Optimisme dan Pesimisme Mahasiswa dalam Pembelajaran Online

2.386 view
Optimisme dan Pesimisme Mahasiswa dalam Pembelajaran Online
Foto: Ilustrasi/Int

DATARIAU.COM - Konsep optimisme dan pesimisme merupakan salah satu fokus ekspektasi individu terhadap masa depan. Kedua konsep ini memiliki ikatan dengan teori psikologi mengenai motivasi, yang disebut dengan expectancy-value theories. Terdapat dua pandangan utama mengenai optimisme, ?the explanatory style? dan ?the dispositional optimism view,? yang juga disebut sebagai ?the direct belief view? (Caver & Scheier, 2002). Beberapa teori juga menyatakan optimisme dan pesimisme memengaruhi perilaku seseorang khususnya dalam hal pembelajaran.       

 

Optimisme dan pesimisme memiliki pengaruh terhadap kesuksesan seseorang dalam pekerjaan, sekolah, kesehatan, dan juga relasi sosial (Seligman, 1990). Menurut penelitian Seligman bahwasannya orang pesimis memiliki prestasi yang rendah dan kurang di sekolah maupun di pekerjaan, dibandingkan dengan orang yang optimis. Hal ini menunjukkan bahwa optimisme bermanfaat untuk memotivasi seseorang dalam berbagai lini kehidupan khususnya bagi siswa dalam menangani masalah pembajaran.

Sikap optimisme akan sangat membantu mahasiswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Seseorang yang bersikap optimis akan menganggap kegagalan yang terjadi karena faktor di luar dirinya, sehingga memacu dirinya untuk mengatasi dan memperbaiki hingga faktor penyebab kegagalan tersebut lenyap dari dirinya. Sikap seperti inilah yang sangat dibutuhkan oleh para mahasiswa untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Namun yang menjadi kendala adalah masih banyak mahasiswa yang merasa pesimis dan putus asa dalam pembelajaran.

Saat ini dunia tengah menghadapi suatu wabah pandemi yang diakibatkan virus covid-19. WHO tanggal 11 Maret 2020 menetapkan wabah ini sebagai pandemi global. Sehingga pada pertengahan maret 2020 pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan yaitu meniadakan sementara pembelajaran tatap muka secara langsung dan diganti dengan pembelajaran secara online, baik pada tingkat sekolah dasar dan menengah, maupun tingkat perguruan tinggi. Hal itu diwujudkan dalam suatu sistem yang disebut electronic university (e-University).

Saat ini permasalahan yang dihadapi oleh para mahasiswa salah satunya adalah ketidaksiapan mahasiswa melaksanakan pembelajaran secara online. Mereka dutuntut untuk aktif menggunakan teknologi media online yang telah ditetapkan masing-masing dosen akademik. Sehingga hal ini dapat membuat mahasiswa menjadi pesimis melaksanakan pembelajaran secara online. Belum lagi mahasiswa akan merasa bosan dan jenuh pada saat dirumah yang mana pada umumnya mahasiwa lebih sering menghabiskan waktu diluar bersama teman-teman, komunitas dan organisasi yang diikuti. Hal ini dapat menjadi faktor mahasiswa akan mengalami pesimisme dan memunculkan emosi negatif.

Menyikapi keadaan seperti saat ini, sebagai seorang mahasiswa seharusnya untuk tidak menjadi pesimis dan berserah diri akibat pandemi covid-19. Kita harus optimis dan selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik dalam hidup ini. Sehingga untuk menjadikan pribadi pantang menyerah dan tangguh ini, maka dalam diri kita harus tertanam sikap optimis, berpikir positif bahwa pandemi ini tidak akan mengahalangi semangat belajar. Dengan sikap optimis kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dengan keyakinan dan tugas kita adalah hanya berusaha, berdoa dan ikhtiar.     

Seseorang yang memiliki optimisme tidak akan menyalahkan diri sendiri terhadap permasalahan dan percaya bahwa mereka akan mendapat sesuatu jalan keluar. Maksud dari optimisme adalah cara berpikir atau paradigma berpikir positif sebagaimana orang yang optimis adalah orang yang memiliki ekspektasi yang baik pada masa depan dalam kehidupannya. Masa depan mencakup tujuan dan harapan-harapan yang baik dan positif mencakup seluruh aspek kehidupannya  

Sikap optimis ini perlu dimiliki oleh setiap individu terlepas dari apapun profesinya. Salah satunya oleh mahasiswa, sikap optimis perlu dikembangkan untuk dapat memecahkan masalah. Siswa yang optimis tidak memandang masalah sebagai akhir dari usahanya, tetapi justru akan berusaha menyelesaikan dan keluar dari masalah tersebut. Siswa (individu) yang memiliki sifat optimis cenderung lebih sehat karena memiliki harapan yang positif, juga lebih cerdas secara emosi, tidak mudah putus asa, tidak merasa bodoh, dan tidak mudah mengalami depresi (Noordjanah, 2013).

Mahasiswa dengan sikap optimisme dapat bertahan untuk memecahkan permasalahan dalam situasi maupun kondisi yang terjadi. Banyak penelitian terdahulu yang telah membahas pentingnya optimisme bagi individu dengan kehidupan belajar seseorang. Salah satunya adalah penelitian Noordjanah (2013), yang memberikan simpulan bahwa terdapat hubungan postitif antara optimisme dengan motivasi belajar siswa bahwa semakin tinggi rasa optimisme siswa akan semakin tinggi pula motivasi belajar mereka.

Usaha menumbuhkan optimisme dalam pembelajaran merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar kita sebagai mahasiswa memiliki cara berpikir yang positif terhadap kondisi yang kita alami saat ini dan mempunyai harapan terhadap masa depan dalam kehidupan di masa depan. Namun pesimisme dalam pembelajaran adalah jalan menuju keputusasaan, dan bukti rendahnya motivasi. Mahasiswa yang sadar akan tantangan, mengakui ada capaian dalam dirinya, dan merasa bahwa eksistensi dirinya dibutuhkan oleh bangsa dan Negara.(*)

*Nur Aisyah Sari Romadhona merupakan mahasiswi Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negri Sultan Syarif Kasim Riau

Penulis
: Nur Aisyah Sari Romadhona
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)