Sistem Sejahtera, Rakyat Bahagia

685 view
Sistem Sejahtera, Rakyat Bahagia
Foto: Ist
Sri Lestari ST (Wirausaha dan Pemerhati Sosial).

DATARIAU.COM - Meskipun 25 tahun telah berlalu, kenangan yang menyedihkan dan menggores luka yang sangat dalam masih tetap dikenang. Ditengah pandemi virus corona, umat muslim Bosnia menandai peringatan 25 tahun pembantaian Srebrenica pada Sabtu (11/7) waktu setempat. Peringatan tahun ini sekaligus menjadi upacara penguburan sembilan korban yang diidentifikasi selama setahun terakhir.

Pada tanggal 11 Juli 1995, unit-unit pasukan Serbia Bosnia merebut kota Srebrenica di Bosnia-Herzegovina. Dalam waktu kurang dari dua minggu, pasukan mereka secara sistematis membunuh lebih dari 8.000 Bosniaks (umat Muslim Bosnia). Ini merupakan pembunuhan massal terburuk di tanah Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua.

Selama Perang Bosnia, Srebrenica dikepung oleh pasukan Serbia antara 1992 dan 1995. Saat itu, milisi Serbia mencoba merebut wilayah dari Muslim Bosnia dan Kroasia untuk membentuk negara mereka sendiri.

Pada tahun 1993 Dewan Keamanan PBB telah menyatakan Srebrenica sebagai "daerah aman". Namun, pasukan Serbia yang dipimpin oleh Jenderal Ratko Mladic yang sekarang menghadapi tuduhan genosida di Den Haag menyerbu zona PBB, meskipun kehadiran sekitar 450 Belanda tentara yang ditugaskan untuk melindungi warga sipil yang tidak bersalah sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB.

Pasukan Belanda sebagai pelindung Srebrenica gagal bertindak ketika pasukan Serbia menduduki daerah itu, hingga menewaskan sekitar 2.000 pria dan anak laki-laki. Sekitar 15 ribu pria Srebrenica melarikan diri ke pegunungan di sekitarnya tetapi pasukan Serbia memburu dan membantai 6.000 dari mereka di hutan.

Sungguh miris dan menggores hati melihat korban pembunuhan yang mencapai 8.000 korban. Seolah nyawa seorang muslim tidak berharga. Penjajah tidak segan mengorbankan ribuan nyawa umat muslim. Padahal Srebrenica saat itu mendapat perlindungan dari PBB, akan tetapi korban masih banyak bergelimpangan. Inilah potret buram dan suram yang dihadapi umat muslim. Tragedi Srebrenica dan perang Bosnia harus menjadi pelajaran penting bagi generasi muslim.

Hadirnya kapitalis yang diemban oleh sebagian besar negara di dunia sepertinya tidak mampu memberikan keamanan dan kesejahteraan bagi umat muslim. Nyatanya, pembantaian terhadap umat muslim tidak hanya terjadi di Srebrenica tetapi masih terus terjadi di belahan dunia. Seperti pembantaian umat muslim di Palestina, Rohingya, Uighur, India dan negara lainnya. 

Selain itu, kehadiran PBB sebagai organisasi internasional yang bertujuan menjaga perdamaian, keamanan dunia, memajukan dan mendorong hubungan persaudaraan antarbangsa melalui penghormatan hak asasi manusia seolah tidak berperan. Nyatanya umat muslim saat ini masih saja terus dibantai. Begitu juga di Srebrenica, meskipun umat muslim sudah mendapat perlindungan dari PBB namun korban terus bertambah.

Sebenarnya, apa yang menjadi permasalahan mendasar dari pembantaian umat muslim?

Kapitalis yang diemban oleh sebagian besar negara saat ini adalah sebuah sistem yang memiliki asas sekulerisme. Sekulerisme adalah pemisahan agama dari kehidupan. Yang bermakna, bahwa segala sesuatu aturan kehidupan diatur oleh manusia dan peran pencipta hanya menciptakan saja. Dari azas yang seperti ini sangat berpeluang bersikap tidak adil, keberpihakan dan manfaat.

Hal demikian tampak pada tragedi Srebrenica bahwa PBB memiliki sikap ketidak adilan terhadap negara berpenduduk muslim. Faktanya, perlindungan PBB terhadap Srebrenica tidak mampu untuk memberi perlindungan. Fakta lainnya, saat ini masih terus terjadi pembantaian terhadap umat muslim. Dari sini tampak bahwa PBB tak ubahnya alat legitimasi kebengisan segelintir penjahat peradaban untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim. 

