oleh dr M Saifudin Hakim MSc PhD

Dalam Beribadah, Hanya Niat Baik Semata Itu Tidak Cukup

Ruslan
432 view
Dalam Beribadah, Hanya Niat Baik Semata Itu Tidak Cukup
Foto: eramuslim

DATARIAU.COM - Sebagian di antara kaum muslimin, jika kita ingatkan dan kita sampaikan bahwa tata cara ibadah yang mereka lakukan itu tidak ada ajaran dan tuntunan dari Rasulullah shallallahi ‘alahi wa sallam, serta merta mereka beralasan dengan “niat baik”. Yang mereka pahami dan yakini, jika praktik ibadah yang mereka lakukan itu didasari oleh niat baik, tentu Allah Ta’ala akan membalasnya dengan pahala.

Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang keliru. Karena Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjelaskan bahwa syarat diterimanya ibadah itu ada dua, yaitu: (1) mengikhlaskan ibadah tersebut hanya untuk Allah Ta’ala semata dan (2) mengikuti petunjuk (tuntunan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’).

Ikhlas semata, atau hanya bermodal niat baik, tentu saja tidak cukup, jika syarat kedua tidak terpenuhi. Dalam tulisan ini, kami akan sampaikan beberapa pelajaran yang menunjukkan bahwa dalam beribadah, hanya niat semata itu tidak cukup.

Pelajaran pertama: Berwudhu namun diancam neraka

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Abu Hurairah dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَيلٌ لِلأَعقَابِ مِنَ النارِ

“Celakalah tumit-tumit (yang tidak terbasuh dengan air wudhu) yang akan terkena api neraka” (HR. Bukhari no. 60, 96, 163 dan Muslim no. 241, 242)

Dalam riwayat Bukhari (no. 60, 96 dan 163), beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan tersebut sebanyak dua atau tiga kali.

Dalam riwayat Muslim (no. 241), ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan kronologis peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dengan mengatakan,

“Kami pulang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekah menuju Madinah. Di tengah perjalanan, kami tiba di suatu tempat yang terdapat air. Sebagian orang tergesa-gesa berwudhu karena takut waktu ‘ashar segera habis. Ketika kami menghampiri mereka, kami dapati tumit-tumit mereka masih kering belum terbasuh air. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah tumit-tumit (yang tidak terbasuh dengan air wudhu) yang akan terkena api neraka. Sempurnakanlah wudhu kalian dengan baik.”

Mari kita perhatikan baik-baik kisah di atas. Tentu kita tidak meragukan “niat baik” para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang segera mengambil air wudhu karena khawatir waktu shalat ‘ashar segera habis. Namun, ketika wudhu mereka tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam mereka dengan ancaman yang sangat keras berupa api neraka.

Rasulullah tetap mengancam mereka dengan neraka, padahal kondisi mereka itu sedang beribadah (berwudhu untuk shalat). Wudhu adalah ibadah yang tentu saja disyariatkan. Jika mereka diancam karena sebab ibadah yang pada asalnya disyariatkan, namun dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bagaimana lagi dengan orang yang melakukan praktik ibadah yang sama sekali tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Pelajaran kedua: Berpuasa namun dinilai bermaksiat

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi menuju Mekah pada peristiwa Fathu Mekah (pembebasan kota Mekah) di bulan Ramadhan. Beliau berpuasa hingga beliau sampai di suatu tempat bernama Kura’ Al-Ghamim, dan para sahabat pun ikut berpuasa. Kemudian beliau meminta segayung air, lalu beliau mengangkatnya sehingga para sahabat pun melihatnya, kemudian beliau meminumnya. Setelah itu dikatakanlah kepada beliau bahwa sebagian sahabat tetap melanjutkan puasa.”

Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُولَئِكَ العُصَاةُ، أُولَئِكَ العُصَاةُ

“Mereka adalah orang-orang yang bermaksiat (kepadaku), mereka adalah orang-orang yang bermaksiat (kepadaku)” (HR. Muslim no. 1114).

