaprkan bahwa overweght pada kelompok umur 16-18 tahun meningkat cukup tajam dari 1.4% tahun 2010 menjadi 7.3% tahun 2013.

Terdapat 3 faktor penyebab tidak langsung terjadinya masalah beban ganda gizi di Indonesia (double burden of malnutrition):

Pertama, asupan/konsumsi makanan yang tidak adekuat. Hampir setengah dari masyarakat Indonesia (45.7%) menkonsumsi energi kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan, dan sekitar 36,1% masyarakat mengkonsumsi protein kurang dari 80% AKG. Riskesdas 2018 menemukan bahwa 93.5% penduduk usia >10 tahun mengkonsumsi sayur dan buah kurang dari 5 porsi per hari. Pada saat yang sama, jumlah penduduk yang mengkonsumsi makanan siap saji dan minuman berpemanis semakin meningkat dari waktu ke waktu. Sehingga konsumsi masyarakat terhadap gula, garam dan lemak meningkat sekitar 30% dari yang direkomendasikan oleh WHO. Rendahnya akses dan ketersediaan makanan yang sehat adalah faktor utama dari kerawanan pangan di tingkat rumah tangga. Sebaliknya, pengeluaran untuk makanan kemasan dan minuman yang tinggi gula garam dan lemak, meningkat sekitar kali lioat dalam kurun waktu 2007-2017. Kondisi ini yang menyebabkan meningkatnya prevalensi overweight dan obesitas sampai lima kali lipat lebih tinggi dari target RPJMN 2015-2019.

Kedua, terkait dengan pola penyakit, akses ke fasilitas pelayanan kesehatan, akses air bersih dan sanitasi. Prevalensi penyakit menular masih cukup tinggi dan sangat terkait dengan masalah gizi, terutama gizi kurang. Penyakit tidak menular menigkat sebagai akibat dari naiknya prevalensi obesitas yang menambah beban sistem pelayanan kesehatan.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)