DATARIAU.COM - Masyarakat Natuna berharap pada keseriusan investasi yang setidaknya sudah ditunjukkan melalui berbagai survei pihak Jepang di Natuna setahun terakhir ini. Investasi itu diharapkan membawa kemajuan di kawasan.
Salah satu sudut pesisir Pulau Bunguran Besar, pulau utama di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (14/10/2017). Kawasan pesisir ini terungkap telah diihuni manusia bahkan sejak era prasejarah, dan menjadi salah satu titik singgah penting dalam jalur perdagangan internasional sejak abad ke-9.
Meski hanya berjarak sekitar empat jam penerbangan dari Fukuoka di Kyushu, dan kurang dari tiga jam terbang dari Hongkong SAR, baru setahun terakhir ini investor Jepang mulai melirik potensi ekonomi Kabupaten Natuna yang menjadi titik paling utara perbatasan laut Indonesia yang berbatasan dengan Malaysia, Vietnam, China, dan Brunei Darussalam.
Pada seminar tentang potensi Natuna bertajuk "Engaging Potential Partners of the Sustainable Development of Indonesia's Outer Island: The Case of Natuna Islands" yang berlangsung di Kantin Diplomasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, di Jakarta, Senin (25/11/2019), belasan pengusaha Jepang hadir dan dengan antusias mengikuti paparan yang disampaikan para pembicara.
Wakil Duta Besar Jepang untuk Republik Indonesia, Keiichi Ono dengan antusias menerangkan potensi Natuna yang telah diteliti pihak Jepang. Agen kerja sama internasional Jepang (JICA) sudah mengadakan penelitian di Natuna. Demikian pula berbagai lembaga lain dengan kordinasi Kedubes Jepang untuk Republik Indonesia telah mengadakan survei potensi maritim dan wisata maritim di Natuna yang dinilai sangat potensial untuk dikembangkan.
Pihak Jepang yang sejak tahun 1970-an akrab berbisnis di Indonesia telah memiliki pengalaman mengelola pulau-pulau kecil di Pasifik sejak selesainya Perang Dunia I ketika Jepang memperoleh mandat dari Liga Bangsa-Bangsa atas sejumlah wilayah eks Jerman di Pasifik. Ketika itu, berbagai perusahaan Jepang mengembangkan beragam potensi bisnis maritim di pulau-pulau wilayah mandat, termasuk juga ke berbagai wilayah di Asia Tenggara.
Wakil Dubes Jepang menerangkan, pihaknya sudah mendukung pembangunan dermaga pelabuhan dan pasar perikanan di Natuna yang menelan dana total lebih dari Rp 200 miliar.
"Jepang membantu mengembangkan industri perikanan dalam hal operasional dan metode perikanan yang efisien, pemrosesan, dan pemasaran produk. Pengintaian ikan dengan teknologi angkasa, pengembangan pariwisata di Natuna juga telah dilakukan bulan April tahun 2019," kata Ono.
Dia menerangkan secara umum ada beberapa lokasi yang dilakukan survei selain di Natuna yakni di Sabang, Jakarta, Moa - Saumlaki di Maluku Tengara Barat Daya, Morotai di Maluku Utara, dan di Biak, Provinsi Papua.
Salah satu fasilitas perikanan yang sudah dibangun adalah dermaga, terminal pelabuhan, dan gudang pendingin (cold storage) untuk mendukung bisnis perikanan.
Bupati Natuna Hamid Rizal dalam kesempatan sama menerangkan, sejak Indonesia merdeka tahun 1945, baru empat tahun terakhir, Kabupaten Natuna dibangun habis-habisan oleh pemerintah pusat.
"Pembangkit listrik untuk cold storage pun baru ada saat ini. Padahal potensi perikanan Natuna begitu besar dan tidak termanfaatkan," kata Hamid Rizal yang berdinas di Natuna sejak tahun 1980-an sebagai Camat.
