Shalat, Wasiat Terakhir Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Datariau.com
89 view
Shalat, Wasiat Terakhir Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

DATARIAU.COM - Musibah paling besar yang menimpa umat ini adalah musibah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada umat ini dengan mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang memberikan petunjuk jalan menuju surga dan menuntun umat ini menuju kemuliaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah imam (pemimpin) dalam semua kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَد' كَانَ لَكُم' فِي رَسُولِ الل'َهِ أُس'وَةٌ حَسَنَةٌ ل'ِمَن كَانَ يَر'جُو الل'َهَ وَال'يَو'مَ ال'آخِرَ وَذَكَرَ الل'َهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Dalam ungkapan tersebut, terdapat banyak nasihat dan pelajaran yang selayaknya untuk diperhatikan. Di antara yang paling penting adalah yang berkaitan dengan masalah shalat dan kedudukannya dalam Islam.

Shalat terakhir yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat adalah shalat zhuhur pada hari Kamis. Setelah itu, sakit beliau bertambah parah dan selama tiga hari berikutnya beliau tidak mampu keluar rumah untuk shalat berjamaah, yaitu hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. Yang menggantikan posisi beliau sebagai imam shalat bagi kaum muslimin adalah sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu.

Di waktu fajar hari Senin, hari ketika beliau wafat, beliau membuka jendela kamarnya untuk melihat para sahabatnya dengan tatapan mata perpisahan. Betapa besarnya perpisahan yang terjadi pada hari itu. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَن'َ أَبَا بَك'رٍ كَانَ يُصَل'ِي لَهُم' فِي وَجَعِ الن'َبِي'ِ صَل'َى اللهُ عَلَي'هِ وَسَل'َمَ ال'َذِي تُوُف'ِيَ فِيهِ، حَت'َى إِذَا كَانَ يَو'مُ الِاث'نَي'نِ وَهُم' صُفُوفٌ فِي الص'َلاَةِ، فَكَشَفَ الن'َبِي'ُ صَل'َى اللهُ عَلَي'هِ وَسَل'َمَ سِت'رَ الحُج'رَةِ يَن'ظُرُ إِلَي'نَا وَهُوَ قَائِمٌ كَأَن'َ وَج'هَهُ وَرَقَةُ مُص'حَفٍ، ثُم'َ تَبَس'َمَ يَض'حَكُ، فَهَمَم'نَا أَن' نَف'تَتِنَ مِنَ الفَرَحِ بِرُؤ'يَةِ الن'َبِي'ِ صَل'َى اللهُ عَلَي'هِ وَسَل'َمَ، فَنَكَصَ أَبُو بَك'رٍ عَلَى عَقِبَي'هِ لِيَصِلَ الص'َف'َ، وَظَن'َ أَن'َ الن'َبِي'َ صَل'َى اللهُ عَلَي'هِ وَسَل'َمَ خَارِجٌ إِلَى الص'َلاَةِ «فَأَشَارَ إِلَي'نَا الن'َبِي'ُ صَل'َى اللهُ عَلَي'هِ وَسَل'َمَ أَن' أَتِم'ُوا صَلاَتَكُم' وَأَر'خَى الس'ِت'رَ فَتُوُف'ِيَ مِن' يَو'مِهِ

“Abu Bakar pernah mengimami mereka shalat di saat sakitnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawanya pada kewafatannya. Hingga pada suatu hari, pada hari Senin, saat orang-orang sudah berada pada barisan (shaf) shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap tabir kamar dan memandang ke arah kami sambil berdiri, sementara wajah beliau pucat seperti kertas. Beliau tersenyum dan tertawa. Hampir saja kami terkena fitnah (keluar dari barisan) karena sangat gembiranya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar lalu berkeinginan untuk berbalik masuk ke dalam barisan shaf karena menduga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keluar untuk shalat. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat kepada kami agar, “Teruskanlah shalat kalian.” Setelah itu beliau menutup tabir dan wafat pada hari itu juga.” (HR. Bukhari no. 680 dan Muslim no. 419)

Renungkanlah hal ini, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya di masjid dengan tatapan mata perpisahan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang para sahabatnya dengan pandangan yang menyejukkan dan menyenangkan hati karena melihat para sahabatnya sedang mendirikan shalat. Memang, shalat adalah qurrota a’yun (penyenang hati) di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala telah menjadikan akhir hidup beliau dengan melihat umatnya berkumpul di masjid di pagi hari mendirikan shalat jamaah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dengan penuh kebahagiaan melihat umatnya mendirikan shalat jamaah, yang merupakan pemandangan yang menyejukkan dan menggembirakan hati beliau.
Shalat, di antara wasiat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Shalat juga menjadi wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir kehidupannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

الص'َلَاةَ الص'َلَاةَ، ات'َقُوا الل'َهَ فِيمَا مَلَكَت' أَي'مَانُكُم'

