Kontroversi Kebijakan Dedi Mulyadi: Disiplin Pelajar ala Barak Militer hingga Jam Masuk Subuh

Najwa
623 view
Kontroversi Kebijakan Dedi Mulyadi: Disiplin Pelajar ala Barak Militer hingga Jam Masuk Subuh
Foto: x/@rangkumanharia

DATARIAU.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terus menjadi sorotan publik karena kerap mengeluarkan kebijakan kontroversial yang menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan masyarakat.

Yang terbaru, Gubernur Jabar yang akrab disapa Kang Dedi berencana menghapus pekerjaan rumah (PR) bagi anak-anak sekolah di seluruh Jawa Barat. "Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana untuk menghapus pekerjaan rumah (PR) bagi anak-anak sekolah," ujar Dedi dalam pernyataan di media sosial, Rabu 4 Juni 2025.

Menurut Dedi, semua proses pembelajaran harus dikerjakan di sekolah agar tidak menjadi beban saat anak berada di rumah. "Seluruh pekerjaan sekolah dikerjakan di sekolah, tugas-tugas sekolah dikerjakan di sekolah tidak dibawa menjadi beban di rumah," terangnya. Ia berharap anak-anak bisa lebih fokus membantu orang tua, berolahraga, atau mengikuti les musik dan bahasa Inggris.

Sebelumnya, kebijakan paling kontroversial adalah program pembinaan siswa bermasalah di barak militer yang dimulai 2 Mei 2025. Program ini melibatkan kerja sama dengan TNI dan Polri untuk mendidik karakter siswa yang sulit dibina atau terindikasi terlibat pergaulan bebas selama enam bulan. "TNI yang akan menjemput langsung siswa ke rumah untuk dibina karakter dan perilakunya," kata Dedi.

Program barak militer ini tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga orang dewasa yang dianggap bermasalah. Dedi mengungkap kriteria orang dewasa yang akan dibina adalah mereka yang sering mabuk-mabukan, membuat onar, menelantarkan keluarga, hingga aktif dalam geng jalanan. "Orang dewasa yang mabuk tiap hari, meninggalkan istrinya, orang yang tidak pernah balik ke rumahnya meninggalkan tanggung jawab terhadap anaknya," ungkap Dedi.

Dedi juga sempat memicu kontroversi dengan usulan vasektomi sebagai syarat penerima bantuan sosial. "Jangan membebani reproduksi hanya perempuan. Perempuan jangan menanggung beban reproduksi, sabab nu beukian mah salakina," ucapnya. Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat menolak keras usulan ini karena vasektomi dianggap haram dalam pandangan Islam.

Meski kemudian Dedi membantah membuat kebijakan vasektomi wajib, ia tetap menekankan program Keluarga Berencana sebagai anjuran bagi penerima bantuan sosial yang memiliki banyak anak. "Tidak ada kebijakan vasektomi. Tidak ada," tegasnya di Kantor Kementerian HAM Jakarta, Kamis 8 Mei 2025.

Kebijakan pendidikan lainnya yang menuai kritik adalah jam masuk sekolah pukul 06.30 WIB dari Senin hingga Jumat, yang awalnya direncanakan pukul 06.00 WIB. Dedi juga menerbitkan surat edaran jam malam untuk pelajar yang melarang mereka keluar rumah mulai pukul 21.00 hingga 04.00 WIB, kecuali dalam kondisi tertentu seperti kegiatan sekolah atau keadaan darurat.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga melarang pelaksanaan wisuda, perpisahan sekolah, dan study tour yang melibatkan pungutan biaya dari siswa melalui SE Disdik Jabar. Dedi bahkan mencopot kepala sekolah SMK di Depok karena melanggar kebijakan ini. "Tanpa perpisahan emang kehilangan kenangan? Kenangan indah itu saat proses belajar tiga tahun," ujarnya.

Dedi mengaku tidak gentar dengan berbagai kritik dan ancaman, termasuk ultimatum dari ormas Grib Jaya terkait pembentukan Satgas Anti-Premanisme. "Saya tidak akan pernah mendengarkan ancaman dari siapapun," tegasnya. Ia meyakini semua kebijakan bertujuan mewujudkan generasi Jawa Barat yang berkarakter cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.***

Sumber: liputan6.com

Penulis
: Najwa
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)