KISARAN, datariau.com - Hujan deras disertai angin kencang terjadi sekitar 30 menit di kota Kisaran Kabupaten Asahan dan sekitarnya, Kamis (9/8) sore sekitar pukul 17.10 WIB. Namun hujan itu tak seperti biasanya, turunnya butiran es sebesar biji kelereng di beberapa daerah membuat warga heboh.
Hujan bercampur es tersebut tak berlangsung lama. Hanya sekitar 10 menit. Butiran es kemudian mencair bersama sisa air hujan. Salah satu lokasi di wilayah Asahan yang terdampak hujan es berada di Desa Sei Alim Hasak Kecamatan Sei Kamah.
"Waktu hujan deras itu, saya lagi masak didapur. Hujannya gak seperti biasa seng rumah dapur kami seperti dilempari batu dari atas. Penasaran sayapun keluar dan melihat banyak butiran es sebesar biji kelereng beserakan di halaman dan teras," kata Juliani, warga Desa Sei Alim Hassak saat diwawancarai wartawan.
Menurutnya, fenomena hujan dengan butiran es sebesar biji kelereng ini terjadi sekitar lima menit dan baru pertama kali terjadi di daerahnya.
Sementara itu, sejumlah foto terkait turunnya hujan bercampur butiran es dibeberapa wilayah Asahan ramai beredar yang kemudian ramai diunggah oleh warga netizen di sosial media facebook maupun aplikasi group watshapp saat.
"Sentang diguyur hujan. Hujannya hujan es. Ini didepan rumahku," tulis akun facebook Tahlil Ritonga yang mengaku tinggal di Kelurahan Sentang Kecamatan Kota Kisaran Timur ini.
Di Indonesia, fenomena hujan es yang juga pernah terjadi beberapa waktu lalu di kota Bandung. Seorang ahli meteorology bernama Hary Tirto Djatmiko dari Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, hujan es bisa terjadi dalam dua kondisi.
Pertama, dalam masa pancaroba, hujan tidak turun selama tiga hari berturut-turut. Bila itu terjadi, maka pada hari keempat dapat terjadi hujan dalam bentuk es disertai angin kencang.
Dua kondisi itu mengakibatkan hujan es karena mengakumulasikan air dalam bentuk awan kumulonimbus, jenis awan yang pada awalnya berbentuk menyerupai bunga kol berwarna putih namun kemudian berubah jadi abu-abu.
Kondisi itu menyebabkan pembentukan awan secara konveksi. Pantauan BMKG menunjukkan, awan yang terbentuk adalah awan kumulonimbus. Hary mengungkapkan, awan jenis tersebut lebih kaya akan air dalam bentuk padat daripada cair.
Dengan demikian, hujan yang turun bisa dalam bentuk padat. Tentang akumulasi es yang bisa menyerupai salju, disebabkan oleh intensitas hujan. Hujan sangat rapat dan diturunkan seketika, sehingga esnya terakumulasi bersama air hujan. Namun akumulasi es itu takkan bertahan lama dan akan mencair paing lama sekitar 10 menit.