Jalan lingkar, perluasan bandara, dan berbagai fasilitas dengan saksama dibangun pemerintah pusat di Natuna untuk memancing pertumbuhan. Pemkab pun dengan sigap menyikapi dengan aktif menawarkan potensi Natuna seperti ke Uni Eropa, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Kedutaan Besar Jepang, dan berbagai negara sahabat.
Selama ini produk perikanan Natuna dibeli oleh pengusahan perikanan dari Hong Kong. Para nelayan setempat dibeli hasil tangkapannya oleh pengusaha perikanan asal Hong Hong.
Bupati Natuna menerangkan, seandainya ada ketersediaan listrik dan air bersih, niscaya pabrik perikanan skala besar bisa tumbuh pesat di Kepulauan Natuna.
Secara kultural, masyarakat Natuna sudah terbiasa dengan hidup bertoleransi. Salah satu bukti keakraban warga Natuna adalah bangunan masjid dan kelenteng yang dibangun bersebelahan di Kampung Penagi yang merupakan pusat perekonomian Natuna di masa silam.
Selain itu, penetapan Geo Park Nasional di Natuna tahun 2018 yang kini ditindaklanjuti dengan usulan Geo Park UNESCO turut menambah potensi ekonomi Natuna yang berada di lokasi strategis di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I yang dilewati kapal-kapal minyak dan gas yang bertujuan ke China, Jepang, dan Korea Selatan. Sebaliknya, perairan Natuna juga menjadi lintasan kapal dagang dari tiga negara Asia Timur yang menjadi mesin ekonomi kawasan Asia Timur dan ASEAN dengan jumlah penduduk total 2,35 miliar manusia dari bagian 7 miliar penduduk dunia!
Adapun paparan Wakil Dubes Jepang, Keiichi Ono, menerangkan tentang temuan sejumlah lokasi bangkai kapal yang menarik dijadikan lokasi penyelaman, terumbu karang, Taman Batu Alif bagian dari Geo Park Natuna, dan Desa Penagi. Pihak Jepang menawarkan pelatihan pemandu wisata dan pengembangan lokasi wisata di Natuna.
Dalam kesempatan sama, Direktur Program Bhakti Pendidikan Yayasan Djarum Primadi Serad menerangkan, pentingnya pengembangan sumber daya manusia di Natuna. Serad menerangkan belasan SMK di Kabupaten Kudus yang kini melahirkan ribuan tenaga trampil di berbagai bidang seperti jasa wisata hingga teknologi informasi yang berkarya di mancanegara dan juga karyanya digunakan di berbagai negara maju.
"Jangan batasi potensi para siswa. Anak-anak SMK binaan kami kini sudah banyak yang bekerja di mancanegara. Hidup mereka tidak sebatas Kabupaten Kudus. Kami mengembangkan modul pendidikan yang mengembangkan potensi sebesar-besarnya," kata Serad yang juga bekerjasama dengan Sumitomo, Tokio Marine, dan Marubeni serta berbagai lembaga dari Jepang untuk mengembangkan sumber daya manusia di Kabupaten Kudus. Yayasan Bhakti Pendidikan Djarum menyatakan siap masuk dan membantu pengembangan sumber daya manusia di Natuna.
Sedangkan mewakili Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Direktur Analisa Kebijakan Kemlu Siswo Pramono, mengingatkan nilai strategis Natuna secara ekonomi dan militer. Pengembangan Geo Park Dunia seperti di Pulau Langkawi, Malaysia, dan pengembangan industri perikanan diyakini akan memicu perekonomian di salah satu jalur laut strategis dunia yakni ALKI I yang menjadi urat nadi Asia Timur dan ASEAN.
Kini masyarakat Natuna berharap pada keseriusan investasi yang setidaknya sudah ditunjukkan melalui berbagai survei pihak Jepang di Natuna setahun terakhir ini. Semoga investasi tersebut mendatangkan kemakmuran dan ketenteraman bagi negara-negara di kawasan yang berlomba sekaligus bekerjasama dalam membangun perekonomian bersama. (*)
Sumber
: https://bebas.kompas.id/baca/utama/2019/11/27/menanti-bukti-investasi-jepang-di-natuna