Tidak Khusuk, Apakah Shalat Sah?

Admin
178 view
Tidak Khusuk, Apakah Shalat Sah?
Ilustrasi. (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Orang yang shalatnya tidak khusyuk sama sekali, pikirannya sibuk memikirkan hal-hal yang lain ketika shalat, apakah shalatnya batal?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan masalah ini, beliau mengatakan:

‘Ala kulli hal, keadaan seperti ini berbahaya. Yang dituntut dari orang yang shalat adalah hendaknya ia khusyuk dalam shalatnya, dan benar-benar memfokuskan dirinya untuk shalat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Sungguh beruntung orang yang beriman. Yaitu yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. Al Mukminun: 1-2). Maka konsentrasi dalam shalat, dan khusyuk di dalamnya, merupakan perkara yang sangat penting.

Khusyuk itu adalah ruh dari shalat. Maka sudah semestinya memberikan perhatian yang besar untuk khusyuk dan tuma’ninah dalam shalatnya, sujudnya, rukuknya, duduk di antara dua sujudnya, i’tidalnya. Hendaknya ia juga tuma’ninah dan tidak tergesa-gesa dalam shalatnya. Baik laki-laki, maupun wanita.

Namun jika seseorang tidak khusyuk dalam shalatnya sampai level naqr (tidak sempurna sujudnya) dan tidak tuma’ninah, maka batal shalatnya. Adapun jika tidak khusyuk namun masih tuma’ninah, dan dalam sebagian shalatnya ia bicara dalam hati dan lupa untuk konsentrasi, maka ini tidak membatalkan shalat.

Namun shalat yang didapatkannya sekadar bagian shalat yang ia konsentrasi dan khusyuk di dalamnya. Itulah bagian pahala shalat yang ia dapatkan. Adapun bagian shalat yang ia tidak khusyuk, maka ia tidak dapat pahalanya*). Maka sudah semestinya bagi kita untuk konsentrasi di dalam shalat, tuma’ninah, dan khusyuk kepada Allah. Sehingga mendapatkan pahala yang sempurna. Namun tidak sampai batal shalatnya, kecuali jika tidak tuma’ninah.

Sumber: Fatawa Nurun ‘alad Darbi (8/9-11).

Wallahu a’lam.

***

*) Terdapat riwayat dari ‘Ammar bin Yasir radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Ada orang yang ketika selesai shalat, tidaklah ditulis pahala shalatnya kecuali hanya 1/10 nya, atau 1/9 nya, atau 1/8 nya, atau 1/7 nya, atau 1/6 nya, atau 1/5 nya, atau 1/4 nya, atau 1/3 nya atau setengahnya” (HR. Abu Daud no. 796, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).


Penyusun: Yulian Purnama
Artikel asli: Muslimah.or.id