DATARIAU.COM - Putaran keenam Festival Lima Gunung
XX/2021 di Studio Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Ahad (24/10/2021), menyuguhkan dokumen foto-foto aktivitas seni budaya seniman
petani Komunitas Lima Gunung.
Komunitas
itu mengemas lanjutan festival mereka dengan menyajikan pameran foto dan
diskusi "Serba-Serbi Disrupsi Kamera Medsos" di salah satu ruangan
terbuka bernama "Sendang Pitutur" di Studio Mendut, sekitar 300 meter
timur Candi Mendut Kabupaten Magelang yang dikelola budayawan dan perintis KLG,
Sutanto Mendut.
Sekitar
30 peserta, kalangan pegiat KLG dan jejaringnya di beberapa daerah sekitar
Magelang, mengikuti acara yang menghadirkan foto-foto kegiatan KLG, karya dua
pewarta foto, yakni Ferganata Indra Riatmoko (Kompas) dan Anis Efizudin (Kantor
Berita ANTARA).
Indra
menyuguhkan sembilan karya foto aktivitas seni budaya KLG, baik terkait dengan
FLG maupun kegiatan seni budaya di dusun basis komunitas itu selama dua tahun
terakhir, sedangkan Anis menghadirkan 38 foto aktivitas KLG sejak 2006 hingga
2021. Mereka menyajikan foto-foto jurnalistik itu, melalui "slide
show" dan sejumlah lainnya dalam wujud cetak.
Penari
dari Subang (Jawa Barat) Venny A.H. menyuguhkan performa tari dalam pembukaan
acara, sedangkan sejumlah seniman "Sedalu Art and Culture Community
Boyolali" (Jateng) pimpinan Novi, menyajikan teatrikal pendek tentang
disrupsi kamera dan koran.
Secara
virtual, Anis berbicara tentang foto-fotonya terkait dengan ingatan aktivitas
seni budaya KLG di kawasan lima gunung mengelilingi Kabupaten Magelang, yakni
Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Foto-foto Anis juga menunjukkan
kehadiran para tokoh, seniman, dan budayawan Indonesia dalam kegiatan KLG.
"Foto-foto
ini mengingatkan kembali pementasan-pementasan yang mengagumkan rekan-rekan
KLG. Mereka mempunyai semangat berkesenian tinggi dan mengedepankan
kebersamaan. Saya berusaha hadir (dalam kegiatan KLG, red.) memotret, hadir
tidak hanya sebagai pewarta foto, tetapi sebagai keluarga. Secara psikologis
seperti saudara," katanya.
Indra berbicara
tentang tema "Serba-Serbi Disrupsi Kamera Medsos", terutama dalam
kaitan dengan kebiasaan setiap orang era saat ini memotret peristiwa yang
dijumpai setiap hari dan aktivitas dirinya, untuk diunggah di akun media
sosial.
"Di
kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti satu atau dua 'frame" memotret,
termasuk acara-acara budaya. Dulu orang menonton itu murni menonton, sekarang
menonton sambil memotret menggunakan HP (gawai)," katanya.
Ia juga
mengemukakan, antara lain tentang foto jurnalistik, foto karya penghobi
fotografi, dan foto karya warga umumnya, "foto bocor", pentingnya
kreativitas pengambilan sudut pemotretan atas objek, serta etika memotret.
Menurut
dia, foto jurnalistik hingga saat ini masih menunjukkan pewarta foto memegang
kode etik.
"Foto
apa adanya, ndak perlu 'nyetting-nyetting' karena di koran mengutamakan foto
jujur. Harus berdamai dengan (objek pemotretan, red.) bocor-bocor, banyak cara,
yaitu kreatif dengan 'angle' (sudut pemotretan)," kata dia.
Ia
mengemukakan proses kreatif dalam pemotretan terkadang mendisrupsi pesan atas
suatu foto.
Sutanto
mengemukakan pameran dokumen foto-foto aktivitas KLG itu, selain bagian dari
upaya mewujudkan kegembiraan komunitas meskipun di tengah pandemi COVID-19,
juga membangun kesadaran bahwa persoalan disrupsi juga dihadapi masyarakat
petani dan desa.
"Disrupsi
juga pada habitat pedesaan, disrupsi macam-macam. Hari ini kaitan dengan
'smartphone' (gawai) seolah-olah menjadi instrumen hidup, seperti lintas agama,
toleransi jadi aneh. Pameran foto ini katalisator untuk memahami dunia baru,
bagaimana merumuskan etika, estetika, fungsi, memberi makna banyak hal yang mau
tidak mau berubah," kata dia.
Ia
menyebut foto-foto itu bernilai sejarah. Bagi komunitas yang dirintisnya sejak
sekitar 20 tahun lalu itu, berbagai foto tersebut piranti komunitas untuk
terus-menerus belajar tentang kehidupan, alam, insan, dan zaman.
Tema
besar FLG XX/2021 "Peradaban Desa". Putaran pertama festival pada 21
Mei 2021 di sumber air Tlompak Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kabupaten
Magelang, putaran kedua pada 29 Agustus 2021 di areal persawahan padi Dusun
Sudimoro, Desa Baleagung, Kecamatan Grabag, putaran ketiga pada 12 September
2021 di Sungai Gendu Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis,
putaran keempat pada 29 September 2021 di Studio Mendut, Kelurahan Mendut,
Kecamatan Mungkid, putaran kelima pada 10 Oktober 2021 di areal pertanian
sayuran Dusun Mantran, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak.
Festival
mandiri mereka diselenggarakan dengan menerapkan protokol kesehatan karena
pandemi COVID-19. Komunitas belum memutuskan kapan festival tahun ini berakhir.
Pada tahun lalu, saat tahun pertama pandemi, mereka menggelar 10 kali putaran
FLG XIX/2020. (*)
Source
: antaranews.com