DATARIAU.COM - Allah Subhana Wata'ala berfirman, ?Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ?Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!? Ia menjawab: ?Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,? ( QS As Shofat : 102 ).
Ayat di atas adalah perintah Allah Subhana Wata'ala kepada nabi Ibrohim alahi salam untuk menyembelih putranya nabi Ismail alahi salam. Perintah Allah Subhana Wata'ala ini sangatlah berat. Bagaimana tidak, nabi Ismail as adalah putra yang sangat dicintai oleh nabi Ibrahim alahi salam. Kehadiran nabi Ismail alahi salam disaat usia nabi Ibrahim as sudah 86 tahun. Betapa saat itu nabi Ismail as adalah buah hati belahan jiwa yang sudah sangat lama dinantikan kehadirannya. Tetapi karena kecintaan dan ketaqwaan nabi Ibrahim alahi salam kepada Allah Subhana Wata'ala, maka perintah itupun dijalankannya. Begitu juga dengan nabi Ismail alahi salam, dengan penuh ketaqwaan dan kesabaran, beliau menerima perintah penyembelihan dirinya itu. Bahkan beliau mampu memberikan semangat dan dukungan kepada ayahandanya untuk segera melaksanakan perintah Allah Subhana Wata'ala tersebut. Masha Allah... Inilah gambaran taqwa yang hakiki. Tunduk dan taat kepada Allah Subhana Wata'ala, tanpa mengeluh dan memilih. Bagaimana dengan kita hari ini?
Hendaknya kisah nabi Ibrahim as dan Ismail as ini kita jadikan teladan. Bahwa keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhana Wata'ala harus kita buktikan dengan ketundukan kepada seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya. Bukan taqwa namanya, jika perintah Allah Subhana Wata'ala itu dipilah dan dipilih. Mana yang sesuai dan cocok dengan keinginan dan harapannya, yess ok dijalankan, tapi jika tidak sesuai dengan kepentingan dan keinginannya, maka akan ditolak dengan dalih dan seribu alasan.
Mengutip nasehat yang disampaikan oleh Ali bin Tholib, bahwa ciri orang-orang yang bertaqwa itu ada 4, yakni:
Pertama, Alkhouf Minal Jalil. Sifat ini menjelaskan bahwa manusia itu selalu merasa takut kepada Allah Subhana Wata'ala yang mempunyai sifat Maha Agung. Karena ketakutannya itulah yang membuatnya senantiasa menyesuaikan perbuatannya dengan hukum dan aturan Allah Subhana Wata'ala. Tidak akan berani sedikitpun untuk menyalahi dan menyelisihinya.
Kedua, Al-?Amalu bi At-Tanzil, yakni manusia akan beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah Subhana Wata'ala. Al Qur'an, As Sunnah, Ijmak dan Qiyas adalah sumber-sumber hukum Allah swt. Maka perbuatan manusia harus menyesuaikan dengan apa yang ada di dalam sumber-sumber hukumnya tersebut.
Ciri ketiga, yaitu merasa cukup dan ridha dengan pemberian Allah Subhana Wata'ala, meskipun hanya sedikit. Nikmat Allah Subhana Wata'ala apapun itu bentuknya akan selalu membuatnya bersyukur dan tidak tamak. Dengan sifat ini, manusia akan selalu qonaah, merasa cukup dan tidak selalu merasa kurang.
Ke empat, yakni Al-Istidadu li Yaumir-Rahil, yaitu sentiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali menghadap Allah. Sifat ini akan membuat manusia berhati-hati dalam hidupnya. Dia tidak akan bermaksiat karena takut jika sedang melakukan maksiat, disaat itu juga ajalnya mendekat.
Jika kita dan seluruh umat manusia mempunyai ke empat sifat takwa ini, Insya Allah berkah dan ridho Allah akan menghujani kehidupan manusia. Sebaliknya hari ini, kita dan seluruh umat manusia tengah dikepung oleh berbagai macam persoalan dan problematika kehidupan. Mulai dari problem kemiskinan, kesehatan, sosial, keamanan dan lain sebagainya. Semua lini kehidupan nyaris penuh dengan masalah yang tiada ujung pangkalnya. Alih-alih ada solusi jitu, persoalan baru justru semakin pilu. Adanya wabah corona (covid-19) telah memperparah kondisi itu. Pandemi yang belum ada solusi ini menyisakan berbagai persoalan baru, mulai dari ancaman resesi dunia, bertambahnya korban yang terus menggila, jaminan kesehatan masyarakat yang nyaris tidak ada, kemiskinan dan pengangguran meroket tanpa terkendali menambah daftar panjang panjang persoalan di seluruh penjuru dunia. Dan masih banyak persoalan lainnya.