“Ucapan terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “(Kerjakanlah) shalat, (kerjakanlah) shalat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian.” (HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4616)

Dalam riwayat yang lain, terdapat penegasan yang lebih lagi, sebagaimana teks hadits dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَت' عَام'َةُ وَصِي'َةِ رَسُولِ الل'َهِ صَل'َى اللهُ عَلَي'هِ وَسَل'َمَ حِينَ حَضَرَت'هُ ال'وَفَاةُ، وَهُوَ يُغَر'غِرُ بِنَف'سِهِ: الص'َلَاةَ، وَمَا مَلَكَت' أَي'مَانُكُم'

“Wasiat umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat, ketika beliau sakaratul maut yaitu, “Jagalah shalat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.” (HR. Ibnu Majah no. 2697, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 2178)

Demikian pula dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengatakan,

كَانَ مِن' آخِرِ وَصِي'َةِ رَسُولِ اللهِ صَل'َى اللهُ عَلَي'هِ وَسَل'َمَ: الص'َلَاةَ الص'َلَاةَ، وَمَا مَلَكَت' أَي'مَانُكُم'، حَت'َى جَعَلَ نَبِي'ُ اللهِ صَل'َى اللهُ عَلَي'هِ وَسَل'َمَ يُلَج'لِجُهَا فِي صَد'رِهِ، وَمَا يَفِيصُ بِهَا لِسَانُهُ

“Sesungguhnya wasiat terahir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat adalah, “Jagalah shalat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.” Beliau terus-menerus mnegulang perkataan tersebut dan lisan beliau tidak berhenti.“ (HR. Ahmad no. 26483, 26684 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 7060. Sanadnya dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ 7: 238)

Hal ini, tanpa diragukan lagi menunjukkan tingginya kedudukan shalat dalam Islam dan betapa besar perhatian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah shalat.

Ironisnya, banyak di tengah-tengah kaum muslimin yang menjadikan malam isra’ mi’raj sebagai malam perayaan, namun di saat yang sama mereka meninggalkan dan menyia-nyiakan shalat jamaah! Betapa banyak di antara kaum muslimin yang tidak melewatkan perayaan malam isra’ dan mi’raj ini, namun di saat yang sama mereka meremehkan shalat? Lalu, di manakah sisi ittiba’ kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dalam shalat?

Jangan tinggalkan shalat

Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang shalat dan bersabda,

مَن' حَافَظَ عَلَي'هَا كَانَت' لَهُ نُورًا، وَبُر'هَانًا، وَنَجَاةً يَو'مَ ال'قِيَامَةِ، وَمَن' لَم' يُحَافِظ' عَلَي'هَا لَم' يَكُن' لَهُ نُورٌ، وَلَا بُر'هَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ، وَكَانَ يَو'مَ ال'قِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِر'عَو'نَ، وَهَامَانَ، وَأُبَي'ِ ب'نِ خَلَفٍ

“Siapa saja yang menjaga ibadah shalat, maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan siapa saja yang tidak menjaga ibadah shalat, maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan pada hari kiamat. Dan pada hari kiamat, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad no. 6576 dan Ibnu Hibban no. 1467. Syaikh Ibnu Baaz berkata dalam Majmu’ Fataawa (10: 278), “Sanadnya hasan.”)

Maksudnya, orang-orang yang meninggalkan shalat dan tidak mau menjaga shalat, mereka akan dikumpulkan bersama-sama dengan pembesar orang kafir. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari hal itu.

Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِن'َ بَي'نَ الر'َجُلِ وَبَي'نَ الش'ِر'كِ وَال'كُف'رِ تَر'كَ الص'َلَاةِ

“Sungguh, yang memisahkan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)

Dari sahabat ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ال'عَه'دُ ال'َذِي بَي'نَنَا وَبَي'نَهُم' الص'َلَاةُ فَمَن' تَرَكَهَا فَقَد' كَفَرَ

“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat. Siapa saja yang meninggalkan shalat, sungguh dia telah kafir.” (HR. Ahmad no. 22937, At-Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 4143)

Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda,

مَن' صَل'َى صَلاَتَنَا وَاس'تَق'بَلَ قِب'لَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا فَذَلِكَ المُس'لِمُ ال'َذِي لَهُ ذِم'َةُ الل'َهِ وَذِم'َةُ رَسُولِهِ، فَلاَ تُخ'فِرُوا الل'َهَ فِي ذِم'َتِهِ

“Barangsiapa shalat seperti shalat kita, menghadap ke arah kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang muslim. Dia memiliki perlindungan dari Allah dan rasul-Nya. Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya.” (HR. Bukhari no. 391)

Hadits-hadits tentang masalah ini sangatlah banyak.

Oleh karena itu, marilah kita bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menjaga dan melaksanakan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Penulis: M. Saifudin Hakim
Baca artikel asli: Muslim.or.id

Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com