Islam memiliki pandangan dan aturan dalam melindungi nyawa manusia. Islam  sebagai agama Ilahi tidak hanya mengatur urusan ibadah mahdah saja, namun Islam juga merupakan sistem kehidupan. Sistem Islam berlandaskan kepada akidah Islam. Memiliki makna berkeyakinan kepada Allah SWT. Manusia tidak diberikan kebebasan berbuat dan menentukan aturan kehidupan. Maka dari azas ini tidak akan berpeluang keberpihakan, kebebasan dan manfaat karena aturan kehidupan berasal dari Ilahi. 

Sistem Islam pada masa lalu pernah memimpin dunia selama 13 abad. Dalam kepemimpinannya Islam sangat melindungi darah seorang manusia tidak hanya muslim namun darah non muslim juga dilindungi.

Hal demikian tampak pada sikap yang dilakukan para penguasa muslim dalam membela kehormatan dan darah kaum Muslim. Seperti yang dilakukan Sultan Al-Hajib Al-Manshur (971-1002 M). Ia dikenal oleh Barat sebagai penguasa muslim dan jenderal di wilayah Andalusia. Ia pernah mengancam penguasa Kerajaan Navarre, salah satu kerajaan yang berada di wilayah Spanyol yang tunduk pada negara Islam, karena diketahui menyekap tiga orang muslimah di salah satu gereja di wilayah mereka. Sultan Al-Hajib Al-Manshur segera mengirim pasukan berjumlah besar untuk menghukum Kerajaan Navarre. Penguasa Navarre ketakutan. Dia segera mengirim surat permintaan maaf, lalu melepaskan tiga muslimah tersebut dan menyerahkan mereka kepada kaum muslim. Bahkan dia berjanji akan menghancurkan gereja tersebut.

Begitu jelas bahwa umat muslim tidak bisa melindungi diri mereka sendiri. Harus ada penguasa yang melindungi mereka. Demikianlah sebagaimana pesan Nabi SAW:

Sungguh Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai; orang-orang akan berperang di belakang dia dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasa?i, Abu Dawud dan Ahmad).

Islam juga mengatur untuk berbuat adil terhadap non muslim. Sebagaimana pernah dicontohkan Rasulullah SAW, beliau membuat perjanjian dengan Bani Najran yang beragama Nasrani. Salah satu pasal dalam perjanjian itu berbunyi, 

?Kehidupan masyarakat Najran dan sekitarnya, agama mereka, tanah mereka, harta, ternak, dan orang-orang mereka yang hadir atau tidak, suku-suku mereka dan tempat-tempat ibadah mereka berada di bawah perlindungan Allah dan perwalian Nabi-Nya (Muhammad)".

Dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, para Khalifah setelah beliau juga membuat kebijakan-kebijakan yang serupa. Khalifah Umar bin Khathab ketika menundukkan Baitul Maqdis menulis surat sebagai berikut :

"Inilah keputusan Umar, Amirul Mukminin kepada penduduk Illiya. Kami memberi keamanan atas keselamatan mereka, gereja mereka, dan salib-salib mereka. Mereka tidak dipaksa seorangpun dalam menentukan agamanya masing-masing. (Dr. Ali Abdul Wahid Wafi?, 1991, Prinsip Hak Asasi dalam Islam).

Maria Rosa Menocal, seorang peneliti sejarah dan kebudayaan Universitas Pennsylvania, dalam bukunya Surga di Andalusia: Ketika Muslim, Yahudi dan Nasrani Hidup dalam Harmoni (Noura Religi, 2015), melukiskan bagaimana di bawah pemerintahan Dinasti Umayyah yang berkuasa di Andalusia (756-1492 M), tiga agama: Islam, Yahudi dan Nasrani bisa hidup berdampingan dengan damai di bawah penerapan hukum Islam.

Dengan demikian, tidak ada jalan lain untuk mengakhiri pembantaian umat muslim dengan kembali ke sistem yang sejahtera yakni Islam. Ketika sistem dalam suatu negara mampu mensejahterakan umat, maka tidak dipungkiri masyarakat pasti akan hidup bahagia. (*)

Penulis
: Sri Lestari
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)