Menjadi Pemulung Bukanlah Kemauan Tetapi Tuntutan Demi Keberlangsungan Hidup

Ruslan
75 view
Menjadi Pemulung Bukanlah Kemauan Tetapi Tuntutan Demi Keberlangsungan Hidup
Foto: Maizatul Akmam
Dewi, berprofesi sebagai pemulung merupakan jalan pintas yang bisa dilakukan demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

PEKANBARU, datariau.com - Kehadiran pemulung bukanlah hal yang baru di tengah masyarakat, bahkan hampir di seluruh daerah kita bisa menemukan pemulung, baik daerah perkotaan ataupun pedesaan. Pada Kota Pekanbaru menjadi pemulung bukanlah sesuatu kemauan, tetapi tuntutan bahkan sebagai profesi yang harus dijalankan demi keberlangsungan hidup.

Hidup sebagai pemulung tidaklah mudah, setiap hari harus berjalan ditengah teriknya matahari mencari rongsokan yang nantinya akan ditukarkan dengan sedikit uang. Namun semua itu harus dilakukan Dewi (45) dengan penuh keikhlasan.

Dewi mengungkapkan bahwa profesinya sebagai pemulung adalah jalan pintas yang bisa dilakukan demi memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

"Sekarang ini bisa dibilang profesi ya, karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa saya lakukan, makanya mulung inilah yang membantu saya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari," tuturnya (22/9/2021).

Menjadi pemulung sudah dilaluinya lebih dari dua tahun, ia bekerja mencari rongsokan keliling kota dari pagi hingga tengah hari dengan pendapatan yang tidak menentu setiap harinya, tetapi Dewi tetap bersyukur dan selalu merasa berkecukupan.

"Sudah lebih dari dua tahun saya menjadi pemulung, alhamdulillah saya sangat bersyukur masih diberi kesehatan dan masih bisa mencari makan, walaupun hasilnya tidak seberapa, kadang dapat 20.000, kadang 15.000 tapi Insyaallah cukuplah, saya mulai dari pagi sampai siang," ujarnya.

Selama pandemi, pendapatan Dewi pun tidak berkurang dan tidak pula bertambah, namun ia bersyukur masih mendapat bantuan PKH dari pemerintah sebanyak 4 kali pada tahun 2020.

"Sejak pandemi ini penghasilan saya segitu-gitu aja, dibilang berkurang tidak, dibilang bertambah juga tidak, tetapi saya bersyukur masih diberi bantuan PKH dari pemerintah sudah 4x tahun lalu, tapi sekarang sudah gak dapat lagi, ya walaupun begitu kita cuma bisa bersyukur," jelasnya.

Dewi tinggal di Rumbai bersama suami dan kedua anaknya, suaminya bekerja sebagai mekanik di bengkel motor, namun bengkelnya selalu sepi bahkan dalam sehari tidak ada pendapatan, semua kebutuhan bergantung padanya dari hasil menjual rongsokan. Tapi semuanya dilakukan Dewi dengan penuh rasa syukur.

Memang setiap perkerjaan tidak ada yang mudah, semua butuh pengorbanan dan usaha yang giat, namun semua harus diiringi dengan doa. Karena jodoh, maut dan rezeky sudah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dewi pun berharap agar kedepannya ia selalu diberi kesehatan lebih baik dan akan tetap berusaha dan bersyukur menjalani hari-harinya menjadi seorang pemulung. (mam)

Penulis
: Maizatul Akmam
Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: Datariau.com