Mahalnya Nyawa Seorang Muslim

Midas
321 view
Mahalnya Nyawa Seorang Muslim

DATARIAU.COM - Belum selesai dari kasus korupsi yang bertubi-tubi dilakukan para petinggi negeri, kasus deklarasi kemerdekaan di wilayah Papua, kini publik kembali dikejutkan dengan pemberitaan yang lagi viral baru-baru ini tentang penembakan oleh aparat kepada laskar anggota FPI hingga menyebabkan 6 orang korban meninggal dunia dari pihak laskar FPI. Aparat berdalih penembakan dilakukan sebab pengawal HRS yang melakukan penyerangan terhadap polisi terlebih dahulu.

Beberapa jam setelah kejadian, dilansir dari kompas.com, sekretaris Front Pembela Islam (FPI), Munarman, melakukan klarifikasi dan membantah bahwa laskar pengawal Habib Rizieq Shihab telah menyerang polisi lebih dulu. Menurut Munarman tidak benar, laskar FPI tidak pernah memiliki senjata api. Munarman pun menyesalkan pengakuan polisi yang menyebut pihaknya lebih dulu menyerang.

Karenanya dirinya berharap ada pertanggungjawaban hukum dari pelaku pembunuhan tersebut. Kompas.com (7/12/2020).

Atas kejadian yang serba ganjil, simpang siur dan menimbulkan polemik ini memang memunculkan banyak pertanyaan hingga mendapat tanggapan dari berbagai pihak.

Seperti dilansir dari Serambinews.com, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menuturkan Presiden Jokowi harus segera mencopot Kapolri Jenderal Idham Azis dan Kabaintelkam Polri Komjen Rycko Amelza. Hal itu terkait dengan terjadinya kasus penembakan yang menewaskan enam anggota FPI di Tol Cikampek, Jawa Barat.

Selain itu, IPW mendesak agar segera dibentuk Tim Pencari Fakta Independen untuk mengungkapkan, apa yang terjadi sebenarnya. Serambinews.com (7/12/2020).

Hal senada juga disampaikan politisi Partai Keadian Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera yang mendukung dibentuknya tim pencari fakta independen untuk mengungkap kejadian sebenarnya, terkait meninggalnya 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) pada Senin 6 Desember 2020.

Bahkan Mardani pun schock mendengarnya enam orang meregang nyawa langsung. “Kejadian meninggalnya enam orang pengawal Habieb Rizieq semalam, shock dan luar biasa mengejutkan. Nyawa satu orang itu mahal sekali. Ini enam orang. Ini kejadian luar biasa,” tulis Mardani melalui akun twitternya @MardaniAliSera.

Permintaan Mardani pun serupa dengan politikus Partai Gerindra, Fadli Zon, yang menuntut harus segera dibentuk Tim Pencari Fakta atas dugaan pelanggaran HAM oleh aparat Polisi.

Fadli Zon pun mempertanyakan aksi Polisi yang langsung menembak mati keenam laskar tersebut. "Kenapa sampai ada tembak mati? Memangnya mereka teroris? Polisi jangan gegabah gunakan senjata. Saya yakin, pendukung Habib Rizieq cinta damai dan tak dibekali senjata." tulis dia. (pikiran rakyat.com, 7/12).

Sungguh peristiwa ini sangat begitu disayangkan, ironi negeri yang menjunjung tinggi hukum namun tanpa proses hukum dan melalui keputusan peradilan dengan mudahnya menghilangkan nyawa rakyatnya. Padahal tugas aparat hukum adalah melindungi rakyatnya, namun faktanya malah membuat rakyat resah dan menimbulkan kekerasan terhadap rakyatnya sendiri.

Apakah hukum dan keadilan di negeri ini telah mati? inkosisten? seperti dikutip dalam pendapat Prof Suteki sebenarnya keadaan penegakan hukum yang ada di negeri ini bisa dikatakan "bopeng" itu dapat terjadi dimulai dari cara menjalankan perkerjaan polisi yang memiliki berbagai karakteristik, bahwa:

1. Polisi berada di garda terdepan dalam penegakan hukum. In optima forma.
2. Polisi sebagai hukum yang hidup, di tangannya suatu peraturan hukum mengalami perwujudannya.
3. Polisi bekerja di antara law and order sehingga ia memiliki diskresi yang sangat luas.
4. Polisi bekerja disertai dengan dibolehkannya penggunaan kekerasan yang terukur, bukan abuse of power.
5. Pekerjaan polisi itu berpotensi menjadi pekerjaan yang bersifat tainted occupation (pekerjaan yang berlumuran noda).

Karakteristik pekerjaan polisi tersebut bila tidak dijalankan dengan benar dan menjadikan "good behavior" menjadi ukuran utama, maka langkah menyingkirkan kebenaran dan keadilan dalam due process of law tahap awal sudah dimulai. Dan hal itu disinyalir akan merembet ke jenjang peradilan selanjutnya.

Maka melihat karut-marut persoalan hukum di negeri ini dan sepak terjang perlakuan aparat kepada rakyat terlebih dalam kasus penembakan terbaru yang merenggut nyawa rakyat tak berdosa, sangat berharap kasus terbunuhnya 6 anggota FPI dapat diusut tuntas dan berjalan secara transparan. Semoga peristiwa penembakan tersebut bukan atas kepentingan pihak atau oknum tertentu untuk menggiring opini pada radikalisme yang disematkan pada umat Islam.

Harusnya para penegak hukum ya menegakkan hukum seadilnya, mestinya sejak awal harus ada keyakinan polisi bahwa proses hukum bisa dilakukan bila terdapat bukti yang kuat dengan prinsip praduga tak bersalah. Semua tidak menghendaki tindakan brutal aparat justru memicu keresahan di tengah masyarakat. Sebagai negara hukum sudah seharusnya mengutamakan penyelesaian segala perkara dengan hukum bukan dengan kekuasaan.

Untuk menyingkap tabir terbunuhnya 6 anggota FPI maka sangat penting dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta. Hukum jangan pandang bulu, pilih kasih, tebang pilih, hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Umat Islam menanti keseriusan negara dalam menegakkan hukum seadilnya. Sebab nyawa dan darah seorang muslim sangat amat berharga di sisi Allah Subahanahu wa Ta'ala.

Dalam tulisan Arief B Iskandar (Khadim Ma'had Wakaf Darun Nahdhah al-Islamiyah), mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan penghargaan amat tinggi pada darah dan jiwa manusia. Allah menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia.

Allah berfirman:

“Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).

Allah pun mengancam orang yang menghilangkan nyawa seorang Mukmin dengan ancaman yang sangat keras.

”Siapa saja yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, balasannya ialah Neraka Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepada dia, mengutuk dia dan menyediakan bagi dia azab yang besar” (TQS an-Nisa' [4]: 93).

Begitu cintanya pada jiwa seorang Mukmin, Allah mengancam akan mengazab semua penghuni dan langit seandainya bersekutu dalam membunuh seorang Muslim. Rasulullah bersabda: “Andai penduduk langit dan penduduk bumi berkumpul membunuh seorang Muslim, sungguh Allah akan membanting wajah mereka dan melemparkan mereka ke dalam neraka” (HR ath-Thabrani).

Dalam hadist lain Rasulullah juga bersabda: “Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim” (HR an-Nasa’i).

Adakah agama yang begitu memuliakan dan menjaga nyawa seorang hamba melebihi ajaran Islam? Tidak ada!

Karena itulah, sepanjang sejarah penerapan syariah Islam, tak ada darah seorang Muslim pun ditumpahkan, melainkan akan diberikan pembelaan yang besar dari umat.

Semoga Allah membalas kezaliman di dunia dan akhirat siapapun yang telah meneteskan darah kaum Muslim tanpa alasan yang haq. Semoga sistem yang memanusiakan manusia dan sangat menghormati manusia segera tegak kembali atas izin Allah.

Wallahu’a lam bis showab.

Oleh: Nelly MPd
Akademisi dan Pemerhati Masalah Keumatan

Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com