Bukan Teknologi Canggih yang Menentukan Maju Tidaknya Sekolah, Tapi Pemimpin yang Berani Berubah

Samsul
379 view
Bukan Teknologi Canggih yang Menentukan Maju Tidaknya Sekolah, Tapi Pemimpin yang Berani Berubah
Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru, Novaria Br. Ginting.
DATARIAU.COM-Pada suatu kesempatan, saya berkunjung ke sebuah sekolah yang ada di Bagan Batu. Di ruang kepala sekolah, saya disambut dengan penuh antusias. Sang kepala sekolah dengan bangga menunjukkan fasilitas laboratorium komputer, laptop, dan proyektor sekolah. “Sekarang kami sudah digital, Bu,” katanya, sambil tersenyum puas. Saya akui, sejak beliau memimpin, sekolah tersebut mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Namun ketika saya masuk ke beberapa kelas, pemandangan yang saya dapati sungguh kontras. Proses belajar mengajar masih berjalan seperti sebelumnya, guru mencatat di papan tulis, murid menyalin di buku, dan nyaris tidak ada aktivitas interaktif. Laptop dan proyektor canggih itu hanya dipakai saat tertentu saja. Ketika saya tanya, salah satu guru menjawab jujur, “Kami belum terlalu tahu cara pakainya, Bu. ”

Pengalaman ini bukan kasus tunggal. Ia adalah potret banyak sekolah di Indonesia, yang mengejar simbol modernisasi tanpa membangun kesiapan sumber daya manusianya. Di sinilah letak kekeliruan besar kita, mengira bahwa kemajuan sekolah ditentukan oleh seberapa banyak perangkat teknologi yang dimiliki. Padahal, perangkat hanyalah alat. Yang menentukan dampaknya adalah bagaimana alat itu digunakan dan itu berpulang pada siapa yang memimpin sekolah.

Kita hidup dalam zaman yang menuntut perubahan cepat. Revolusi Industri 4.0, pandemi global, dan dinamika sosial yang terus bergerak, menuntut dunia pendidikan beradaptasi. Tetapi adaptasi bukan berarti sekadar berbelanja alat teknologi. Adaptasi menuntut perubahan cara berpikir, cara belajar, dan cara memimpin. Banyak sekolah menganggap tugas mereka selesai begitu berhasil menyediakan jaringan internet, komputer, laptop, proyektor, atau ruang kelas digital. Tapi tanpa strategi pembelajaran yang jelas dan kepemimpinan yang mendorong guru untuk belajar hal baru, teknologi itu hanya menjadi “pajangan mahal”. Sering kali, penggunaannya pun dipaksakan tanpa memahami konteks, hingga akhirnya hanya menambah beban administrasi.

Pemimpin sekolah adalah penentu arah, ritme, dan budaya belajar. Kepala sekolah yang baik bukan hanya administrator, tetapi agen perubahan. Ia peka terhadap kebutuhan guru dan murid, mampu membangun visi bersama, dan memiliki keberanian untuk membuat keputusan yang tidak selalu mendapat dukungan, demi kepentingan jangka panjang. Kepemimpinan yang kuat tidak tergantung pada fasilitas, melainkan pada keberanian untuk berubah dan membawa orang lain ikut berubah. Seorang kepala sekolah di daerah Bagan Batu, misalnya, berhasil mendorong guru-guru di sekolahnya untuk menerapkan pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan kehidupan lokal. Tanpa tablet atau laptop, tanpa aplikasi mahal, mereka menggunakan kertas bekas, tanaman lokal, dan cerita rakyat untuk merancang pembelajaran kontekstual. Dalam setahun, sekolah tersebut menjadi rujukan karena budaya inovatifnya.

Apa yang membuat perbedaan? Bukan anggaran. Bukan alat. Tapi karakter kepemimpinan. Pemimpin yang berani berubah tidak akan puas dengan rutinitas. Ia akan terus bertanya: apakah cara kita mengajar masih relevan? Apakah anak-anak kita terlibat dalam pembelajaran? Apakah guru-guru kita diberdayakan untuk berkembang?. Keberanian berubah sering kali berarti menentang kebiasaan lama, membongkar cara pikir yang stagnan, dan mengambil risiko. Pemimpin semacam ini mungkin dikritik, dianggap “terlalu idealis”, bahkan ditolak pada awalnya. Tapi seiring waktu, keberanian itu akan menjadi fondasi kemajuan yang berkelanjutan. Ironisnya, tidak sedikit pemimpin pendidikan yang lebih takut salah daripada tertinggal. Akibatnya, mereka memilih “diam di tempat” karena aman, padahal stagnasi dalam dunia pendidikan adalah bentuk kegagalan yang paling nyata.

Sekolah yang hebat tidak dibangun dengan alat-alat mahal, tapi dengan budaya belajar yang kuat. Budaya itu tumbuh ketika pemimpin memberikan ruang bagi inovasi, mendukung guru untuk mencoba hal baru, dan menghargai proses, bukan hanya hasil. Ketika seorang pemimpin memprioritaskan pelatihan guru, dialog antar staf, refleksi pembelajaran, dan kolaborasi dengan masyarakat, maka sekolah akan menjadi ekosistem yang hidup. Teknologi, jika hadir, akan melengkapi. Tapi jika tidak pun, pembelajaran tetap bisa berlangsung dengan baik karena fondasinya sudah kuat.

Kini saatnya kita berhenti mengukur kemajuan sekolah dari seberapa banyak perangkat yang dibeli, dan mulai bertanya: seperti apa karakter pemimpinnya? Apakah ia seorang pembelajar? Apakah ia mau mendengar, reflektif, dan terbuka terhadap perubahan? Apakah ia mampu membangun budaya sekolah yang hidup dan terus bertumbuh? Karena pada akhirnya, bukan perangkat teknologi yang membuat sekolah maju. Bukan sinyal internet yang menjamin kualitas belajar. Tapi pemimpin yang berani berubah, yang terus mendorong semua warga sekolah untuk belajar bersama dan tumbuh bersama, itulah kekuatan sejati pendidikan.(***)

Oleh: Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru, Novaria Br. Ginting (2386110167), Erlina(2386110163).
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)