SELAT PANJANG, datariau.com - Siapa yang tidak sedih ketika niat hati ingin memberi pertolongan kepada orang lain disaat keadaan genting, namun ternyata gagal hingga membuat hati terpukul yang sangat mendalam. Bahkan upaya membantu ingin menyelamat pun hanya sia-sia.
Hal ini seperti yang dialami Supriadi (41), salah seorang korban rumah kebakaran yang terjadi di Gang Sempurna, Jalan Ismail, Kampungbaru, Kelurahan Selatpanjang Selatan, Kecamatan Tebingtinggi, Kepulauan Meranti, Sabtu (23/9/2017) malam. Ia hanya pasrah ketika rumahnya sudah ludes terbakar.
Waktu itu, pukul 21.10 wib malam, ia baru pulang dari pasar yang terletak di Kota Selatpanjang. Sesampainya di rumah, mengingat hari ingin larut malam, ia berniat menyuruh anaknya masuk ke kamar segera lekas untuk tidur.
Singkat cerita, sesaat ingin menghidupkan obat anti nyamuk dan membangunkan anaknya sedang tidur di depan tv, ia membawa anaknya menuju ke kamar, namun tiba-tiba ia terkejut dan langsung timbul kepanikan. Pasalnya dari dinding kamarnya terlihat ada api yang tidak tahu dari mana asalnya.
"Saat itu tengah menghidupkan obat nyamuk, dan menyuruh anak untuk segera tidur. Namun saya terkejut karena heran kok bisa ada api besar di dinding rumah saya," cerita bapak dua anak ini saat diwawancarai Datariau.com di depan rumahnya yang sudah rata dengan tanah.
Melihat api semakin membesar, ia mencoba langsung menyelamatkan anak dan istrinya keluar rumah. Namun dalam keadaan panik, ia mencoba mencari sumber api tersebut.
Ternyata api itu berasal dari arah rumah petak kayu yang terletak di sebelah rumahnya. Saat tahu rumah petak itu terbakar, ia terbayang di dalam rumah tersebut ada seorang bayi berusia 7 bulan dan anak kecil berusia 4 tahun yang merupakan anak dari seorang ibu bernama Ani (28), warga Tionghoa yang biasa dipanggil dengan sebutan Ame.
Waktu itu, hati Supriadi tergerak ingin menolong ibu dan anak bayinya. Bahkan bathinnya sangat kuat ingin menuju ke dalam setelah ia mendengar suara teriakan minta tolong sebanyak dua kali dari arah rumah petak tersebut.
Namun apa daya, ia hanya bisa meneteskan airmata karena tidak bisa menolong mereka yang sudah terkepung oleh amukan api yang terus semakin membesar.
Hatinya saat itu sangat terpukul dan sedih, upayanya gagal dan sia-sia walaupun sempat berusaha memadamkan api dengan alat seadanya, namun kobaran api tetap saja besar.
"Saya dengar teriakan minta tolong dua kali dari rumah itu. Saya langsung berpikir ada anak bayi disana, saya ingin menolong, tapi melihat api sangat besar jadi tidak bisa untuk menyelamatkan, karna saat itu saya sendirian memadamkan api. Saya menangis sedih," ungkap Supriadi, yang katanya setelah upayanya gagal ia langsung berlari ke tempat yang aman dari tempat kebakaran.
Namun semuanya sudah terlambat, rumah petak kayu dua pintu itu ludes terbakar dengan seisi-isinya dalam hitungan menit. Ibu dan dua anaknya yang terjebak di dalam rumah itupun hangus terbakar.

Sementara Supriadi selamat bersama anak dan istrinya. Rumahnya yang juga ikut terbakar akibat terkena sambaran api dari rumah petak kayu itu sudah rata dengan tanah dalam sekejap.
Menurut laporan yang dihimpun datariau.com di lapangan, diduga penyebab terjadinya kebakaran adalah lilin. Sumber api berasal dari rumah petak kayu di pintu yang kedua yang dihuni oleh Ame dan kedua anaknya.
Sementara satu pintunya lagi, dihuni oleh kakeknya bernama Kok Ho (61) dan abangnya Ading. Mereka semuanya merupakan satu keluarga besar.
Pukul 21.10 wib, dari rumah Ame muncul kobaran api yang sangat besar. Lima menit kemudian, dengan sekejapnya dua rumah petak itu ludes terbakar.
Bahkan merambat hingga ke rumah Supriadi. Untungnya Supriadi dan keluarganya dapat menyelamatkan diri.
"Kebetulan kakek dan abangnya korban (Ame, red) yang meninggali rumah petak sebelahnya sedang keluar pergi ke Kelenteng. Dia baru tahu setelah rumahnya sudah ludes terbakar," ujar Supriadi lagi.
Hingga pukul 21.30 wib tiga rumah tersebut sudah tidak terlihat lagi satu pun tiang yang tegak berdiri, alhasil ludes terbakar. Beberapa menit kemudian, pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian untuk memadamkan api.
Dengan dibantu sejumlah personil kepolisian, api berhasil dipadamkan. Petugas yang saat itu memadamkan sisa puing-puing yang terbakar, juga berhasil menemukan korban yang hangus terbakar dan mengevakuasinya.
Dalam keterangannya, Paur Humas Polres Kepulauan Meranti Iptu Djonni R membenarkan tiga rumah tersebut ludes terbakar. Kata dia, api berasal dari rumah petak kayu.
Dugaan sementara, penyebab kebakaran adalah lilin. Hal ini diperkuat karena rumah petak kayu diketahui tidak dialiri listrik, hanya penerangan lilin dan lampu teplok.
"Akibat kebakaran ini kerugian materil ditaksir mencapai 400 juta rupiah," ujarnya.

Diakui sebelumnya, dalam pengevakuasian korban kebakaran, petugas berhasil menemukan dua kerangka manusia yang diduga Ame dan anaknya. Sementara seorang anaknya lagi masih dalam pencarian di tkp.