DATARIAU.COM - Corona, makhluk kecil berdiameter 400-500 mikro meter atau 1400 lebih kecil dari rambut manusia itu masih belum enggan beranjak menjauh. Hal ini terbukti dengan terus menanjaknya kurva pertambahan kasus demi kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Berdasarkan laporan data pada akun Twitter @BNPB_Indonesia, Selasa (7/7/2020) sore, tercatat ada 1.268 kasus baru. Sehingga total kasus virus corona di Indonesia menjadi 66.226 orang. (Tribunternate.com)
Juru Bicara Khusus Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, mengatakan itu dikarenakan masih cukup tingginya penyebaran wabah COVID-19 di sejumlah daerah di Indonesia. (vivanews.com)
Sebenarnya, HAL ini sudah diperkirakan sebelumnya oleh Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra yang menuturkan sikap gegabah pemerintah dalam membuka kembali sembilan sektor ekonomi dan penerapan AKB menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat ihwal pencegahan penyebaran transmisi lokal virus corona. Hermawan berpendapat sejumlah masyarakat pada akhirnya menganggap langkah itu menunjukkan kondisi yang sudah kembali normal seperti sebelum adanya pandemi Covid-19. ?Inilah risiko pembukaan sektor-sektor tersebut, kita sekarang mengalami kenaikan kasus secara konsisten di atas 1.000 per hari. Lonjakan ini terjadi di berbagai wilayah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah yang cukup signifikan.? (Bisnis.com)
Untuk penanganan pengendalian virus corona ini pemerintah tak segan-segan menggelontorkan dana triliunan rupiah. Hanya saja, Besarnya anggaran dana yang digelontorkan pemerintah ternyata tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap penanganan kasus pandemi. Hal ini yang memicu Presiden RI Joko Widodo meluapkan kekesalannya kepada para menteri dalam sidang kabinet 18 Juni 2020 lalu. Sebab dari Rp 75 triliun, baru 1,53% yang tersalurkan.
Menanggapi kemarahan Jokowi, Menkes Terawan langsung menerbitkan sejumlah Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) Nomor HK.01.07/Menkes/278/2020 tentang Pemberian Insentif dan Santunan Kematian bagi Tenaga Kesehatan yang Menangani Covid-19. Aturan ini menggantikan Kepmenkes Nomor Hk.01.07/Menkes/392/2020 yang sudah terbit sejak 27 April 2020.
Salah satu perubahan fundamental yang terjadi adalah birokrasi pencairan insentif tenaga kesehatan. Sebelumnya, dulu proses verifikasi berjenjang sampai dari daerah sampai ke pemerintah pusat. Kini tim verifikator di ebar ke daerah sehingga proses verifikasi cukup di daerah saja.
Saat ini, anggaran kesehatan juga sudah naik menjadi Rp 87,55 triliun. Namun sampai hari, Kementerian Keuangan mencatat serapannya baru 5,12 persen. Trisa berharap, Kepmenkes baru ini bisa mempercepat penyerapan anggaran, seperti yang diinginkan Jokowi. (tempo.co)
Sayangnya, penambahan angka anggaran tersebut tetap tidak memberikan pengaruh berarti. Hal ini dilihat dari lonjakan kasus Covid19 yang terus meninggi mencapai 66.226 orang per 7 juli 2020. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar bagi kita semua ?benarkah pemerintah telah bekerja sepenuh hati mengatasi pandemi dengan anggaran yang tinggi?
Harusnya dari lonjakan kasus corona yang mencapai 1000 kasus perhari ini pemerintah bisa intropeksi diri. Bahwa ini terjadi akibat pelonggaran PSBB dan keputusan new normal life yang tidak tepat. Bukan malah mengalihkan perhatian masyarakat dengan narasi yang disampaikan oleh Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan Kunta Wibawa Dasa Nugraha bahwa kasus positif saat ini memang semakin tinggi karena tes yang semakin banyak, namun rasio kasus sebenarnya sama. (aa.com)
Gagap nya penguasa dalam menangani covid-19 ini menambah daftar panjang permasalahan rakyat yang tidak mampu dipecahkan oleh pemerintah. Hal ini juga membuktikan cacat bawaan sistem kapitalis adalah keniscayaan. Tentu saja, sebab kapitalis adalah sistem lemah buatan manusia yang sudah memang rusak dari akarnya. Darinya lah lahir aturan-aturan yang hanya berpihak pada kolonial pemilik modal serta pemimpin-pemimpin yang berorientasi materialistik. Yang memandang tidak ada yang lebih berharga selain capaian materi meski rakyatnya harus meregang nyawa.
Sungguh, tidak ada sistem yang dapat dijadikan sandaran dan pegangan kecuali Islam. Allah SWT dengan keagungan Nya telah menciptakan manusia sepaket dengan aturannya (syari?at Islam). Aturan inilah yang telah dipraktekkan selama 13 abad lamanya hingga membuahkan peradaban yang gemilang. Sebuah sistem yang memberi kehidupan dan perlindungan terbaik sepanjang masa, rahmat kepada seluruh alam semesta.
Sebagai agama yang komprehensif, Islam memiliki kesempurnaan sebagai agama dan pandangan hidup yang melahirkan peraturan untuk segenap manusia (ideologi). Dalam urusan bernegara, Islam mewajibkan kepada negara untuk senantiasa hadir ditengah-tengah rakyat sebagai pelindung dan perisai dari segala ancaman, baik ancaman dari dalam ataupun luar negara.
Seorang penulis, sejarawan dan filsuf Amerika ?Will Durant? mengungkapkan sebuah fakta terkait kegemilangan yang diciptakan sistem Islam terkait jaminan keamanan dunia dalam bukunya yang berjudul The Story Of Civilization. Ia berkata : ?Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.? (Will Durant " The Story of Civilization)
Fungsi negara sebagai penanggung jawab urusan ummat benar-benar dijalankan dengan penuh kesadaran dari setiap pemimpinnya bahwa mereka adalah ibarat penggembala. Layaknya seorang penggembala, tidak akan pernah membiarkan gembalaannya mati sia-sia akibat sikap lalai ataupun abai. Sebab dia meyakini dengan haqqul yaqin segala tindak tanduknya ketika berkuasa akan Allah SWT mintai pertanggung jawaban.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ?Seorang imam yang berkuasa atas masyarakat bagaikan penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya (rakyatnya).?
Ala kulli haalin kembalilah pada fitrah manusia yang tunduk pada perintah pencipta alam semesta, Allah Azza wa Jalla. Sebab hanya dengan mengikuti dan menerapkan syari?at Nya sajalah kita akan merasakan keberkahan dari langit dan bumi.
??????' ????'? ????'?? ???'?????? ??????? ?????'?????'? ????????'??? ??????'????' ????????? ???? ????'?????? ?????'????'?? ?????????' ????'????? ????????'???????' ????? ??????? ????'???????
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-araf : 96)
Wallahu a?lam bisshawab
Oleh: Misbah Munthe S.Pd, Pemerhati Kebijakan Publik