DATARIAU.COM - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang sangat cepat. Saat ini, AI bukan hanya mampu menjawab pertanyaan atau membuat gambar, tetapi juga dapat menulis kode dan membantu penelitian untuk mengembangkan AI yang lebih canggih.
Kondisi ini membuat para ilmuwan mengingatkan kemungkinan terjadinya “ledakan kecerdasan” (intelligence explosion), yaitu keadaan ketika AI mampu membantu menciptakan AI yang semakin pintar sehingga perkembangannya berlangsung sangat cepat.
Dalam sebuah riset yang melibatkan 22 peneliti AI, termasuk Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, para peneliti memperingatkan sejumlah risiko dari perkembangan AI yang terlalu cepat. Risikonya antara lain ancaman siber dan biologis, berkurangnya kendali manusia, serta meningkatnya risiko konflik antarnegara. Meski demikian, mereka juga menegaskan bahwa skenario tersebut belum tentu terjadi.
Di sisi lain, AI memang memberikan banyak manfaat. Dalam bidang kesehatan, AI dapat membantu menganalisis data dan mendukung pelayanan medis. Dalam bidang keuangan, AI dapat membantu menganalisis risiko dan mendukung pengambilan keputusan. Namun, teknologi ini juga dapat disalahgunakan.
DetikINET pada 1 Oktober 2026 memberitakan kekhawatiran terhadap agen AI yang semakin mampu bekerja secara mandiri dan mengeksploitasi kelemahan keamanan.
Sementara itu, teknologi deepfake, yaitu gambar, video, atau suara palsu yang dibuat seolah-olah nyata, juga dapat menjadi alat manipulasi informasi jika disalahgunakan (MetroTV, 21/04/2026).
Perkembangan AI juga bergerak lebih cepat daripada kemampuan pemerintah dalam membuat aturan. Pemerintah di berbagai negara menghadapi tantangan untuk mengikuti perkembangan teknologi AI yang begitu pesat (MetroTV, 28/09/2026).
Kecerdasan Tanpa Arah, Ancaman bagi Manusia
Dari fakta tersebut, terlihat bahwa AI membawa harapan sekaligus kekhawatiran. AI dapat menjadi alat yang membantu manusia, tetapi juga dapat digunakan untuk memperbesar kerusakan.
AI dapat diibaratkan seperti kendaraan dengan mesin yang sangat kuat. Semakin kuat mesinnya, semakin cepat kendaraan melaju. Namun, kendaraan yang semakin cepat juga membutuhkan rem, kendali, dan arah yang semakin baik.
Jika mesinnya terus diperkuat, tetapi sistem kendalinya tidak diperbaiki, risikonya semakin besar. Begitu pula dengan AI.
Persoalannya bukan hanya apakah manusia mampu membuat AI semakin pintar. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah manusia mampu mengendalikan dan menentukan arah penggunaannya?
AI juga tidak lahir begitu saja. AI dibuat melalui data, algoritma, instruksi, dan tujuan yang ditentukan manusia. Artinya, kepentingan dan nilai manusia dapat memengaruhi cara AI bekerja.
Contohnya adalah deepfake. Teknologi yang sebenarnya dapat digunakan untuk kebutuhan kreatif dapat berubah menjadi alat untuk menyebarkan informasi palsu dan memanipulasi masyarakat.
Begitu pula dengan agen AI yang mampu menemukan dan mengeksploitasi kelemahan keamanan. Teknologi yang awalnya dibuat untuk membantu pekerjaan dapat menimbulkan masalah jika digunakan tanpa kendali yang tepat.
Masalahnya menjadi lebih besar ketika AI masuk dalam persaingan ekonomi dan keamanan antarnegara. AI tidak lagi sekadar persoalan teknologi, tetapi juga dapat menjadi alat kekuasaan. Negara dan perusahaan berlomba menjadi yang terdepan karena tidak ingin tertinggal.
Di sinilah persoalan utamanya, manusia mampu menciptakan teknologi yang sangat cerdas, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan yang sama besar dalam menentukan bagaimana teknologi itu digunakan.
Karena itu, mengandalkan aturan teknis saja tidak cukup. Teknologi dapat berkembang lebih cepat daripada aturan. Ketika aturan belum mampu mengikuti perkembangan teknologi, akan selalu ada celah yang dapat dimanfaatkan.
Ibaratnya, manusia sedang membuat kapal yang semakin cepat, tetapi belum selesai menentukan ke mana kapal itu akan berlayar. Kecepatan tanpa arah bukanlah kemajuan yang aman.
Maka, yang dibutuhkan bukan hanya AI yang semakin cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki standar benar dan salah yang kuat untuk mengarahkan kecerdasan tersebut.
Islam Mengembangkan Teknologi dan Mengarahkan Pemanfaatannya
Islam tidak memandang ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Allah Subahanahu wa ta'ala memberikan manusia akal agar dapat berpikir, meneliti, memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan menjalankan amanah sebagai khalifah fi al-ardh.
Sejarah menunjukkan bahwa umat Islam pernah menjadi pelopor perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pada masa Abbasiyah, Baghdad berkembang menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia. Baitul Hikmah menjadi salah satu simbol berkembangnya kegiatan penerjemahan, penelitian, dan pengembangan ilmu. Dari tradisi keilmuan tersebut lahirlah banyak ilmuwan besar dalam berbagai bidang.
Salah satu ilmuwan yang menarik jika dikaitkan dengan teknologi masa kini adalah Al-Khwarizmi. Kontribusinya dalam matematika dan metode perhitungan menjadi salah satu dasar penting bagi perkembangan ilmu komputer. Bahkan, istilah algorithm atau algoritma berkaitan dengan nama Al-Khwarizmi.
Selain itu, ada Al-Jazari, seorang ilmuwan yang mengembangkan berbagai perangkat mekanis otomatis. Dalam karya yang diselesaikannya pada 1206, ia menjelaskan sekitar 50 perangkat, termasuk pompa air, jam air, dan berbagai mekanisme otomatis.
Hal ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi bukanlah sesuatu yang asing dalam sejarah peradaban Islam.
Dalam bidang kesehatan, peradaban Islam juga memiliki tradisi keilmuan yang kuat. Rumah sakit atau bimaristan berkembang sebagai tempat pelayanan kesehatan sekaligus pendidikan kedokteran.
Artinya, perkembangan ilmu dalam peradaban Islam tidak hanya diarahkan untuk mengejar kecanggihan, tetapi juga memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Dari sini dapat dipahami bahwa Islam tidak menghambat perkembangan teknologi. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan dan untuk tujuan apa.
Dalam pandangan Islam, teknologi sebagai benda pada dasarnya dapat bersifat netral. Namun, ketika teknologi digunakan untuk mewujudkan tujuan atau kepentingan tertentu, penggunaannya perlu dilihat dari standar Islam.
AI adalah hasil perkembangan teknologi manusia. AI bekerja dengan mengolah data, informasi, pola, dan instruksi yang berasal dari manusia. Karena itu, manusia yang membuat dan menggunakannya tetap membutuhkan standar untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Jika teknologi dikembangkan dan digunakan oleh manusia yang memiliki akidah yang kokoh serta tunduk kepada syariat, AI dapat diarahkan untuk kemaslahatan. Misalnya, membantu pelayanan kesehatan, mempercepat penelitian, mendukung pendidikan, dan memudahkan berbagai urusan manusia yang dibenarkan syariat.
Sebaliknya, jika teknologi hanya diarahkan oleh kepentingan keuntungan, kekuasaan, atau persaingan tanpa batas moral yang jelas, teknologi dapat digunakan untuk manipulasi, penindasan, pengawasan yang berlebihan, dan berbagai bentuk kerusakan.
Karena itu, Islam memiliki perspektif yang berbeda dalam menghadapi perkembangan AI. Islam tidak mengajak umat untuk menolak teknologinya, tetapi memastikan bahwa teknologi tetap berada dalam arah yang benar.