Mengenal Tradisi Upacara Pernikahan Suku Bugis

datariau.com
4.857 view
Mengenal Tradisi Upacara Pernikahan Suku Bugis
Ilustrasi (Foto: Internet)
DATARIAU.COM - Bagi pria yang tak memiliki banyak harta, uang panai' atau mahar adalah momok saat hendak melamar kekasihnya. Ia selalu menjadi salah satu tradisi yang menakutkan bagi sepasang kekasih saat hendak melangsungkan pernikahan.

Uang panai' itu mendefinisikan sebuah aturan untuk memberikan harta benda dari pihak laki-laki ke pihak keluarga wanita untuk syarat melangsungkan pernikahan. Ukuran atau besaran harta benda ini tergantung oleh kedudukan dan pendidikan sang wanita.

Apabila makin tinggi pendidikan atau keturunan wanita, maka makin tinggi pula uang panai' yang harus diberikan.

Kenapa harus ada uang panai'? Ini karena merupakan simbol adanya perjuangan yang harus dilakukan oleh seorang cowok untuk mendapatkan cinta gadis Bugis pujaan.

Menurut tradisi Bugis, cinta adalah hal yang mahal dan tidak bisa sembarang orang dapatkan. Terlebih jika gadisnya adalah yang punya kualitas tinggi yang diukur dari tingkat pendidikan dan keturunan keluarga.

Bukan sembarang cantik, tapi juga baik dan berkualitas. Itulah nilai yang diangkat di tradisi panai' suku Bugis-Makassar. Dikarenakan, uang panai' dinilai memberatkan disebabkan oleh besarannya yang ditentukan oleh status sosial seorang pengantin wanita yang hendak dilamar.

Bahkan, kini uang panai' di tradisi Bugis-Makassar sudah mencapai milliaran rupiah dan tergantung status sosial wanita yang dilamar.

Dengan uang panai' ini, kebanyakan sang pengantin pria merasa sangat terbebani dan ada pula yang menganggapnya sebagai gengsi dalam perkawinan.

Uang panai' terkadang ditentukan berdasarkan kelas wanita yang hendak dipinang. Misalnya, kelas wanita yang lulusan SMA, sarjana, telah bekerja, pegawai negeri sipil (PNS), dokter, hingga gadis telah berhaji memiliki mahar yang berbeda.

Dan jika makin tinggi jabatan atau statusnya, maka uang panai' tersebut akan makin besar bilangannya.

Memang tradisi di sini, malu kita juga kalau tidak menikahkan anak gara-gara uang panai'. Ya, diusahakan saja dipenuhi, tapi ada negosiasi sampai sesuai kemampuan.

"Soalnya, itu anak bungsuku, Ansar sudah lama pacaran sama itu gadis. Itu uang panai' berbeda dengan pesta pengantin laki-laki. Jadi kira-kira habis Rp200 juta lebih," kata Bapak Taugi tersebut.

Ada juga yang mengalami cinta kandas di tengah jalan atau putus dikarenakan tidak sanggup atau tidak mampu memenuhi syarat dari calon menantu wanita tersebut.

Ini terjadi kepada seseorang yang bernama sebut saja Ci, cintanya kandas karena uang panaik, disebakan keluarganya tidak sanggup memenuhi permintaan uang panaik sebesar Rp100 juta, dan membuatnya batal menikah dengan kekasihnya.

Dengan mahalnya uang panai' banyak pasangan kekasih yang terkendala ketika hendak menikah. Oleh karena itu, banyak pula yang memilih menentang tradisi dan mengambil jalan pintas dengan kawin lari atau disebut dengan "silariang".

Bagi orang Bugis Makassar, silariang itu peristiwa yang sangat memalukan karena bersangkut-paut dengan malu atau siri atau aib yang menjadi beban keluarga sepanjang hidupnya.

Dalam tradisi Bugis Makassar, sillariang identik dengan kematian, tetapi mati bukan dalam arti dicari lalu dibunuh. Mati di sini bermakna dipaoppangi tana atau telah ditelungkupi atau ditutup dengan tanah. Jadi, pelaku dianggap telah mati, tidak ada negosiasi, tidak ada rekonsiliasi, seumur hidup.

