Oleh: Yenni Sarinah, S.Pd

Oknum Polisi di Riau Terlibat Peredaran Narkoba, Apa yang Salah?

Admin
839 view
Oknum Polisi di Riau Terlibat Peredaran Narkoba, Apa yang Salah?

DATARIAU.COM - Alih-alih diberantas, sederet oknum Polisi di Riau malah terlibat peredaran narkoba. Tidak saja oknum Polisi inisial Aipda EY dari Polres Siak di Dumai, Riau. Sederet oknum Kompol YC yang tertangkap CCTV sedang mengkonsumsi sabu di mobil di Jalan Bintara Pekanbaru pada 21 April 2022 juga turut ditangkap. Juga oknum polisi Kompol Z, seorang mantan Kapolsek Siak Hulu, Kabupaten Kampar juga turut tersandung karena membawa 1 kilogram sabu di Jalan Soekarno-Hatta Pekanbaru. Begitu juga sederet nama lainnya, Kompol IZ yang pada November 2020 membawa 16 kilogram sabu, padahal ia adalah perwira menengah di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau. Apa yang salah?

Seorang oknum anggota Polres Siak baru-baru ini ditahan karena keterlibatannya dalam peredaran 50 kilogram sabu pada 8 Juli 2022 lalu. Oknum Polres Siak ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) RI di pelataran parkir sebuah hotel di Jalan Sudirman, Kota Dumai. (riauonline.co.id, 11/07/2022).

Tidak lagi bisa dipungkiri, bahwa Indonesia adalah surganya peredaran narkoba. Terbukti hingga tahun ini masalah narkoba, jangankan berkurang, justru meluas hingga menjerat oknum yang seharusnya memberantas narkoba itu sendiri. Upaya memberantas pengedaran narkotika terlihat begitu sulit.

Apa yang salah?


Disadari atau tidak, dengan pengabdosian sistem Kapitalisme beserta anak turunannya liberalisme dan sekulerisme telah menjerumuskan sang penjaga peradaban Indonesia yang seharusnya hadir sebagai sosok yang ditiru malah menjadi sosok yang diburu BNN RI.

Dalam cara pandang kapitalisme, berbagai jenis narkotika adalah ladang yang membawa keuntungan baik bagi pengusaha maupun penguasa, terlepas dari halal maupun haram, dunia kapitalis dengan asas manfaatnya, beriringan dengan liberalismenya yang menstimulus setiap individu hidup bebas tanpa aturan sehingga lahir budaya hedon pragmatis. Dan diperparah lagi dengan hadirnya asas sekulerisme yang secara halus telah menyerang masif sendi-sendi kehidupan masyarakat menjadikan halal dan haram terabaikan.

Dalam cara pandang kapitalisme, hukum diberlakukan sesuka hati. Dengan rakyat kecil, tajam membunuh. Sedangkan dengan oknum aparat dan oknum pemerintah yang berbuat salah, justru masif negosiasi. Jelas, sistem kapitalisme tak mampu membuat jera pelaku (baik pemakai, pengedar, maupun bandar). Ini berbeda sekali dengan sistem Islam, aturan yang mengikat setiap individu jelas, sehingga mampu melindungi generasi bangsa dari dampak buruk penyalahgunaan narkotika.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)