200 Juta Jiwa Bakal Mengungsi Pada 2050

Ruslan
95 view
200 Juta Jiwa Bakal Mengungsi Pada 2050
Rongsokan kendaraan yang terbakar teronggok di kawasan yang hangus saat kebakaran Dixie di lingkungan Indian Falls, Plumas County, California, AS pada 26 Juli 2021. (Foto: AFP)

DATARIAU.COM - Perubahan iklim dapat memaksa lebih dari 200 juta orang meninggalkan rumah mereka pada tahun 2050. Seperti dilaporkan AP, Selasa (14/9/2021), hingga tiga dekade mendatang, perubahan iklim menciptakan titik rawan migrasi.

Laporan Bank Dunia menemukan bencana dapat bisa dihindari jika tindakan segera diambil untuk mengurangi emisi global dan menjembatani kesenjangan pembangunan.

Bagian kedua dari laporan Groundswell yang diterbitkan Senin (13/9) meneliti bagaimana dampak perubahan iklim yang terjadi secara lambat seperti kelangkaan air, penurunan produktivitas tanaman, dan kenaikan permukaan laut dapat menyebabkan jutaan “migran iklim” pada tahun 2050 di bawah tiga skenario berbeda dengan berbagai tingkat aksi iklim dan pembangunan.

Di bawah skenario yang paling pesimis, dengan tingkat emisi yang tinggi dan pembangunan yang tidak merata, laporan tersebut memperkirakan hingga 216 juta orang mengungsi di negara mereka sendiri di enam wilayah yang dianalisis. Wilayah tersebut adalah Amerika Latin; Afrika Utara; Sub-Sahara Afrika; Eropa Timur dan Asia Tengah; Asia Selatan; dan Asia Timur dan Pasifik.

Dalam skenario yang paling ramah iklim, dengan tingkat emisi yang rendah dan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, dunia masih dapat melihat 44 juta orang terpaksa meninggalkan rumahnya.

“Temuan menegaskan kembali potensi iklim untuk mendorong migrasi di dalam negara,” kata Viviane Wei Chen Clement, spesialis perubahan iklim senior di Bank Dunia dan salah satu penulis laporan tersebut.

Laporan tersebut tidak melihat dampak jangka pendek dari perubahan iklim, seperti efek dari peristiwa cuaca ekstrem, dan tidak melihat migrasi iklim lintas batas.

Dalam skenario terburuk, Afrika Sub-Sahara, wilayah yang paling rentan karena penggurunan, garis pantai yang rapuh, dan ketergantungan penduduk pada pertanian akan melihat sebagian besar migran, dengan hingga 86 juta orang bergerak di dalam perbatasan nasional.

Menurut laporan itu, Afrika Utara diperkirakan memiliki proporsi terbesar dari migran iklim, dengan 19 juta orang bergerak, setara dengan sekitar 9% dari populasinya, terutama karena meningkatnya kelangkaan air di Tunisia timur laut, Aljazair barat laut, Maroko barat dan selatan, dan kaki bukit Atlas tengah.

Di Asia Selatan, Bangladesh sangat terpengaruh oleh banjir dan gagal panen, terhitung hampir setengah dari perkiraan migran iklim, dengan 19,9 juta orang, termasuk peningkatan jumlah perempuan, pindah pada tahun 2050 di bawah skenario pesimis.

“Ini adalah realitas kemanusiaan kami sekarang dan kami khawatir ini akan menjadi lebih buruk, di mana kerentanan lebih akut,” kata Prof. Maarten van Aalst, direktur Pusat Iklim Bulan Sabit Merah, Palang Merah Internasional.

Meskipun pengaruh perubahan iklim terhadap migrasi bukanlah hal baru, hal itu sering kali merupakan bagian dari kombinasi faktor yang mendorong orang untuk pindah, dan bertindak sebagai pengganda ancaman.