Oleh: Alfira Khairunnisa

Pembakaran Bendera Tauhid Bentuk Peremehan Tauhid

Ruslan
883 view
Pembakaran Bendera Tauhid Bentuk Peremehan Tauhid
Ilustrasi (Foto: Int)

DATARIAU.COM - Video yang diunggah di youtobe pada Senin (22/10/2018) terkait pembakaran Bendera Tauhid, mendapat reaksi dan kecaman dari berbagai pihak. Mereka nampak sangat menyayangkan aksi yang dilakukan oleh Banser ini.

Ketum GP Ansor membenarkan Banser NU di Garut membakar bendera Tauhid saat peringatan hari santri. (CNN Indonesia)

Video berdurasi 02.05 menit itu, memperlihatkan belasan anggota Banser Garut terlihat membakar bendera hitam dan bertuliskan aksara arab berwarna putih.

Mulanya, ada satu anggota Banser yang membawa bendera berwarna hitam bertuliskan aksara arab yang bertuliskan kalimat tauhid. Kemudian belasan anggota Banser lainnya berkumpul untuk bersama-sama menyulut bendera tersebut dengan api. 

Tidak hanya bendera saja yang dibakar, mereka juga nampak membakar ikat kepala berwarna hitam bertuliskan aksara arab "Laailaahaillallah" sementara itu, ada salah satu dari mereka yang mengibarkan bendera Merah Putih berukuran besar. Disaat api terlihat mulai membesar dan nyaris melalap setengah dari bendera, nampak sejumlah anggota Banser semakin bersemangat menyanyikan Mars NU. Bahkan terlihat beberapa diantaranya turut mengepalkan tangan seirama dengan nada Mars NU yang dinyanyikan.

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nahdlatul Ulama Yaqut Cholil Qoumas mengklaim pembakaran bedera Tauhid merupakan upaya untuk menjaga kalimat tauhid. Seyogyanya jika berupaya untuk menjaga kalimat tauhid sebaiknya diambil dan disimpan saja dan tidak melakukan pembakaran. Sungguh sangat disayangkan. Berbagai pihak menduga bahwa pembakaran Bendera Tauhid ini dilandasi oleh ketidaksenangan kepada Ormas tertentu.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut menegaskan bahwa kalimat tauhid semestinya dimuliakan, dan tindakan membakar bendera bertuliskan kalimat Laailaahaillallah dengan kebencian hukumnya haram.

Ketua MUI Kabupaten Garut KH Sirojul Munir juga menyatakan bahwa kalimat tauhid tak boleh dihinakan. "Harus dimuliakan, tidak boleh dihinakan semacam itu," ungkapnya, (Kiblat.Net, 22/10/2018).

22 Oktober bertepatan dengan hari santri. Berbagai daerah turut merayakan dan mewarnainya dengan berbagai acara.

Seyogyanya acara yang sangat sakral bagi setiap Pondok Pesantren ini bisa menunjukkan bagaimana seharusnya menghormati Bendera Tauhid yang bertuliskan kalimat "Laailaahaillallah", namun sangat disayangkan, dibalik perayaan hari santri tersebut ada sekelompok oknum yang mewarnainya dengan tidak semestinya. Dibelakang acara ada sekelompok oknum yang membakar bendera yang bertuliskan kalimat "Laailaahaillallah" tersebut. Bukankah mereka juga ummat Islam yang harus senantiasa menjaga kalimat Tauhid itu?


Bendera Tauhid Identitas Kaum Muslimin

Sungguh sangat miris dan disayangkan melihat kejadian ini. Pembakaran Bendera Tauhid adalah bentuk peremehan Tauhid. Didalam Islam bendera ini, baik ar-Rayah yang berwarna hitam maupun al-Liwa' yang berwarna putih, sama-sama bertuliskan "Laailaahaillallah" Muhammad Rasulullah" di atasnya. Bendera ini bukan sekadar bendera, tetapi merupakan identitas Islam, Bendera Rasulullah, bendera seluruh kaum Muslimin. Bukan bendera ormas tertentu. Bahkan untuk mempertahankan bendera ini, Ja'far bin Abi Thalib sanggup mengorbankan apapun yang dia miliki hingga gugur sebagai syahid saat Perang Mu'tah.

Sebagai identitas Islam dan kaum Muslimin, bendera ini tidak hanya dikibarkan dan dijaga, tetapi juga dihormati. Bendera ini tidak boleh dinjak, dijadikan bantal, dibawa atau diletakkan di tempat-tempat yang identik dengan penghinaan; seperti dibawa ke kamar mandi, dijadikan serbet, keset dan sejenisnya. Terlebih lagi dibakar.

Dalam ranah Fiqh, jika membakar tulisan yang terkandung di dalamnya ayat-ayat Al-qur'an dan dimaksudkan dalam rangka menjaga agar kalimah tersebut tidak terinjak-injak atau terhinakan dalam keadaan darurat dan sulit menjaganya maka hukumnya makruh.

Seyogyanya jika bentuk penghormatan kepada kalimat Tauhid, akan terlihat dari raut wajah yang penuh ta'dzim. Tidak akan dilakukan dengan sesumbar, angkuh penuh kesombongan.

Rasulullah SAW bersabda: Artinya: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan "la ilaha illallah", dan dia berharap wajah Allah dari ucapannya tersebut," (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Semoga kita bisa lebih menjaga Bendera Tauhid dengan penghormatan yang tinggi dan tidak sedikit pun meremehkannya. Membela kalimat tauhid serta kelak bersama orang-orang yang selalu menjaga tauhidnya sampai berjumpa dengan Allah SWT. Wallahu a'lam bishowab. (*)

Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: datariau.com
Tag: