Oleh: Joko Prayitno

Inflasi di Bulan Ramadhan

@ruslandatariau
128 view
Inflasi di Bulan Ramadhan
Ilustrasi (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Puasa di bulan Ramadhan diartikan menahan diri dari makan dan minum dan hal hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai tenggelam matahari. Kata kuncinya adalah menahan diri. Berpuasa berarti berlatih menahan sesuatu keinginan, berlatih bersabar. Namun kadang kita lebih fokus pada menahan hal-hal yang membatalkan puasa saja. Atau kadang fokus kita hanya selama berpuasa saja, sehingga begitu beduk Magrib berkumandang, apa yang kita tahan tadi lepas dan merajalela.

Sebagai contoh, kita menahan makan dan minum selama siang hari. Namun ketika berbuka puasa, begitu banyak hidangan yang tersedia, seakan lupa bahwa daya tampung perut ada batasnya. Fakta lapangan menunjukkan bahwa pada bulan Ramadhan masyarakat cenderung lebih konsumtif dibandingkan bulan lainnya. Awal bulan Ramadahn yang jatuh pada tanggal 12 April 2021 lalu secara langsung menyebabkan terjadinya inflasi. Inflasi adalah kenaikan harga barang. Kenaikan harga barang ini salah satu penyebabnya adalah meningkatnya permintaan.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), selama bulan April 2021 Provinsi Riau mengalami inflasi sebesar 0,15 persen. Baik Kota Pekanbaru, Kota Dumai dan Kota Tembilahan, tiga kota yang dipantau perkembangan harganya, semuanya mengalami inflasi. Inflasi terbesar terjadi di Kota Tembilahan, yaitu sebesar 0,39 persen.

Angka ini terbentuk dari perubahan harga dari semua komoditas yang dikonsumsi masyarakat. Dari jenis pengeluarannya, ternyata inflasi terjadi pada kelompok makanan dan minuman, yaitu 0,28 persen. Komoditas makanan yang menyebabkan inflasi antara lain; ayam hidup, ikan tongkol, daging sapi, minyak goreng, wortel, daun bawang, daging ayam ras, bawang merah dan lain-lain.

Ternyata pada bulan Ramadhan, konsumsi makanan dan minuman mengalami peningkatan. Semoga peningkatan konsumsi makanan ini disebabkan kesadaran masyarakat bahwa bulan Ramadhan adalah bulan untuk berbagi, sehingga meningkatkan permintaan makanan untuk bersedekah, seperti untuk takjil berbuka puasa.

Yang sangat disayangkan apabila kenaikan konsumsi makanan ini disebabkan karena rasa tamak. Seharian menahan nafsu makan dan minum, begitu berbuka banyak yang dibeli, yang akhirnya tidak semua habis dimakan, dan menjadi mubazir.

Penyebab inflasi kedua adalah kelompok pakaian dan alas kaki. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,23 persen. Ternyata ada kenaikan harga pada komoditas sandang selama bulan Ramadhan ini. Komoditas yang mengalami kenaikan harga adalah; sepatu wanita, baju anak setelan, baju muslim wanita, sandal kulit pria dan sandal anak-anak.

Kecenderungan masyarakat memakai pakaian baru pada perayaan Idul Fitri membuat jumlah permintaan naik. Peningkatan permintaan pasar ini biasanya diikuti dengan kenaikan harga.

Tahun ini Indonesia masih di masa pandemi, jadi sebetulnya kebutuhan akan pakaian baru tidaklah terlalu mendesak, mengingat Idul Fitri tahun ini dirayakan dalam suasana yang masih memperihatinkan, atau bila boleh disebutkan, dalam suasana mencekam.

Sumber
: Datariau.com
Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com