DATARIAU.COM - Jika DNA adalah molekul yang membawa sifat genetika yang diwariskan terhadap generasi selanjutnya, maka kebakaran hutan dari masa ke masa memiliki DNA identik yang menjadi alasan mengapa kejadian tersebut terulang kembali. DNA itu adalah keserakahan manusia yang membabi buta mengejar insentif ekonomi yang tak ada ujungnya dalam sistem kapitalisme.
Fakta tersebut nyata tersingkap pada kondisi paru-paru dunia saat ini yang tengah gawat darurat. Setelah hutan Indonesia terbakar dalam periode Agustus hingga Oktober 2026 kini disusul dengan kebakaran hutan Amazon di Brazil sejak Senin 12 Oktober 2026. Luasan areal lahan hutan Amazon yang terbakar mencapai lebih dari 4 juta hektar sementara Indonesia kehilangan hampir 900.000 hektar luasan hutan akumulatif hingga Oktober 2026. Luasan terbakar di Amazon memang lebih luas, namun kebakaran hutan Indonesia menyumbangkan emisi karbon 166,14 juta ton karbon sejak 1 Januari hingga Oktober 2026, tertinggi sejak 2020, karena yang terbakar adalah hutan gambut.
Faktor alam berupa El Nino yang berkepanjangan sering dituding sebagai penyebab terjadinya kebakaran hutan ini namun faktor alam ini hanya bertindak menyediakan bensin berupa ranting-ranting yang kering dan rapuh. Sementara itu hutan hujan tropis yang basah dan lembab di Amazon hampir mustahil terbakar sendiri tanpa pemantik. Sedangkan hutan gambut di Indonesia memiliki lapisan spons air yang sangat dalam dan basah mustahil kering terbakar jika tidak dikeringkan secara sistematis melalui pembuatan kanal-kanal pengering air di kawasan hutan gambut.
Menteri Lingkungan Hidup Brazil Joao Paulo Capobianco baru saja melakukan tinjauan udara dan menemukan fakta mengejutkan, titik-titik api yang melahap kawasan hutan lindung di negara bagian Amazonas dan Para membentuk pola geometris yang rapi. Di dalam ekologi kehutanan, api alami akibat petir menyebar secara acak mengikuti arah angin. Pola geometris yang kotak atau lurus membuktikan bahwa api tersebut sengaja dinyalakan oleh manusia di sepanjang garis batas lahan yang ingin mereka kuasai secara ilegal (www.kompastv.com, 16/10/2026).
Mengapa mereka membakarnya jawabannya kembali pada kerakusan komersial investigasi otoritas lingkungan berhasil ICM bio menunjukkan bahwa pembakaran ilegal ini masih dilakukan untuk melakukan deforestasi instan tujuannya adalah menyulap paru-paru dunia menjadi padang rumput untuk penggembalaan sapi (cattle ranching) dan ekspansi lahan agrobisnis pertanian skala besar dengan biaya semurah mungkin (wsls.com, 15/10/2026).
Ada anomali yang sangat kuat pada bulan ini titik berdasarkan laporan Kompas TV jumlah titik-titik api di Amazon tiba-tiba melonjak hingga 3 kali lipat naik 260% sejak tanggal 4 Oktober 2026. Tanggal tersebut bertepatan persis dengan dimulainya putaran pertama pemilihan presiden nasional Brazil antara petahana Lula da Silva dan kubu oposisi Flavio Bolsonaro.
Para pelaku pembakaran liar sengaja memanfaatkan momen transisi dan kesibukan politik ini. Mereka tahu fokus aparat keamanan dan penegak hukum sedang terpecah untuk mengamankan pemilu. Ini menunjukkan aspek kerakusan yang sangat taktis dan manipulatif: mengeksploitasi kelengahan negara demi mencuri lahan negara.
Para skeptis mungkin akan berargumen bahwa Amazon terbakar karena faktor alam mengingat saat ini sedang terjadi fenomena iklim super El Nino yang memicu kekeringan ekstrem dan suhu panas di Amerika Selatan titik namun, di sinilah letak poin krusialnya, hutan Amazon adalah hutan hujan tropis yang secara alami sangat basah dan lembab sehingga hampir mustahil terbakar sendiri tanpa pemantik. Tanpa adanya kesengajaan manusia yang membakar lahan untuk korporasi atau peternakan. Sekring apa pun El Nino Mega kebakaran Amazon yang sampai membuat ibukota Manaus diselimuti asap pekat dan sekolah-sekolah diliburkan pada Oktober 2026 ini tidak akan terjadi separah sekarang (Reuters.com, 14/10/2026).
