Darurat Perilaku Kriminal pada Anak

Oleh: Alfiah SSi
datariau.com
312 view
Darurat Perilaku Kriminal pada Anak

DATARIAU.COM - Sungguh miris nasib anak saat ini. Mereka dikepung dengan rusaknya interaksi dan maraknya kriminalitas. Kalau tidak anak yang menjadi korban kriminal, maka anak sendirilah pelaku kriminalnya. Padahal dunia anak adalah dunia bermain. Pada usia anaklah dibutuhkan peran orang tua dalam mengasuh, membimbing, dan mendidik mereka agar tidak menjadi generasi yang rapuh dan berprilaku rendah.

Apa yang kita saksikan hari ini sungguh betapa banyaknya kasus-kasus yang melibatkan anak. Bahkan tak jarang kejadian kriminal justru terjadi di institusi pendidikan. Ironisnya, kasus kriminal yang melibatkan anak tak hanya terjadi di sekolah umum, tetapi juga banyak terjadi di sekolah agama atau pesantren.

Seperti apa yang terjadi baru-baru ini di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Yakin, di Kampung Dayun, Kabupaten Siak, Riau. Seorang santri berani membakar kamar santri yang lain, sehingga menewaskan dua santri dan satu orang mengalami luka bakar. (kompas.com, 23/03/2024). Di Sukabumi, seorang bocah menjadi korban sodomi dan pembunuhan. Sementara di Jambi tiga anak harus berhadapan dengan hukum karena menjadi tersangka kasus kematian seorang santri. Dan masih banyak kasus-kasus lain yang melibatkan anak, dimana anak justru menjadi pelaku kriminal.

Banyaknya kasus kriminalitas yang melibatkan anak tentu harus menjadi perhatian kita bersama. Banyak faktor yang mendorong anak melakukan melakukan tidak kejahatan yang tak semestinya mereka lakukan. Keluarga yang gagal menjalankan fungsinya sebagai madrasah pertama dan utama berdampak pada lahirnya generasi yang rapuh dan sakit. Namun jika lingkungan kondusif dan negara dengan berbagai perangkat sistemnya benar-benar menjalankan perannya dalam melindungi anak dan generasi tentu tak akan ada kasus kriminal yang melibatkan anak.

Maraknya kriminalitas oleh anak-anak merupakan gambaran buruknya output dalam sistem pendidikan kapitalis. Anak usia sekolah justru bergelut dengan penyalahgunaan narkoba, akses media porno, seks bebas, penyimpangan seksual, prostitusi anaklah, tawuran, geng motor, bullying. Berbagai upaya memang sudah dilakukan oleh pemerintah. Namun upaya yang ditawarka lebih kepada solusi setengah hati yang tak menjangkau akar persoalan kriminalitas anak.

Upaya pemerintah mengatasi kriminalitas anak atau remaja kebanyakan masih berkutat pada permukaan yang pragmatis, dan belum menyentuh aspek mendasarnya. Misal penyalahgunaan narkoba diatasi dengan metode substitusi (pengganti). Maraknya prostitusi diatasi dengan lokalisasi. Gencarnya seks bebas diatasi dengan kondomisasi, bullying hanya diatasi dengan sosialisasi yang bersifat temporal.

Tidak adanya sanksi yang menjerakan pelaku kriminal anak membuat tindak kejahatan justru semakin parah dan merajalela. Pelaku kriminal yang usianya belum mencapai 18 tahun hanya disanksi ringan karena masih dianggap anak. Padahal dalam Islam ketika seseorang sudah baligh meski usianya belum mencapai 18 tahun sudah terkena taklif (pembebanan) hukum.

Satu hal yang tidak disentuh secara intensif oleh pemerintah dalam mengatasi masalah kejahatan anak, yaitu edukasi bermutu tinggi; sebuah konsep pembelajaran bagi anak yang bisa berpengaruh terhadap pola pikir dan pola sikap mereka ke arah yang positif. Tidak sekedar penyuluhan atau sosialisasi, tetapi pembentukan pemahaman positif pada diri remaja yang terus menerus. Dengan begitu mereka mempunyai dorongan sangat kuat untuk menjauhi perilaku yang bisa mengantarkan mereka pada tindakan kriminal.

Hidupkan Kembali Rohis Sekolah

Rohis atau semacam kelompok pengajian di sekolah yang pernah menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah justru dilarang. Alasannya dikaitkan dengan pola rekrutmen 'teroris muda'. Ini adalah tuduhan keji yang membunuh karakter Rohis. Stigma ini adalah teror yang menakut-nakuti agar siswa menjauh dari rohis; juga teror terhadap institusi sekolah agar menutup kegiatan rohis jika tidak ingin dicap melindungi base camp pembinaan teroris.

Padahal adanya Rohis dapat meningkatkan kesadaran anak atau siswa terhadap agamanya. Jika negara punya kemauan kuat untuk mencegah kriminalitas pada anak, seharusnya tak bersikap sinis terhadap keberadaan rohis. Apalagi sampai mengkaitkannya sebagai sarang teroris. Justru rohis dengan pola pembinaannya akan membantu kerja negara dalam mengedukasi anak atau siswa untuk menjauhi pelanggaran aturan agama, norma masyarakat, maupun hukum negara.

Walhasil butuh sinergi dari semua pihak agar tindak kriminal pada anak bisa diatasi. Pertama peran keluarga harus mampu menjadi madrasah pertama dan utama bagi anaknya. Kedua adanya kontrol masyarakat dengan memfungsikan rumah-rumah ibadah (misalnya mesjid) sebagai sekolah kedua bagi anak. Kecintaan anak terhadap mesjid, ikutnya anak dalam halaqah-halaqah baik dalam bentuk menghapal Al-Qur'an atau kajian-kajian agama membuat anak akan terbentengi akidahnya dan akhlaknya.

Kemudian yang terakhir dan tak kalah penting peran dari negara dalam mewujudkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam sehingga mampu mencetak generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam, mampu menguasai sains dan teknologi serta berjiwa pemimpin. Kesemuanya ini hanya akan terwujud jika negara menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Wallahu a'lam bi ash shawab. ***

Tag:Anakrohis
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)