Kematian: Peringatan Sesungguhnya

datariau.com
1.385 view
Kematian: Peringatan Sesungguhnya
Ilustrasi (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Manusia adalah mahkluk yang sering lalai dari apa yang seharusnya. Manusia seringkali alfa dari kewajiban baik mengikat kebaikan berupa melaksanakan perintah atau juga menghindari keburukan (larangan). Selain itu, manusia adalah tempat kesalahan dan dosa berkumpul seolah mengimbangi kebaikan yang dilakukan selama hidup di dunia. Selain pegangan berupa pedoman atau tuntunan, manusia membutuhkan peringatan, untuk ia menimbang kembali perbuatannya, baik ataukah sebaliknya, atau beramal baik sebagai perbekalan atau sekadar mengambil pelajaran berupa hikmah-hikmah.

Allah berfirman sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 185: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati."

Kemudian ada al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 78: "Di mana pun kamu berada, kematian akan mendatangimu, meskipun kamu berada dalam benteng yang kukuh. Jika mereka (orang-orang munafik) memperoleh suatu kebaikan, mereka berkata, "Ini dari sisi Allah" dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka berkata, "Ini dari engkau (Nabi Muhammad)." Katakanlah, "Semuanya (datang) dari sisi Allah." Mengapa orang-orang itu hampir tidak memahami pembicaraan?

Sepanjang apapun perjalanan seseorang atau seberapa usia dan lama ia mengarungi suatu pengalaman dalam hidup, maka muaranya adalah kematian. Akhir dari perjalanan panjang manusia atau makhluk secara keseluruhan di dunia ini adalah mati. Tidak ada kehidupan tanpa kematian. Artinya setiap yang hidup senantiasa identik dengan kematian yang mengiringi/mengintainya. Maka, kematian adalah selain sesuatu yang pasti terjadi, manusia yang hidup bisa menjadikannya sebagai peringatan akan tabiatnya untuk senantiasa kembali, memperbaiki diri, dan menambah kebaikan yang tidak lain juga sebagai bekal kabaikan bagi dirinya sendiri untuk dunia atau setelahnya (akhirat).

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: "Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik? Beliau menjawab: Yang paling baik akhlaknya, orang ini bertanya lagi: Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?, Beliau menjawab: Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal.” (HR. Ibnu Majah).

Gemerlap dunia tidak ada habisnya untuk dinikmati atau sekedar digambarkan dalam rangkaian kata. Selain sebagai keindahan, dunia juga identik dengan sifatnya yang menipu dan melalaikan siapa saja, bahkan orang yang berusaha menghindarinya sekalipun. Maka pentingnya juga ilmu pengatahuan akan itu sebagai strategi, atau mungkin sebagai wawasan untuk sekedar menghindarinya. Orang yang taat serta khusyu' dalam ibadah bahkan tidak jarang luput dari godaannya. Sebab model serampangan cenderung atau termasuk sikap yang semena-mena (arbitrer), dan tentu ini jauh dari kebenaran atau semangat menegakkan keadilan. (*)

Oleh: Nazwar SFil IM Phil (Penulis Lepas Yogyakarta)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)

    wrong sql query