ROHIL, datariau.com - Desa Sungai Majo Kecamatan Kubu Kabupaten Rokan Hilir, menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar oleh Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Riau pada 4-6 September 2025.
Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat, yang bertujuan meningkatkan kapasitas petani sawit swadaya dalam mengelola kebun secara tepat, efisien, dan berkelanjutan.
Mengusung tema “Penyuluhan Gejala Defisiensi Unsur Hara pada Tanaman Kelapa Sawit dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman”, kegiatan ini menghadirkan empat narasumber berkompeten yaitu Dr M Amrul Khoiri, Zafitra SP MP, Riskia Trizayuni SP MP, dan Joni Irawan SP MSi.

Para narasumber menyampaikan materi secara komprehensif mulai dari identifikasi gejala kekurangan unsur hara, strategi pemupukan, hingga penerapan pengendalian hama terpadu (IPM).
Dalam penyuluhannya, Dr M Amrul Khoiri menekankan pentingnya kemampuan petani dalam memahami sinyal-sinyal fisiologis tanaman.
“Petani harus mampu membaca gejala pada daun dan pertumbuhan tanaman. Semakin cepat didiagnosis, semakin cepat tindakan korektif dilakukan untuk menyelamatkan produktivitas kebun,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa banyak kerugian produksi dapat dihindari jika petani memahami dasar-dasar nutrisi tanaman.
Pada materi selanjutnya, Zafitra SP MP menjelaskan bahwa pemupukan harus berbasis kebutuhan tanaman dan karakteristik lahan.
“Setiap kebun memiliki kondisi tanah yang berbeda, terutama di wilayah gambut. Salah dosis atau jenis pupuk dapat berdampak pada kesehatan tanaman dan efisiensi biaya produksi,” jelasnya.
Ia juga membagikan beberapa contoh kasus lapangan yang sering ditemui petani.
Sementara itu, Riskia Trizayuni SP MP memaparkan strategi identifikasi dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang sering menyerang perkebunan sawit. Ia menegaskan pentingnya pemantauan rutin.
“Pengendalian OPT tidak bisa hanya mengandalkan satu metode. Kombinasi teknik mekanis, biologis, sanitasi kebun, dan penggunaan pestisida secara bijak adalah kunci keberhasilan pengendalian yang berkelanjutan,” terangnya.
Melengkapi materi tersebut, Joni Irawan SP MSi menekankan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (IPM) sebagai pendekatan modern dalam pengelolaan kebun.
“IPM bukan sekadar metode pengendalian, melainkan cara berpikir yang menempatkan kesehatan ekosistem sebagai prioritas. Ketika lingkungan kebun terjaga, tanaman lebih kuat dan serangan hama pun dapat ditekan,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan sangat positif dari petani dan perangkat desa. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan mengenai kondisi kebun mereka, mulai dari masalah daun menguning, pertumbuhan terhambat, hingga serangan hama yang sulit dikendalikan. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa penyuluhan ini sangat relevan dengan kebutuhan petani di Sungai Majo.
Kepala Desa Sungai Majo menyampaikan apresiasi tinggi terhadap Universitas Riau. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, peningkatan kapasitas petani merupakan kunci untuk mendorong produktivitas perkebunan rakyat yang selama ini menjadi penopang ekonomi desa.
Melalui kegiatan pengabdian ini, Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau kembali menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, memberikan solusi berbasis penelitian ilmiah, dan menjalin kolaborasi erat dengan petani sebagai mitra strategis dalam pembangunan pertanian berkelanjutan di wilayah Rokan Hilir dan sekitarnya.***