Aceh Besar, Datariau.com - Terkait informasi yang beredar bahkan
menjadi viral di sejumlah media tentang ditemukannya sejumlah lokasi yang
disinyalir mengandung daya magnet yang cukup kuat di beberapa titik di kawasan
di Aceh Besar, seorang warga Aceh Besar angkat bicara.
Afifuddin, yang merupakan salah
seorang kolektor batu mulia menyebutkan, besar kemungkinan di lokasi yang
ditemukan magnet tersebut memang ada, tapi katanya, perlu penelitian lebih
lanjut karena mungkin pada saat ini terlalu viral maka ditutupi sementara waktu
sambil menunggu hasil penelitian tadi.
"Dan masalah magnet ini perlu ada
persetujuan dari pusat juga dulu apakah boleh dipublikasi ke masyarakat sebagai
obyek wisata atau tidak," katanya.
Bahkan tambahnya, ada kemungkinan
unsur-unsur kandungan bumi lainnya yang perlu diteliti seperti platinum yang
memang harga jualnya tinggi namun semua itu diperlukan kajian lebih lanjut.
"Tapi saya yakin apa yang
dilakukan oleh pak Bupati Aceh Besar sudah menunjukkan hal-hal yang positif,
begitulah kondisi bumi sekarang akan bermunculan hal-hal yang sebelumnya tidak
diketahui sebelumnya. Bahkan bisa jadi akan bermunculan batu mulia, emas,
permata, berlian dan segala macam yang tidak pernah dilihat oleh manusia karena
sudah menghadapi akhir jaman," tutupnya.
Sementara itu dikutip dari laman
Universitas Syiah Kuala Banda Aceh menyebutkan bahwa fenomena medan magnet di
kawasan Blangbintang, Kabupaten Aceh Besar yang viral sejak Minggu (5/1/2020)
bukan hanya menyedot perhatian masyarakat tetapi juga 'menggelitik' para pakar
untuk pembuktian secara ilmiah.
Adalah Dr Nazli Ismail, Peneliti
Geofisika pada Laboratoorium Geofisika dan Ketua Program Studi S2 Ilmu
Kebencanaan Universitas Syiah Kuala yang secara khusus mengirimkan tanggapan
kepada Serambinews.com.
Menurut Nazli, fenomena gunung
magnet seperti yang ditemukan di kawasan Blang Bintang sebenarnya bukan hal
yang pertama terjadi di dunia. Masih banyak simpang-siur penyebab kejadian
tersebut. Terjadi berbagai pemahaman masyarakat, tetapi pada kondisi yang
sangat berbahaya ketika peristiwa tersebut dikaitkan dengan hal-hal yang
mistis.
Oleh karena, katanya, perlu
diberikan penjelasan secara ilmiah tentang fenomena yang viral tersebut. Untuk
memastikan penyebab utamanya maka perlu dilakukan observasi di lapangan secara
geofisika, misalnya dengan melakukan pengukuran elevasi, baik secara sederhana
menggunakan waterpass, theodolite, maupun peralatan GPS geodetik.
Peralatan semacam ini diperlukan
jika diduga bahwa peristiwa pergerakan kendaraan yang seolah-olah melawan arah
gravitasi tersebut terjadi karena faktor perubahan ketinggian. Dugaan yang
paling mudah diprediksi terhadap fenomena tersebut adalah karena pengaruh
perbedaan ketinggian, sehingga terjadi gaya tarik gravitasi.
Di kalangan masyarakat, fenomena
ini dikenal dengan istilah gravity hill. Fenomena gravity hill adalah tempat
yang hakikatnya merupakan daerah penurunan tetapi seolah-olah terlihat seperti
tanjakan karena adanya ilusi optik di sekitar lokasi.
Ini, katanya bisa terjadi pada
alam yang terbuka dengan intensitas cahaya matahari cukup tinggi. Pada kondisi
seperti ini orang akan terkecoh melihat lintasan yang berupa turunan
seolah-olah berupa tanjakan.
Pada kasus yang lebih ekstrem,
tidak hanya mobil yang seolah-olah bergerak ke arah tanjakan (melawan arah
gravitasi) tetapi juga dapat terlihat seolah-olah air mengalir ke tempat yang
lebih tinggi.
"Di kalangan masyarakat awam
istilah gravity hill ini juga dikenal dengan nama magnetic hill atau yang
dikenal luas sekarang dengan jabal magnet," kata Nazli yang juga unsur Dewan
Pakar Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB) Aceh.
Memang pada hakikatnya magnet
dapat menarik benda-benda yang terbuat dari atau bahan magnetik seperti logam.
Sebagian besar material perakit mobil terbuat dari logam, oleh karena itu pada
fenomena 'jabal magnet' ini dipercaya karena ada tarikan magnet bumi yang kuat.
"Akan tetapi, jika benda-benda
lain seperti botol plastik juga dapat bergulir, maka dapat dipastikan bahwa
fenomena ini bukan disebabkan oleh tarikan medan magnetik," ujar peneliti
tersebut.
Akan tetapi lebih kuat oleh
adanya tarikan gravitasi bumi yang terjadi karena adanya perbedaan ketinggian
atau daerah turunan (meskipun seolah-olah terlihat seperti tanjakan). Akibat
ilusi optik, kadang-kadang bukan hanya dapat memperlihatkan daerah turunan
seperti tanjakan, tetapi pada areal yang luas juga kadang-kadang bisa terlihat
batang pohon tegak yang bengkok, seperti fenomena ketika dimasukkan sebagian
pensil ke dalam air dan sebagian lagi di udara di dalam akuarium.
Pensil tersebut seolah-olah
kelihatan bengkok karena adanya perbedaan kerapatan yang sangat mencolok antara
air dengan udara. Untuk membuktikan benar tidaknya fenomena tersebut diakibatkan
oleh pengaruh medan magnet, maka dapat dilakukan pengukuran medan magnet bumi
dengan menggunakan magnetometer.
Peralatan tersebut dapat mengukur
perbedaan medan magnet bumi dalam skala nanotesla terhadap variasi jarak. Oleh
karena itu, jika dilakukan pengukuran berbentuk lintasan yang memotong lokasi
yang diduga sebagai 'jabal magnet' makan akan diketahui ada atau tidaknya
perubahan yang mencolok intensitas medan magnet bumi pada kawasan tersebut
dibandingkan dengan daerah sekitarnya.
Pengukuran ini dapat dilakukan
secara cepat, dalam satu hari sudah dapat diketahui hasilnya. Menurut Nazli,
untuk keperluan tersebut, Laboratorium Geofisika pada Program Studi Fisika dan
Program Studi Teknik Geofisika Universitas Syiah Kuala memiliki pakar dan
peralatan yang handal.
Demikian juga untuk peralatan
yang mampu mengukur variasi perubahan percepatan gravitas terhadap jarak, Universitas
Syiah Kuala juga memiliki perlatan gravitymeter yang sangat canggih dengan
skala pengukuran sampai pada satuan milliGal.
Kedua perlatan ini mampu
mendeteksi perubahan medan dalam jumlah yang sangat kecil secara akurat. Selama
ini peralatan tersebut digunakan untuk eksplorasi sumber daya alam dan mitigasi
bencana. Di bagian akhir penjelasannya, Nazli menyarankan fenomena ini perlu
diberdayakan, supaya dapat mengangkat industri pariwisata di Aceh Besar.
"Jangan sampai mengarah ke mistis
tetapi fenomena alam yang sangat langka ini mesti diberdayakan," demikian Nazli
Ismail. (*)