Dalam riwayat yang lain, terdapat penjelasan latar belakang peristiwa tersebut, yaitu dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘aaihi wa sallam,

“Sesungguhnya para sahabat merasa berat (kepayahan) untuk berpuasa, namun karena mereka melihat Engkau (Rasulullah) berpuasa (maka mereka tetap berpuasa). Akhirnya Rasulullah meminta diambilkan segayung air setelah shalat ‘ashar.”

Tentu kita tidak meragukan lagi “niat baik” dan kesungguhan para sahabat untuk tetap melanjutkan puasa meskipun mereka dalam kondisi yang sangat kepayahan ketika itu. Apalagi ketika itu hampir berbuka karena setelah shalat ‘ashar. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menilai mereka bermaksiat karena menyelisihi petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membatalkan puasa, karena jika tidak dibatalkan, justru akan membahayakan jiwa mereka.

Istilah “maksiat” tentu saja dilekatkan kepada setiap perbuatan yang melanggar perintah atau menerjang larangan. “Niat baik” mereka untuk tetap melanjutkan ibadah, sama sekali tidak dianggap oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pelajaran ketiga: Ingin sungguh-sungguh beribadah, namun dinilai bukan termasuk dalam golongan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kisah ini cukup terkenal. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada tiga orang yang mendatangi rumah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan bagaimanakah ibadah beliau. Ketika telah disampaikan kepada mereka, mereka pun merasa bahwa ibadah mereka sangat sedikit, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka mengatakan, “Di manakah posisi kita dibandingkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Padahal Allah Ta’ala telah mengampuni dosa-dosa beliau, baik yang telah berlalu maupun di masa mendatang.”

Salah seorang di antara mereka berkata, “Adapun aku, aku akan shalat malam selamanya” (maksudnya, tidak tidur demi bisa mendirikan shalat).

Yang lain berkata, “Aku akan berpuasa dahr“(berpuasa sepanjang tahun) dan selalu berpuasa (tidak pernah tidak puasa).

Orang ketiga berkata, “Aku akan jauhi wanita, aku tidak akan menikah selama-lamanya.”

Lalu datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau berkata,

“Apakah kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya dibandingkan kalian. Akan tetapi, terkadang aku puasa dan terkadang aku tidak berpuasa; aku shalat dan aku juga tidur; dan aku juga menikah dengan wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku” (HR. Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401).

Sekali lagi, perhatikanlah baik-baik hadits ini. Kita melihat bahwa tiga orang sahabat tersebut memiliki “niat baik” untuk bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah yang pada asalnya disyariatkan, yaitu shalat dan puasa. Akan tetapi, praktik, tata cara, atau pelaksanaannya tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari perbuatan mereka dan sama sekali tidak memandang niat mereka yang baik dan tulus.

Lalu, bagaimana lagi jika mereka membuat-buat model ibadah jenis baru yang sama sekali tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Pelajaran keempat: Kambing sembelihan biasa, bukan hewan kurban

Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah kepada para sahabat pada hari raya Idul Adha setelah mengerjakan shalat Idul Adha. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن صَلى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَد أَصَابَ النسُكَ ، وَمَن نَسَكَ قَبلَ الصلاَةِ فَإِنهُ قَبلَ الصلاَةِ ، وَلاَ نُسُكَ لَهُ

“Barangsiapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih kurban seperti kurban kami, maka ia telah mendapatkan pahala (menyembelih hewan) kurban. Barangsiapa yang berkurban sebelum shalat Idul Adha, maka itu hanyalah sembelihan yang ada sebelum shalat dan tidak dianggap sebagai hewan kurban.”

Abu Burdah bin Niyar radhiyallahu ‘anhu, yang merupakan paman dari Al-Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata,

“Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku ingin jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

شَاتُكَ شَاةُ لَحمٍ

“Kambingmu itu hanyalah kambing biasa (namun bukan kambing kurban)” (HR. Bukhari no. 955).

Dalam kisah di atas, sahabat Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu memiliki niat baik dengan menyembelih kambing beliau sebelum shalat Idul Adha, agar kambing beliau menjadi yang pertama kali dihidangkan kepada para sahabat untuk dimakan setelah shalat Idul Adha, Siapakah yang mengingkari niat baik ini? Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai bahwa kambing tersebut adalah kambing sembelihan biasa, tidak termasuk hewan kurban. Hal ini karena menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyembelih hewan kurban setelah shalat Idul Adha.

Pelajaran ke lima: Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu mengingkari majelis dzikir

Diriwayatkan dari ‘Amr bin Salamah Al-Hamdani radiallahu’anhu, beliau berkata,

“Suatu ketika kami duduk di depan pintu rumah ‘Abdullah bin Mas‘ud sebelum shalat subuh. Apabila beliau keluar, kami akan berjalan bersamanya menuju masjid. Tiba-tiba, datanglah Abu Musa Al-Asy‘ari, lalu bertanya, “Apakah Abu ‘Abdirrahman telah keluar rumah?”

Kami menjawab, “Belum.”

Dia pun duduk bersama kami hingga ‘Abdullah bin Mas‘ud keluar. Ketika beliau keluar, kami semua bangun untuk menyambutnya.

Lalu Abu Musa Al-Asy‘ari berkata kepadanya, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, aku telah melihat di masjid tadi satu perkara yang tidak aku setujui, tetapi aku tidak melihat "alhamdulilah- melainkan perkara yang baik.”

Dia bertanya, “Apakah itu?”

Abu Musa berkata, “Jika umur engkau panjang, engkau akan melihatnya. Aku melihat sekelompok orang, mereka duduk dalam lingkaran (halaqah) menunggu shalat. Pada setiap kelompok, ada seorang lelaki yang di tangan mereka memegang batu. Apabila lelaki itu berkata,‘Bertakbirlah seratus kali!’, mereka pun bertakbir seratus kali. Apabila dia berkata,‘Bertahlil-lah seratus kali’, mereka pun bertahlil seratus kali. Apabila dia berkata,‘Bertasbihlah seratus kali’, mereka pun bertasbih seratus kali.”

‘Abdullah bin Mas‘ud radiallahu’anhu berkata, “Apa yang telah Engkau katakan kepada mereka?”

Abu Musa menjawab, “Aku tidak mengatakan apa-apa kepada mereka karena aku menanti pendapat dan perintahmu.”

‘Abdullah bin Mas‘ud radiallahu’anhu berkata, “Mengapa Engkau tidak memerintahkan mereka menghitung kejelekan-kejelakan mereka dan Engkau jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan sia-sia sedikit pun.”

Lalu beliau berjalan, kami pun berjalan bersamanya. Sehingga beliau tiba di salah satu kelompok melingkar tersebut. Beliau berdiri lantas berkata, “Apa ini yang aku lihat kalian sedang melakukannya?”

Mereka menjawab, “Wahai Abu ‘Abdirrahman! Ini adalah batu yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih.”

Ibnu Mas’ud radiallahu’anhu menjawab,

“Hitunglah dosa-dosa (kejelekan) kalian, dan aku jamin pahala-pahala (kebaikan) kalian tidak akan sia-sia sedikit pun. Celaka kalian, wahai umat Muhammad! Alangkah cepat kebinasaan kalian. Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih banyak, baju beliau belum lusuh, dan wadah makanan dan minuman beliau pun belum pecah. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada di atas agama yang lebih mendapatkan petunjuk daripada agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau sebenarnya kalian sedang membuka pintu-pintu kesesatan?”

Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdirrahman, kami hanya bertujuan baik.”

Ibnu Mas’ud radiallahu’anhu menjawab,

وَكَم مِن مُرِيدٍ لِلخَيرِ لَن يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tetapi mereka tidak mendapatkannya.” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunan-nya no. 204 dengan sanad yang hasan)

Ketika Ibnu Mas’ud radiallahu’anhu menjumpai sekelompok orang yang berdzikir namun dengan tata cara yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Ibnu Mas’ud radiallahu’anhu menjelaskan bahwa hal itu hanya mengandung dua kemungkinan:

Pertama, mereka menyangka bahwa mereka lebih mendapatkan petunjuk dari agama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ke dua, mereka sedang membuka pintu-pintu kesesatan dalam agama ini.

Dan ketika mereka mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu mereka dasari atas niat baik, maka Ibnu Mas’ud radiallahu’anhu pun menjelaskan bahwa betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya karena mereka salah jalan.

Perkataan Ibnu Mas’ud radiallahu’anhu ini adalah di antara kalimat-kalimat yang perlu dicatat dengan tinta emas.

Pelajaran ke enam: Ibnu ‘Umar mengingatkan orang yang bersin

Diriwayatkan dari Nafi’, ada seseorang yang bersin di samping Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, kemudian orang tersebut mengatakan,

الحَمدُ لِلهِ، وَالسلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ

“Alhamdulillah was salaamu ‘ala Rasulillah.” (Segala puji bagi Allah dan semoga keselamatan tercurahkan kepada Rasulullah.”

Mendengar hal itu, sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Saya memang mengucapkan ‘alhamdulillah was salaamu ‘ala Rasulillah’. Akan tetapi, bukan seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengajarkan kami untuk mengucapkan “alhamdulillah ‘ala kulli haal” (segala puji bagi Allah pada setiap keadaan).” (HR. Tirmidzi no. 2738, hadits hasan).

Lihatlah bagaimana sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menegur seseorang yang mengucapkan “alhamdulillah was salaamu ‘ala Rasulillah” ketika bersin. Tidak ada yang salah dengan ucapan tersebut, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, beliau menegur karena bukan ucapan seperti itu yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersin.

Pelajaran ke tujuh: Shalat sunnah qabliyah subuh lebih dari dua rakaat

Diriwayatkan dari Sa’id bin Musayyib rahimahullah, beliau melihat seorang laki-laki yang shalat sunnah setelah terbit fajar (shalat sunnah qabliyah subuh) lebih dari dua rakaat, dia perbanyak ruku’ dan sujud dalam shalat tersebut. Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang tersebut berkata,

يا أبا محمد! يعذبني الله على الصلاة؟

“Wahai Abu Muhammad! Apakah Allah akan mengadzabku karena aku (memperbanyak) shalat?”

Sa’id bin Musayyib rahimahullah menjawab,

لا، ولكن يعذبك على خلاف السنة

“Tidak, akan tetapi (bisa jadi Engkau diadzab) karena menyelisihi sunnah (petunjuk Nabi).” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra, 2/366; Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih, 1/147; ‘Abdur Razzaq, 3/25; Ad-Darimi, 1/116 dan Ibnu Nashr, hal. 84; dengan sanad yang hasan)

Lihatlah, betapa indah jawaban yang disampaikan oleh Sa’id bin Musayyib rahimahullah kepada orang tersebut. Ini adalah jawaban yang tajam kepada siapa saja yang membuat-buat ibadah jenis baru dengan mengatas-namakan (memperbanyak) dzikir atau shalat! Setelah itu, mereka pun menuduh orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah yang mengingkari perbuatan mereka tersebut. Mereka menuduh bahwasannya orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah tersebut menolak atau mengingkari ibadah dzikir atau shalat. Padahal, yang diingkari sebetulnya adalah penyelisihan terhadap sunnah dalam praktek atau tata cara berdzikir atau shalat. Maka renungkanlah hal ini.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)