PEKANBARU, datariau.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi salah satu ancaman serius di Provinsi Riau. Memasuki periode cuaca yang lebih kering, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api, khususnya di kawasan lahan gambut dan wilayah yang memiliki vegetasi kering.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, sepanjang Januari hingga Agustus 2026 tercatat 10.514 hotspot di wilayah Riau. Dari jumlah tersebut, sebanyak 521 titik teridentifikasi menjadi titik kebakaran dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 16.277,50 hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat. Penanganan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi juga melalui berbagai upaya pencegahan dan pemantauan sejak dini.
Cuaca Kering Tingkatkan Risiko Kebakaran
Faktor cuaca menjadi salah satu hal yang dapat memperbesar risiko terjadinya karhutla. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi yang kering dapat membuat rumput, semak, dedaunan dan material lainnya lebih mudah terbakar.
Angin juga dapat membuat api menyebar lebih cepat. Kondisi tersebut menjadi semakin berbahaya apabila kebakaran terjadi di kawasan gambut karena api dapat menjalar di bawah permukaan dan sulit dipadamkan.
Karena itu, masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan hutan dan lahan diminta lebih berhati-hati ketika menggunakan api, terutama saat kondisi lingkungan sedang kering.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Salah satu langkah penting dalam mencegah karhutla adalah menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Api yang awalnya terlihat kecil dapat dengan mudah menyebar apabila kondisi lahan kering dan angin cukup kuat.
Masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk membantu mencegah karhutla, di antaranya:
- Tidak membuka lahan dengan cara membakar.
- Tidak membuang puntung rokok sembarangan di kawasan yang memiliki banyak vegetasi kering.
- Memastikan api benar-benar padam setelah melakukan kegiatan yang menggunakan api.
- Tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
- Segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api kepada aparat maupun petugas terkait.
- Ikut menjaga lingkungan sekitar agar tidak terdapat bahan mudah terbakar yang dapat memperbesar risiko kebakaran.
Pencegahan Membutuhkan Peran Bersama
Penanganan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas pemadam. Masyarakat memiliki peran penting karena banyak kebakaran dapat dicegah apabila potensi api diketahui dan dilaporkan sejak awal.
Pemerintah melalui berbagai instansi terus melakukan pemantauan titik panas, patroli, pemadaman, serta upaya pencegahan lainnya. BMKG juga melakukan pemantauan kondisi cuaca dan potensi karhutla untuk membantu pemerintah dalam menentukan langkah antisipasi.
Selain merusak hutan dan lahan, karhutla dapat menghasilkan asap yang menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat. Kebakaran juga dapat memberikan dampak terhadap lingkungan serta kehidupan sosial dan ekonomi warga.
Oleh karena itu, kewaspadaan perlu dilakukan bersama. Dengan tidak membakar lahan, menggunakan api secara bertanggung jawab, serta segera melaporkan titik api, masyarakat dapat ikut membantu mencegah karhutla agar tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.***
*) Penulis merupakan mahasiswa Semester 3 Prodi Sastra Inggris Universitas UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan BPBD Provinsi Riau.
Catatan: Angka 10.514 hotspot dan 16.277,50 hektare merupakan data BPBD Riau periode Januari-Agustus 2026.