MERANTI, datariau.com - Salah satu keluarga pasien di Selatpanjang mendapat pelayanan yang tidak memuaskan dari pihak Rumah Sakit Daerah (RSUD) Kepulauan Meranti. Pasalnya, salah seorang anggota keluarganya yang sedang dalam kondisi menurun saat dibawa berobat, sempat ditolak dibagian Unit Gawat Darurat (UGD) untuk ditangani cepat.
Diceritakan ER, warga Jalan Ibrahim, Kelurahan Selatpanjang Selatan, Kecamatan Tebingtinggi, Kepulauan Meranti itu mengungkapkan ada saudaranya (abang sepupu--red) sedang mengalami penurunan drastis pada kondisi fisiknya. Akibatnya pencernaan tidak stabil untuk bekerja, pasienpun tidak bisa makan selama dua minggu.
Karena miris melihat kondisi pasien terus menurun, akhirnya dibawa ke salah satu klinik terdekat di Selatpanjang untuk dilakukan penanganan intensif. Pasien disuntik penambah darah agar stamina tubuhnya bisa meningkat.
"Tadi malam (Jum'at, tanggal 15 November 2019) dibawa ke klinik. Saat diperiksa, kata dokter disana pencernaan pasien memburuk. Sebelumnya kondisi (pasien) tidak selemah itu. Karena gara-gara dimasukkan makanan tidak bisa, kondisinya terus menurun. Takutnya sakit maagnya sudah kronis kan," ungkap ER kepada datariau.com, Sabtu (16/11/2019).
Setelah ditangani di klinik, pihak keluargapun beritikad membawa pasien langsung ke RSUD pada Sabtu (16/11/2019) sekitar pukul 08.00 WIB Pagi. Mereka meyakini dengan dibawa ke RSUD, pasien bisa dirawat dan ditangani dengan baik, mengingat pasien semakin melemah.
"Dia (pasien--red) dibawa bapaknya ke RSUD ke bagian UGD. Keluarganya minta agar ditangani cepat. Namun pihak IGD menolaknya. Alasan perawat disana, pasien masih sanggup berjalan. Padahal dia bisa tegak berjalan karena dibantu. Disuruh perawatnya pergi saja ke poli umum untuk berobat biasa," cerita ER yang dialami saudaranya waktu membawa abang sepupunya ke UGD.
Kalau mau dirawat, sambung ER, perawat disana merekomendasikan agar pasien dirujuk saja dengan menggunakan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Sementara jika mau diurus, kantor BPJS sedang tutup karena hari libur. Bahkan diminta untuk berobat umum dengan ditangani oleh UGD, pun tetap saja ditolak.
"Mau minta rujukan ke BPJS, kantornya tutup, bagaimana mau mengurusnya. Kita minta untuk berobat umum, juga tetap ditolak oleh pihak UGD. Saya pikir kalau di UGD bisa ditangani dengan cepat, jika sudah membaik bisa langsung pulang," ujar ER.
Upaya keras keluarga agar bisa ditangani UGD ternyata sia-sia. Pihak keluargapun pulang membawa pasiennya. Karena pelayanan di UGD tetap saja tidak menerima pasien yang sudah tidak berdaya itu.
"Pasienpun pulang akibat tidak ditangani oleh UGD, bahkan tidak ada dikasi obat atau apapun. Tidak mungkin menunggu sudah sekarat betul baru ditangani," ungkapnya dengan kesal.
Setelah pulang, keluarga pasienpun mengabari saudaranya yang juga bekerja dibidang kesehatan yakni ER. ER menyarankan agar pasien dibawa kembali ke UGD. Karena menurut keluarga, kondisi pasien harus segera ditangani.
"Ibu saya menelpon saya untuk meminta tolong akibat ditolak UGD. Begitu di RSUD, saya langsung berkonsultasi ke dokter. Dia menyarankan agar pasien dibawa kembali agar bisa dilakukan pengecekan di IGD. Mengingat pasien tidak mau makan, badan kurus, dan kondisi tersebut sudah terjadi selama 2 minggu. Kami berharap bisa dipasang infus," ujar ER saat ikut membantu saudaranya yang sedang dalam kesulitan.
Setelah pasien sampai ke UGD, ER kembali menjelaskan soal kondisi pasien yang terus menurun ke pihak pelayanan. Lama berbicara dengan pihak pelayanan UGD, ER sempat mendapatkan jawaban yang tidak mengenakkan dari salah seorang perawat pada shift kerja saat itu. Hingga akhirnya UGD mau menerima pasien tersebut.
"Saya bilang pasien sakit sudah 2 minggu. Disertai batuk, mual, dan terus meludah. Saya minta tolong diinfus dulu sebab dia sudah lemah. Oom saya pun yang ikut disana, dimintanya agar pasien ditangani dulu, kalau masalah BPJS atau umum nanti dulu. Setelah lama berbicara, akhirnya baru ditangani mereka (UGD)," kata ER, adik sepupu dari pasien.
Sementara Direktur RSUD Kepulauan Meranti, dr Hj Ria Sari saat dikonfirmasi, dirinya belum mengetahui atas persoalan tersebut. Ia akan melakukan kroscek diantara kedua belah pihak untuk memastikan kejadiannya seperti apa.
"Ini saya baru dapat informasinya. Untuk itu, persoalannya akan kita kroscek dulu terhadap kedua belah pihak. Apabila informasi itu benar, kenapa bisa terjadi seperti itu. Saya akan tanya petugas saya yang kerja pada shift pagi itu. Karena hal ini dibawah bidang pelayanan medik, nanti saya minta untuk dapat ditindaklanjuti," kata dr Hj Ria Sari.(***)