Kembali ke kasus kebakaran dalam negeri, analisis Green peace menunjukkan dari 6811. Sumber asap yang teridentifikasi pada 8 Agustus sampai 1 Oktober 2026 terdapat 970 titik sumber asap berada di dalam 120 konsesi PBPH (Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan) dan 980 titik berada dalam 233 konsesi perkebunan kelapa sawit. Sementara sebanyak 3.557 titik lainnya berada dalam 141 KHG (Kawasan Hidrologis Gambut), sementara 2719 titik ditemukan pada areal yang pernah terbakar pada 2015-2023 (sumber: Lembar fakta kebakaran hutan dan lahan Indonesia 2026 oleh Greenpeace dan Pantau Gambut).
Jika karakteristik api buta arah, dituntun angin, dan tak punya memori, lantas mengapa ribuan titik api yang sama mengulang histori sejak 2015, 2023, dan kini 2026, dan bukan terbakar random seperti musibah kebakaran pada galibnya?
Kebakaran hutan di Amazon pada tahun 2019 juga merupakan salah satu contoh kasus paling nyata dari kebakaran hutan masif yang sengaja dipicu oleh aktivitas manusia untuk pembukaan lahan. Data dari Institut Nasional Penelitian Antariksa Brasil (INPE) mencatat lebih dari 72.000 titik api antara Januari hingga Agustus 2019 yang dilakukan untuk tujuan ekspansi industri peternakan sapi dan agribisnis, serta disebabkan juga oleh faktor pelemahan regulasi lingkungan di bawah pemerintahan presiden Brazil kala itu, Jair Bolsonaro, yaitu memberi 'lampu hijau' tidak resmi bagi para pelaku pembakaran ilegal karena lemahnya penegakan hukum.
DNA identik dari berbagai kasus kebakaran hutan menunjukkan bahwa kerakusan manusia yang dipelihara oleh sistem ekonomi kapitalistik menganggap bahwa keuntungan atau insentif ekonomi berada di atas segalanya bahkan bila harus mengorbankan kepentingan makhluk hidup.
Siapakah yang diuntungkan? Tentu segelintir elite atau korporasi hitam yang menghitung proyeksi keuntungan dinding neraca keuangan mereka di atas tanah yang masih berasap. Di sisi lain, masyarakat adat, satwa liar dan warga kota menderita ISPA akibat kabut asap. Baik di Indonesia maupun Brazil, penguasa berwenang berseloroh ringan miskin empati, bahwa ini adalah bencana alam yang harus diterima dan pasti reda dengan sendirinya.
Di sinilah kita sadari bahwa perbedaan cara pandang atau paradigma yang dibentuk oleh sebuah sistem memberikan dampak vital yang sangat berbeda. Sudah terlalu lama kita membiarkan ekonomi kita dipimpin oleh sistem kapitalisme dan tidak memberikan kesempatan bagi sistem lain untuk menggantikan. Masyarakat masih sangat naif untuk mengakui bahwa kapitalisme dominan merusak dan rakus tanpa batas, sementara hukum buatan manusia tidak bisa diandalkan untuk memberikan keadilan yang hakiki bagi masyarakat, makhluk hidup dan ekosistem yang ada.
Hanya Islam satu satunya sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan sistem kehidupan yang memiliki tatanan sempurna bagi keseimbangan kehidupan manusia, satwa, tumbuhan, bahkan ekosistem, karena sistem ini berasal dari Yang Maha Kuasa. "Barangsiapa yang memotong pohon bidara, maka Allah akan menjungkirbalikkan kepalanya ke dalam neraka" (HR. Abu Dawud). Jika menebang sebuah pohon tanpa hak saja dilarang, apalagi menginisiasi pembakaran hutan. Bila saat ini sanksi mustahil dijatuhkan karena korporasi berkoalisi dengan penguasa dalam oligarki kapitalisme, maka dalam sistem Islam sanksi tegas berupa ta'zir dari Khalifah akan dijatuhkan sesuai dengan pembuktian dan akibat kerusakan yang ditimbulkannya.
Kasus kebakaran dua paru paru dunia ini, memberikan pesan global: jangan biarkan DNA kerakusan dan keserakahan ini tumbuh berkembang di masa depan dan menebarkan kerusakan lingkungan yang lebih parah tanpa mengindahkan kemanusiaan dan masa depan ekosistem hutan dunia.***
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan artikel opini penulis. Seluruh pandangan, analisis, dan kesimpulan di dalamnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi DATARIAU.COM.