Sistem kapitalisme dengan demokrasinya telah nyata-nyata gagal dalam menjawab seluruh persoalan yang ada. Sistem kapitalisme demokrasi yang sekuler telah mengebiri peran Allah Subhana Wata'ala dalam mengatur persoalan manusia. Allah Subhana Wata'ala hanya ditempatkan pada ranah individu semata, namun nihil dalam pengaturan urusan manusia. Inilah akar persoalan dari seluruh problematika kehidupan kita hari ini. Bagaimana mungkin Sang Pencipta tidak diberikan hak untuk mengatur ciptaanNya? Bagaimana mungkin makhluk, yang merupakan ciptaan, bisa membuat aturan untuk dirinya sendiri? Layaknya sebuah kulkas yang menolak aturan dari pembuat kulkas, tp justru kulkas-kulkas itu sendiri yang bersepakat untuk membuat aturan yang cocok untuk mereka. Sungguh pemikiran seperti ini (sekuler) adalah pemikiran sesat dan menyesatkan. Pemikiran seperti ini tidak layak diadopsi oleh manusia karena tidak sesuai dengan akal.
Maka jika kita ingin keluar dari segala persoalan yang menjerat kita seperti hari ini, kita harus kembali pada Allah Sang Robbul Izzati. Tegakkan perintah dan tinggalkan larangan Allah Subhana Wata'ala dalam setiap lini lehidupan. Ketaqwaan kepada Allah swt harus menjadi dasar kehidupan manusia baik secara individu, masyarakat maupun negara. Jangan tempatkan hukum dan aturan Allah di masjid-masjid saja. Tetapi bawa dan terapkan hukum Allah diseluruh tempat baik di pasar, di sekolah, di gedung pemerintah, digedung DPR dan seluruh tempat dibumi ini. Jangan biarkan kosong dari penerapan hukum-hukum Allah. Sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi kita dan seluruh umat manusia untuk menegakkan hukum Allah Subhana Wata'ala sang Ilahi Robbi demi mendapatkan solusi hakiki atas seluruh persoalan di bumi ini termasuk efek pandemi yang kian menghampiri.
Menegakkan hukum Allah Subhana Wata'ala dibutuhkan ketundukan dan ketaatan kepada Allah Subhana Wata'ala secara totalitas. Setiap perintah apakah itu terkait masalah individu, masyarakat maupun urusan negara harus mengikuti syariat dan perintahNya. Seluruh syariat Allah Subhana Wata'ala dipastikan akan membawa manfaat dan maslahat bagi manusia. Begitu juga sebaliknya, setiap perkara yang dilarang Allah Subhana Wata'ala akan mendatangkan mudhorot dan bahaya bagi kehidupan manusia.
Solusi krisis dan segenap persoalan hidup umat hari ini hanya satu solusinya yaitu tegakkan hukum Allah Subhana Wata'ala. Seluruh energi, waktu dan harta serta perhatian umat ini harus bermuara pada satu muara yaitu penerapan hukum Allah Subhana Wata'ala. Jika dulu nabi Ibrohim alahi salam mampu memberikan bukti cinta dan ketaqwaannya kepada Allah Subhana Wata'ala dengan mengorbankan anak kesayangannya Ismail alahi salam, maka hari ini kita harus mampu mengorbankan segala urusan individu dan kelompok kita untuk penegakan hukum Allah demi bisa keluar dari segala krisis yang melanda. Ismail kita hari ini bukanlah anak kita, tetapi segala hal yang yang bertentangan dengan syariat Allah Subhana Wata'ala. Mari peringati 'idul Adha dengan penuh syukur supaya kita bisa mendapatkan ridho dan berkah Allah Subhana Wata'ala. Dan ridho serta berkah Allah Subhana Wata'ala bisa kita capai dengan penerapan syariat islam secara sempurna.(*)
Wallahua'lam bishshowab.