Surat Edaran Menteri Agama: Shalat Idul Adha 1442 Boleh Dilaksanakan di Masjid dan Lapangan, Kecuali di Daerah Zona Merah

Admin
272 view
Surat Edaran Menteri Agama: Shalat Idul Adha 1442 Boleh Dilaksanakan di Masjid dan Lapangan, Kecuali di Daerah Zona Merah
Ilustrasi (Foto: RRI)

PEKANBARU, datariau.com - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Dr Mahyudin menjelaskan bahwa Surat Edaran Menteri Agama Nomor 15 tahun 2021 tentang Penerapan Protokol Kesehatan dalam Penyelenggaraan Shalat Hari Raya Idul Adha dan Pelaksanaan Qurban 1442 H telah keluar. Untuk itu dirinya melakuakan rapat koordinasi secara virtual dengan seluruh Kepala KUA di Riau, Senin (28/6/2021).


Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Dr Mahyudin menjelaskan ponit yang ada pada SE Menag tersebut untuk segera disosialisasikan kepada masyarakat kecamatan oleh KUA Kecamatan, serta semua lembaga dan ormas, tokoh adat dan tokoh agama, ataupun pengurus masjid.


Dalam SE Menag tersebut hal yang diatur adalah malam takbiran menyambut Hari Raya Idul Adha dapat dilaksanakan di semua masjid/mushalla, dengan ketentuan dilaksanakan secara terbatas paling banyak 10 persen dari kapasitas masjid/mushala, dengan memperhatikan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat.


"Kegiatan takbir keliiing dilarang untuk mengantisipasi keramaian atau kerumunan. Kegiatan takbiran dapat disiarkan secara virtual dari masjid dan mushaila sesuai ketersediaan perangkat telekomunikasi di masjid dan mushala," urai Dr Mahyudi menjelaskan SE Menag nomor 15 tahun 2021 tersebut.


Kemudian untuk Shalat Hari Raya Idul Adha 1O DzulhiJJah 1442 H/2021 M di lapangan terbuka atau di masjid/mushalla pada daerah zota merah dan orange ditiadakan. Untuk daerah di luar zona merah dan orange diperbolehkan Shalat Hari Raya Idul Adha dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid wajib menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat.


"Ketentuan untuk Shalat Hari Raya Idul Adha dilaksanakan sesuai dengan rukun shalat dan penyampaian Khutbah Idul Adha secara singkat, paling lama 15 menit. Jemaah yang hadir paling banyak 50 persen dari kapasitas tempat agar memungkinkan untuk menjaga jarak antar shaf," jelasnya.


Kemudian untuk Panitia Shalat Hari Raya Idul Adha diwajibkan menggunakan alat pengecek suhu tubuh dalam rangka memastikan kondisi sehat jemaah yang hadir, bagi lanjut usia atau orang dalam kondisi kurang sehat, baru sembuh dari sakit atau dari perjalanan, dilarang mengikuti shalat berjamaah.


"Jamaah membawa perlengkapan shalat masing-masing, seperti sajadah, mukena, dan lain-lain. Khatib diharuskan menggunakan masker dan faceshield pada saat menyampaikan khutbah Shalat Hari Raya Idul Adha. Seusai pelaksanaan Shalat Hari Raya Idul Adha, jamaah kembali ke rumah masing-masing dengan tertib dan menghindari berjabat tangan dengan bersentuhan secara fisik," pungkasnya. (ton)