DATARIAU.COM - Penyaluran donasi ke SDN 010 Marjinal Batu Sasak Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar Provinsi Riau dilakukan mulai Jumat, 05 Maret 2019. Penyaluran dilakukan oleh 10 orang yang tergabung dalam tim Kirei GenBI (Generasi Baru Indonesia) dan anggota tambahan sebanyak 4 orang relawan. Keberangkatan seluruh anggota bersamaan pada pukul 17.07 WIB dari Panam, Pekanbaru.
Setelah beberapa jam perjalanan, tim memutuskan beristirahat di masjid raya Al Mizan di Air Tiris melaksanakan shalat isya sekaligus melakukan makan malam bersama. Di masjid ini juga anggota Tim Kirei GenBI beristirahat di malam harinya dan baru melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Tepat pukul 06.00 WIB, setelah bersiap dan shalat subuh berjamaah, perjalanan dilanjutkan.
Selang satu jam melanjutkan perjalanan, tim memasuki jalan tanah yang berdebu di Desa Sungai Harapan. Dari sini, medan yang sulit mulai terasa. Kira-kira setelah 30 KM perjalanan dilewati, tim sampai di Desa Muara Selaya dan berhenti cukup lama karena 2 rekan tim harus menjemput handphone salah satu anggota yang tertinggal di perhentian sebelumnya.
Selama tiga jam setelahnya, Jalanan dengan tanjakan dan penurunan yang kemiringannya mencapai 45 derajat ditemui sepanjang perjalanan. Tak hanya itu, jalanan yang becek dan berlubang juga ditemui di beberapa tempat. Di sepanjang jalan ini tak banyak warga yang kami temui. Perumahan warga juga tidak nampak sama sekali. Dari sini, wajah desa tertinggal mulai terasa.
Setelah itu tim tiba di desa pertama yang bernama Desa Sadam Sasak. Berdasarkan informasi yang didapat, desa Batu Sasak sudah dekat namun perlu melalui jalanan yang terjal dan sulit untuk sampai kesana. Tim kembali melanjutkan perjalanan dan kembali singgah di sebuah bengkel selang setengah jam kemudian.
Setelah melewati dua jembatan, tim kembali memasuki jalan dengan bukit dipenuhi pepohonan yang rindang si sisi kanan dan jurang curam di sisi kiri jalan sejauh 28 KM. Di sepanjang jalan ini juga banyak ditemui jalan berlubang dengan genangan air yang cukup dalam dan jalanan yang menurun tajam. Akhirnya tim sampai di lokasi penginapan yang berjarak satu desa dengan desa Batu Sasak.
Ketua tim, Muhammad Yazim memerintahkan seluruh anggota bersiap dan membawa semua perlengkapan donasi untuk dibawa ke SDN 010 Batu Sasak. Tim diantar oleh salah seorang warga untuk sampai ke sekolah tersebut. Untuk kesana, tim harus melewati sungai yang cukup dangkal dan jalanan yang licin. Seluruh tim sampai di SDN 010 Batu Sasak yang berada di atas bukit.
Sampai di sekolah yang kami tuju, tim terkejut dengan kondisi sekolah yang hanya memiliki dua ruang kelas dan satu kantor sekaligus perpustakaan. Dari depan, nampak pula sebagian isi ruangan karena ruang kelas yang tidak memiliki pintu dan jendela. Perpustakaan juga tak banyak memiliki stok buku dan kondisi buku di rak juga berantakan. Murid yang berjumlah dua belas orang telah duduk rapi di dalam kelas menunggu kedatangan kami yang memang sebelumnya memang telah diinfokan. Dua orang guru yang mengajar di sekolah tersebut berdiri di dekat pintu, terseyum dan menyambut kami ramah.
Akhirnya, pemberian materi ke murid diakhiri dengan games dan flashmob bersama seluruh tim di halaman sekolah. Tim berencana untuk merenovasi beberapa bagian sekolah yang rusak. Namun, karena tidak adanya toko bangunan di desa tersebut juga sepanjang perjalanan yang kami lewati sebelumnya, maka tim memutuskan untuk mendonasikan uang untuk membeli pintu dan jendela sekolah.
Karena tim tidak bisa berlama-lama disana, maka tim memercayakan uang tersebut kepada pihak guru dan warga sekitar. Seragam dan alat tulis juga segera dibagikan oleh tim ke seluruh murid.Berbincang-bincang dengan para guru yang mengajar di SDN 010 Marjinal Batu Sasak cukup membuat kami prihatin.
Asmawati menuturkan, "Jauhnya lokasi tempat tinggal dengan sekolah yang berkisar kira-kira 4 KM, harus membuat para guru dan murid berjalan dengan waktu tempuh 40 menit, itu pun jika jalan dalam keadaan kering. Jika cuaca sedang hujan dan air sungai naik, maka guru harus membayar uang sampan untuk melewati sungai dan membayar uang ongkos sebesar 2.000 Rupiah untuk sekali jalannya. Tak kenal Lelah mengajar setiap harinya dari senin hingga sabtu mulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Sekolah yang hanya terdapat 2 ruangan kelas membuat para siswa harus belajar dengan rangkap atau di gabung agar murid-murid bisa belajar dengan dengan waktu yang bersamaan."
Setelahnnya tim dan segenap keluarga SDN 010 Batu Sasak berfoto bersama dan tak lama tim berpamitan. Akhirnya proses penyaluran donasi telah selesai dilaksanakan dan tim kembali ke lokasi penginapan. Tim menginap disalah satu rumah warga yang.
Tiga orang perwakilan dari tim pergi untuk memberikan donasi berupa uang kepada salah satu guru yang mengajar di SDN 010 Marjinal Batu Sasak. Selepas itu tim bersiap-siap untuk kembali ke Pekanbaru. Namun hujan malam yang mengguyur desa membuat tim harus berdiskusi terlebih dahulu dengan warga sekitar, keputusan harus diambil Bersama dan pulang Bersama-sama.
Maka tim memutuskan untuk menunda keberangkatan beberapa jam karena dikhawatirkan jalan yang rusak setelah terkena hujan membuat jalan licin dan berbahaya. Para tim memanfaatkan waktu yang ada untuk memperbaiki kendaraannya sembari menunggu waktu yang pas untuk kembali pulang.
Tepatnya pukul 10.33 WIB tim memutuskan untuk berangkat pulang. Benar saja hujan malam yang dialami desa membuat jalan semakin licin dan tim harus berhati-hati mengingat jalan yang memiliki tingkat kemiringan kurang lebih 45 derajat.
Tepat pukul 13.51 tim beristirahat disalah satu masjid yang ada di desa sungai raja, yaitu masjid Al Mujahidin. Shalat dan bersih-bersih menjadi agenda mereka di masjid dan pukul 14.26 WIB tim kembali melnjutkan perjalanan. Pada pukul 15.50 sampailah tim di Air tiris, jalan lintas sumatera. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya tim sampai di pekanbaru pada pukul 19.06 WIB. (rls)