Oleh: Erwhin Widyanto SE

Narkoba Mengintai Bonus Demografi

Admin
281 view
Narkoba Mengintai Bonus Demografi

DATARIAU.COM - Anak-anak dan remaja menjadi sasaran empuk pengedar narkoba. Era bonus demografi terancam menjadi petaka jika generasi kita terpapar barang yang mengandung zat adiktif ini. Peredaran narkoba di tanah air semakin marak. Terbukti dengan banyaknya penangkapan terhadap pelaku penyelundupan, pengedar dan pengguna barang haram ini. Pengguna narkoba sudah menyasar semua kalangan. Dari artis, pejabat, hingga para pelajar. Dari segi usia pun semakin mengkhawatirkan. Anak-anak telah menjadi sasaran empuk pengedar barang haram ini. Era bonus demografi terancam menjadi petaka jika generasi kita terpapar barang yang mengandung zat adiktif ini.

Bonus demografi yang akan terjadi di Indonesia pada periode 2020-2030 menjadi berkah bagi bangsa. Pada era itu, jumlah penduduk usia produktif meningkat secara signifikan. Penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan penduduk usia nonproduktif. Puncak bonus demografi diperkirakan terjadi pada 2030 mendatang.

Rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk non-usia kerja (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) terhadap penduduk usia kerja (15-64 tahun) menurun. Dalam artian, penduduk usia kerja bisa menjadi harapan dalam menanggung biaya hidup dalam sebuah keluarga. Tentunya, ini bisa terjadi jika Sumber Daya Manusia (SDM) tersebut berkualitas dan memiliki daya saing tinggi.

SP2020 mencatat penduduk Indonesia pada bulan September 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa. Proporsi penduduk usia 0-14 tahun sebesar 23,33 persen, usia 15-64 tahun (usia produktif) sebesar 70,72 persen, dan usia 65 ke atas sebesar 5,95 persen.

Berkah ini seakan sirna dan menjadi malapetaka dengan tingginya angka pengguna narkoba di kalangan anak-anak dan remaja. Para gembong narkoba tak hanya menjual barang haram ini kepada orang dewasa, namun anak-anak yang masih berseragam putih merah pun sudah menjadi sasaran mereka. Maraknya peredaran narkoba di kalangan anak-anak menjadi ancaman serius bagi negeri ini. Tidak berlebihan jika hal ini bisa menghancurkan mimpi generasi penerus bangsa.

Berdasarkan data BNN, penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada 2017 sebanyak 3.376.115 orang pada rentang usia 10-59 tahun. Kemudian pada 2019 penyalahgunaan narkotika pada anak dan remaja meningkat sebesar 24-28 persen. Sedangkan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di 2018 mencapai angka 2,29 juta. Adapun kelompok masyarakat yang paling rawan terpapar barang haram ini adalah mereka yang berada pada rentang usia 15-35 tahun atau generasi milenial. Ini menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan generasi bangsa. Bayangkan saja, jika usia produktif pada 2020-2030 adalah anak-anak yang menjadi pengguna narkoba saat ini. Artinya, generasi bonus demografi itu terancam oleh serbuan narkoba impor.

Maraknya penangkapan oleh pihak berwajib menjadi tanda perang terhadap barang terlarang tersebut. Di satu sisi, itu menjadi sebuah prestasi. Namun di sisi lain hal itu menyingkap tabir tingginya konsumsi narkoba di tanah air. Tidak sedikit. Jumlahnya sudah menembus jutaan ton. Dari segi keuntungan memang sangat menggiurkan. Tapi kerusakan yang ditimbulkan bisa menghapus Indonesia sebagai negara jika para generasi penerus rusak dan mati percuma karena narkoba.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan 71 jenis narkoba baru dalam setahun terakhir. Angka ini cukup besar. Bahkan di Tiongkok telah ditemukan sekitar 800 jenis narkoba baru. Celakanya, dari beberapa penangkapan, barang haram ini sebagian besar diselundupkan dari Tiongkok.

Melawan narkoba mesti dilakukan dengan ancaman hukum yang tegas. Apresiasi patut diberikan kepada pemerintah yang telah beberapa kali mengeksekusi mati para bandar narkoba. Tentu ini tidak boleh berhenti. Karena peredaran narkoba semakin masif. Hukuman rehabilitasi kepada sebagian besar pengguna yang berprofesi sebagai artis menjadi preseden buruk. Tingginya angka pengguna dari kalangan selebritis rentan ditiru oleh masyarakat.

Ketegasan pemerintah sangat dinanti dalam hal penindakan para produsen, bandar, pengedar, dan pengguna narkoba. Termasuk aparat hukum yang ikut bermain dalam bisnis haram ini. Tentunya bukan hanya pemerintah yang harus berperan, semua pihak memiliki kewajiban untuk melawan narkoba.

Pendidikan usia dini tentang pencegahan narkoba perlu ditingkatkan. Minimal oleh orang tua dan keluarga serta para pendidik di bangku sekolah. Perang melawan narkoba sudah menjadi kewajiban bagi kita semua. Dan itu bisa dimulai dari komunitas terkecil dalam suatu masyarakat yaitu keluarga. Cegah kepunahan generasi bonus demografi dengan menjauhkannya dari narkoba. (*)

(*) Penulis merupakan Koordinator Statistik Kecamatan (KSK), Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekanbaru

Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com