Bahkan, beberapa generasi tidak akan diterima lagi untuk kembali ke keluarganya selamanya dan seterusnya. Biasanya pelaku pergi merantau dan membuang diri dan tidak akan kembali lagi seumur hidup sampai beranak cucu.

Ada juga yang menganggap bahwa uang panai' itu adalah ujian bagi sang lelaki, sebesar apapun yang diminta oleh keluarga sang mempelai wanita. Pihak keluarga wanita ingin melihat keseriusan sang laki-laki melamar pujaan hatinya.

Jika dia tidak bisa membayar uang panai' tersebut maka sang laki-laki ini dianggap tidak serius dalam menikahi perumpuan tersebut.

Di situlah nilai luhurnya uang panai', dilihat dari keseriusan seorang laki-laki mencari uang. Jangan hanya menikah saja, tapi dia tidak mau bekerja keras. Jadi ada nilai positif dan negatif yang bisa diambil dari hal ini.

Nilai positif yang bisa diambil adalah, kita harus ada usaha demi untuk menikahi atau meminang anak orang.

Seorang wanita mengunkapkan bahwa besaran uang panaik di zaman sekarang ditentukan status seorang wanita. Jadi, jika status sosialnya seorang wanita bagus, maka uang panai'nya tentu bagus pula hingga miliaran rupiah.

Jadi, seperti yang dikatakan sebelumnya, jika semakin tinggi status sosialnya, maka semakin mahal lah uang panai' yang akan dibayarkan.

Orang tua biasanya memasang nilai uang panai', karena untuk melihat masa depan anaknya. Jadi beda-beda itu besarannya, disesuikan dengan statusnya wanita lulusan apa, kerjaannya apa, apakah dia PNS atau dokter.

Tambah mahal lagi, kalau itu si wanita sudah naik haji dan mempunyai rumah serta harta. Dan uang panai' tersebut bisa saja sampai ke angka milliaran rupiah.

Besaran uang panai' ini rupanya juga bisa dirundingkan atau dibicarakan baik-baik dengan keluarga si wanita. Sebelum ada kata sepakat soal jumlah uang panai', masih bisa dirundingkan kembali dengan pihak si wanita.

Kalau misalnya pihak laki-laki sudah lumayan dekat dengan keluarga si wanita, maka perundingan tersebut akan mudah dilaksanakan.

Uang panai' ini berlaku untuk keturunan darah biru. Jika sang wanita bergelar bangsawan, maka sang pria harus mempersiapkan uang panai' dalam jumlah besar. Bangsawan biasanya diberi gelar tertentu yang menandakan si empunya adalah keturunan raja terdahulu.

Kalau namanya saja sudah berbau bangsawan, anggapannya adalah dia punya kualitas yang tinggi. Untuk itu uang panai' yang diminta juga biasanya lebih banyak.

Jadi pemikirannya itu orang tua, enak saja ini laki-laki menikah tidak ada apa-apanya langsung saja dapat pendamping hidup lengkap masa depan, rumah dan segalanya. Itu yang biasa menjadi patokan. Jadi tentu mahal dong panai'nya kalau wanita yang dilamar itu sudah sukses dari segi ekonominya.

Dan kita bisa melihat ada sisi positivnya juga di balik uang panai' yang sangat besar tersebut. Aturan ini sudah ada di tradisi suku Bugis sejak lama.

Namun dalam praktiknya, banyak sumber yang menyebutkan bahwa tradisi ini menuai kontroversi karena dianggap sebuah proses membeli si wanita untuk diperistri. Ya karena dengan syarat uang yang sangat besar, seseorang bisa menikahi seorang wanita yang dia inginkan.

Uang panai' ini diberikan sebelum sebelum diadakannya pernikahan tersebut. Sebelum akad atau pengukuhan suami istri, dilakukan tawar menawar tentang jumlah uang panai' yang diberikan. Ukurannya ya sesuai dengan yang diminta.

Uang panai' ini berbeda dengan mahar. Kalau mahar ada sendiri. Khusus untuk panai' memang hanya ada di adat pernikahan suku Bugis-Makassar. Jika di suku lain juga ada proses tawar-menawar uang sebelum nikah, istilahnya mungkin lain.

Tahapan yang ada di pernikahan suku Bugis ini pun juga sangat banyak yaitu Mammanu'-manu' dan Madduta. Mammanu'-manu' merupakan tahap awal dalam persiapan pernikahan adat Bugis Makassar.

