Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Menjadi Penolong di Hari Kiamat

Ruslan
1.204 view
Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Menjadi Penolong di Hari Kiamat
Foto: Internet/Ilustrasi

DATARIAU.COM - Hadits kali ini diambil dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin. Ini adalah hadits pertama dari Kitab Al-Fadhail (Keutamaan) dari Kitab Riyadh Ash-Shalihin.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail (Kitab Keutamaan).

بَابُ فَضلِ قِرَاءَةِ القُرآنِ

Bab 180. Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an akan Memberi Syafaat

عَن أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ سَمِعتُ رَسُولَ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيهِ وَسَلمَ قَالَ : اِقرَؤُوا القُرآنَ فَإِنهُ يَأتِي يَومَ القِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصحَابِهِ . رَوَاهُ مُسلِمٌ

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat (penolong) untuk para pembacanya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 804].

Faedah hadits

1. Shahibul qur’an adalah:

المُلاَزِمِينَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِينَ بِهِ

“Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya.” (Al-Bahr Al-Muhith, 16:353).

2. Keterangan dari Nuzhah Al-Muttaqin (hlm. 394), syafii’an adalah memberi syafaat dengan memintakan ampun pada shahibul qur’an. Shahibul qur’an adalah yang membaca dan mengamalkan hukum serta petunjuk dalam Al-Qur’an.

3. Hadits ini mendorong untuk membaca Al-Qur’an dan memperbanyak membacanya. Jangan sampai lalai membaca Al-Qur’an karena tersibukkan dengan yang lainnya.

4. Allah memberikan syafaat lewat Al-Qur’an pada shahibul Qur’an. Shahibul Qur’an adalah yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya.

5. Di dalam hadits dimutlakkan perintah membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itu disunnahkan dibaca setiap waktu dan setiap keadaan kecuali saat: (a) Buang hajat, karena Al-Qur’an itu mesti diagungkan, (b) sedang berhubungan intim dengan istrinya. Yang ia diperintahkan ketika jimak dengan pasangannya adalah membaca:

بِاسمِ اللهِ ، اللهُم جَنبنَا الشيطَانَ ، وَجَنبِ الشيطَانَ مَا رَزَقتَنَا . فَإِنهُ إِن يُقَدر بَينَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَم يَضُرهُ شَيطَانٌ أَبَدًا

“BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNAASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.” (HR. Bukhari, no. 6388 dan Muslim, no. 1434). Lihat Syarh Riyadh Ash-Shalihin, penjelasan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 4:636.

Referensi:

Al-Bahr Al-Muhith Ats-Tsajaj Syarh Shahih Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Muhammad bin Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Ali bin Adam bin Musa Al-Itiyubia Al-Wallawi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:204.

Nuzhah Al-Muttaqin Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursalim. Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh Dr. Musthafa Al-Bugha, dkk. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Syarh Riyadh Ash-Shalihin min Kalaam Sayyid Al-Mursaliin. Cetakan tahun 1426 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Madar Al-Wathan li An-Nasyr.

(*)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


Artikel asli:Rumaysho.Com


JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)