'Adu Kuat' Minyak Bumi-Sawit Riau, Siapa Pemenangnya?

@ruslandatariau
144 view
 'Adu Kuat' Minyak Bumi-Sawit Riau, Siapa Pemenangnya?
Ilustrasi (Foto: Int)

DATARIAU.COM - Selama beberapa tahun sektor perkebunan kelapa sawit dan pertambangan minyak bumi di Riau masih menjadi primadona, pasalnya keduanya memiliki peranan yang penting terhadap PDRB Provinsi Riau.

Untuk perekonomian Riau tahun 2017, BPS Riau mencatatkan perekonomian masih didominasi oleh Kategori Pertambangan dan Penggalian, terutama Subkategori Pertambangan Minyak, Gas, dan Panas Bumi dengan kontribusi 20,22 persen terhadap perekonomian. Angka tersebut turun dari tahun ke tahun sejak 2013-2016 secara berturut-turut sebesar 36,98 persen, 33,98 persen, 24,58 persen, 21,89 persen, dan terus merangkak turun hingga saat ini. Dalam 5 tahun terakhir peranannya semakin menurun seiring dengan bergejolaknya harga minyak di pasar internasional dan lifting yang semakin berkurang.

Dari segi produksi crude oil atau minyak mentah yang dihasilkan oleh perusahaan migas di Riau mencatatkan penurunan sejak tahun 2011 dengan produksi 140,05 juta barel terus menerus turun hingga mencapai 74,09 juta barel pada tahun 2018 atau sekitar setengah produksi tahun 2011. Tren penurunan ini ditandai dengan pertumbuhan minus 6,25 persen pada kategori Pertambangan dan Penggalian pada tahun 2017 yang didorong kontraksi pertumbuhan sebesar minus 6,32 persen pada subkategori Pertambangan Minyak Bumi, Gas, dan Panas Bumi.


Perkebunan yang menjadi andalan baru sebagai lokomotif penggerak perekonomian Riau memberikan peranan sebesar 14,61 persen pada tahun 2017 yang sebagian besar ditopang oleh hasil perkebunan kelapa sawit. Kenaikan kontribusi telah dirasakan sejak tahun 2013-2016 yang secara berturut-turut sebesar 11,63 persen, 12,13 persen, 13,04 persen, dan 13,31 persen. Kenaikan kontribusi ini sejalan dengan kenaikan produksi crude palm oil atau minyak mentah kelapa sawit yang dialami sejak tahun 2011 dengan total produksi 5,75 juta ton hingga 7,86 juta ton pada tahun 2018. Angka tersebut bisa saja terus meningkat seiring waktu mengingat lahan perkebunan kelapa sawit yang terus meningkat.

Blok Rokan

Blok Rokan merupakan ladang minyak andalan dan tulang punggung produksi minyak RI yang dikelola perusahaan swasta asing PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) dan akan diambilalih PT Pertamina (Persero) salah satu perusahaan plat merah di bidang migas mulai Agustus 2021. Pada 2017 produksi minyak Blok Rokan sebesar 223.885 bph kemudian turun menjadi 209.478 bph pada 2018. Hal tersebut disebabkan sumur bor kilang minyak yang ada sudah tua dan sudah tidak ada pengeboran lagi sejak 2019. Dengan target produksi akibatnya posisi Blok Cepu menggeser posisi Blok Rokan sebagai penghasil minyak terbesar pada tahun 2019.


Potensi Energi Terbarukan

Sebagai negara penghasil kelapa sawit tebesar di dunia, Indonesia berpotensi mengembangkan produksi energi terbarukan melalui pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) atau biodiesel.

Pemerintah yang saat ini juga tengah mewajibkan pemakaian bahan bakar biodiesel 30 persen (B30) sejak diresmikannya oleh Presiden Joko Widodo pada akhir tahun 2019 yang merupakan percepatan implementasi B30 yang awalnya dicanangkan tahun 2020. Hal ini dikarenakan ikhtiar pemeintah dalam mencari sumber-sumber energi baru terbarukan dan upaya melepaskan diri dari ketergantungan pada energi fosil yang suatu saat pasti akan habis. Pengembangan energi baru terbarukan juga membuktikan komitmen dalam menjaga planet bumi, menjaga energi bersih dengan menurunkan emisi gas karbon dan meningkatkan kualitas lingkungan.

Presiden juga mengklaim potensi penghematan devisa negara hingga Rp 63 triliun atau sekitar US$ 4,8 miliar yang berasal dari berkurangnya impor minyak. Selain itu implementasi B30 juga dapat menekan defisit neraca perdagangan, BPS mencatat terjadi defisit pada neraca perdagangan migas sebesar US$ 9,3 miliar. Presiden juga menambahkan bahwa implementasi B30 juga menciptakan permintaan domestik akan CPO yang sangat besar hingga menciptakan multiplier effect terhadap 16,5 juta petani perkebunan sawit yang akan terangkat perekonomiannya.

Sektor pertambangan minyak bumi saat ini memang masih mendominasi perekonomian di Provinsi Riau, namun pergerakannya yang cenderung menurun dan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan minyak yang masih dikandung mendesak pencarian energi baru lagi terbarukan. Dengan serapan tenaga kerja yang tinggi, luasnya lahan perkebunan dan produksi kelapa sawit yang melimpah dapat diupayakan sebagai salah satu lokomotif penggerak baru perekonomian Riau. (*)

Penulis
: Muhammad Rizky Zidane
Sumber
: datariau.com
Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com