Palestina Adalah Kita

Oleh: Alfiah, S.Si
datariau.com
921 view
Palestina Adalah Kita

DATARIAU.COM - Palestina dan Israel kembali melakukan perang terbuka. Perang yang tak kunjung padam semenjak berdirinya negara Israel di Palestina. Sejak hari pertama serangan HAMAS, tidak kurang dari 5000 roket ditembakkan dari Gaza ke Israel. Tentu serangan HAMAS ini memakan ratusan korban dari pihak tentara Yahudi.

Pembalasan kaum Yahudi jauh lebih besar dan brutal. Mereka menyerang warga Palestina secara membabi buta. Serangan brutal Yahudi telah menewaskan 770 warga Palestina, termasuk 140 anak-anak dan 120 wanita. Data korban dari pihak Palestina kemungkinan akan terus bertambah.

Ironisnya, tak ada sama sekali bantuan militer dari negara-negara Arab dan mayoritas muslim untuk membantu kaum muslim Palestina dalam melawan kaum Yahudi penjajah. Seperti diketahui, para penguasa negeri muslim hanya berani mengecam. Atau ganya menyerukan agar kedua pihak saling menghentikan serangan.

Pada saat yang sama, ratusan ribu bahkan jutaan tentara negeri-negeri kaum muslim, tetap dibiarkan 'menganggur' di barak-barak mereka. Taring mereka hanya tampak jika dihadapkan oleh saudaranya sendiri yang dianggap masyarakat yang menolak investasi atau masyarakat yang kontra dengan perusahaan yang zalim.

Perlu diketahui, bahwa petaka konflik Israel dan Palestina bermula lebih dari ratusan tahun yang lalu. Tepatnya tahun 1835, tatkala sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, lalu mendirikan sekolah Yahudi pertama di sana. Sponsornya adalah milyuner Yahudi Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free Masonry. Ini adalah pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah khilafah.

Selanjutnya pada tahun 1849 dilakukan kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12,000. Pada tahun 1948 jumlahnya sudah 716,700 dan pada 1964 sudah hampir 3 juta. Sehingga pada 1882 terjadilah imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.

Melihat semakin masifnya Yahudi di Palestina, pada tahun 1891 penduduk Palestina mengirim petisi kepada khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki “the sick man at Bosporus”).

Upaya pendirian negara Yahudi terus berlanjut. Tahun 1896 Theodore Herzl merampungkan sebuah doktrin baru Zionisme sebagai gerakan politik untuk mendirikan negara Yahudi Israel. Mereka mendapat inspirasi untuk “bekerjasama” dengan negara-negara besar (Amerika, Inggris, Perancis, Rusia) dalam realisasinya. Sebaliknya negara-negara besar itu berkepentingan dengan sumber alam di wilayah itu, dan memerlukan “agen” untuk melemahkan ummat Islam di sana.

Akhirnya tahun 1897, Theodore Herzl menggelar kongres Zionis dunia pertama di Basel, Swiss. Peserta Kongress-I Zionis mengeluarkan resolusi, bahwa ummat Yahudi tidaklah sekedar ummat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi ummat Yahudi -walaupun secara rahasia- pada “tanah yang bersejarah bagi mereka”.

Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin! Di kongres itu, Herzl menyebut, zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas ummat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenal kembali, bahwa nasib ummat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan ummat Yahudi sendiri. Di depan Kongres Herzl berkata: “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi !!!” Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada 1948.

Jadilah pada tanggal 14 Mei 1948, sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina, para pemukim Yahudi di Palestina memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina. Jutaan dari rakyat Palestina terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dll. Palestinian Refugees menjadi tema dunia. Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris, maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.

Sesungguhnya Palestina adalah tanah air kaum muslim dan telah berabad-abad menjadi bagian dari wilayah Islam. Kaum muslim pun terikat dengan Palestina dan Yerussalem karena 2 alasan: pertama, wilayah Yerussalem telah menjadi bagian dari negeri Islam dengan status sebagai tanah kharaj sejak era Kekhilafahan Umar bin al-Khatthab pada tahun 637M.

Kedua, kaum muslim terikat dengan kaum Nasrani Yerussalem untuk melindungi negeri tersebut lewat Perjanjian Umariyah. Dalam perjanjian tersebut khilafah berkewajiban memberikan jaminan kepada kaum Nasrani baik harta, jiwa, dan ibadah mereka. Khilafah juga diminta untuk tidak mengizinkan orang-orang Yahudi tinggal bersama kaum Nasrani dan kaum Muslim di Yerusalem. Perjanjian Khalifah Umar dengan kaum Nasrani Yerussalem ini mengikat kaum muslim hari ini hingga akhir zaman.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)