Dulu, mammanu'-manu' merupakan kegiatan yang dilakukan oleh keluarga laki-laki untuk menyelidiki status dari gadis yang hendak dipinang. Kegiatan tersebut untuk memastikan apakah gadis tersebut sudah terikat atau belum. Selain itu, diselidiki juga apakah sang gadis sesuai bibit bebet bobotnya.

Selanjutnya adalah Mappetuada. Setelah tahap Mammanu'-manu' dan Madduta' selesai, dilanjutkan dengan tahap Mappetuada. Acara Mappetuada' ini bertujuan untuk mengumumkan apa yang telah disepakati sebelumnya mengenai tanggal pernikahan, mahar, dan lain-lain.

Biasanya pada Mappetuada, pinangan diresmikan dengan diberikan hantaran berupa perhiasan kepada pihak wanita. Tahap selanjutnya adalah Mappasilli, Mappasili sendiri merupakan prosesi siraman.

Prosesi siraman ini bertujuan untuk tolak bala dan membersihkan calon mempelai lahir dan batin. Biasanya air siraman atau Mappasili diambil dari 7 mata air dan juga berisi 7 macam bunga. Selain itu, terdapat juga koin di dalam air Mappasili.

Selesai Mappasili, tamu undangan yang hadir akan berebut koin yang terdapat di dalam air Mappasili. Koin yang didapatkan akan diberikan kepada anaknya yang belum menikah.

Yang ke-4 adalah Mappanre Temme dan Mappaci, dikutip kompas.com, Mappanre Temme merupakan ritual khatam al-Qur'an dan juga permohonan doa kepada Allah agar rencana pernikahan tersebut berjalan lancar.

Pelaminan selama prosesi acara pernikahan di rumah. Sementara itu, yang berada di meja merupakan Bosara berisi berbagai macam kue-kue tradisional. Mappaci merupakan ritual adat sesudah Mappanre Temme. Mapacci sendiri bisa diartikan memberikan daun pacar ke calon mempelai sebagai bentuk doa restu.

Setelah selesai yang ke-4 tersebut maka dilanjutkan dengan akad nikah. Karena sebagian besar orang Bugis Makassar merupakan penganut agama Islam maka pelaksanaan akad nikah pun dilakukan dengan cara Islam.

Yang berbeda yaitu saat melakukan ijab kabul, calon mempelai wanita tidak hadir di samping calon mempelai pria.

Calon mempelai wanita hanya menunggu di kamar pengantin hingga acara ijab kabul selesai. Dan selepas ijab kabul, ada lagi tradisi yang harus dilakukan yaitu Mappasikarawa dan Mapparolla.

Mappasikarawa merupakan ritual bagi sang pengantin pria, mempelai pria akan dibimbing untuk masuk ke kamar pengantin dan bertemu dengan istrinya secara resmi. Sebelum memasuki kamar, biasanya ada ritual ketuk pintu.

Ketuk pintu ini dimaksudkan untuk meminta izin kepada keluarga mempelai wanita agar diperbolehkan masuk. Setelah memasuki kamar, kemudian dilakukan ritual Mappasikarawa.

Dan yang terakhir adalah Mapparola, Mapparola merupakan kunjungan mempelai wanita ke rumah orangtua mempelai pria. Mempelai wanita datang ditemani iring-iringan dari keluarga mempelai wanita.

Mempelai wanita juga membawa seserahan berupa perlengkapan pribadi dan kue-kue untuk mempelai pria.

Kunjungan ini sangat penting bagi masyarakat Bugis Makassar karena kunjungan tersebut menandakan kalau mempelai wanita diterima dengan baik di keluarga mempelai pria.

Di Mapparola inilah, mempelai kembali sungkem kepada orangtua dan kerabat yang dituakan dari mempelai pria. Setelah acara Marola atau Mapparola selesai, kedua mempelai akan kembali ke rumah mempelai wanita.

Bisa kita lihat bahwa pernikahan di adat suku Bugis Makassar itu bukan main-main, harus ada perjuangan demi meminang sang wanita.

Bukan hanya sekedar menikah saja, tapi harus ada bekal di awal untuk kelangsungan berkeluarga kedepannya. Jadi apakah anda siap untuk menikahi gadis Bugis Makassar. Perjuangkan!
Penulis
: Vitto Akbara
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)