Hukum Oral Seks

Admin
530 view
Hukum Oral Seks

DATARIAU.COM - Mengenai hukum oral seks, beberapa pendapat yang mu’tabar (teranggap/diakui) di antara para ulama: (1) Haram total; karena hal ini menyerupai hewan dan mulut adalah tempat yang bersih dan mulia seperti tempat makan, tempat berzikir dan berkata-kata yang baik, (2) Hukumnya boleh/mubah; dengan syarat tidak terkena madzi. Madzi hukumnya najis, maka dibersihkan dahulu karena keluar ketika awal bercumbu atau ketika terangsang. Berikut ini pembahasannya.

Pertama: pendapat yang menyatakan haram total

Ada beberapa alasan ulama yang melarang oral seks, yaitu:

1. Sulitnya menghindari najis pada oral seks yaitu madzi dan sisa air kencing pada kemaluan istri.

2. Menyerupai hewan dan tasyabbuh dengan perbuatan orang-orang kafir terutama pelacur dan bintang porno.

3. Mulut adalah tempat mulia yang digunakan untuk berdzikir kepada Allah, membaca Al-Quran dan tempat makan dan minum yang bersih dan berkah.

4. Oral seks akan mengantarkan pada fanstasi lainnya yang tidak sesuai fitrah seperti seks dengan kekerasan, seks pada dubur dan lain-lain.

5. Beberapa ulama mengharamkan oral seks diantaranya Syaikh Al-Albani, Syaikh Bin Baz, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dan Syaikh Masyhur Al-Salman.

Kedua: Pendapat yang membolehkan

Ada beberapa alasan ulama yang membolehkan, diantaranya sebagai berikut:

Pertama: istri dimisalkan tempat sebagai bercocoktanam, suami bebas menikmati istri asalkan bukan di duburnya.

Allah berfirman,

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” [Al-Baqarah: 223].
Kedua: demikian juga keumuman hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan boleh menikmati istri dengan cara apapaun kecuali jimak, pada saat haid

“Lakukanlah segala sesuatu kecuali menjimak kemaluan (yang lagi haid)” (HR Muslim no 302)

Hal ini bisa saja menunjukkan bolehnya oral seks ketika istri sedang haid

Ketiga: para ulama telah menyebut hal ini dalam beberapa kitab mereka dan tidak disebutkan adanya larangan, semisal ucapan Imam Syafi’i rahimahullah,

“Kami tidak mewajibkan mandi janabah (mandi wajib) kecuali apabila ia memasukkan dzakarnya ke kemaluan istrinya atau duburnya, Adapun mulut (istrinya) dan bagian tubuh istrinya yang lainnya, maka tidak mewajibkan mandi janabah, jika tidak mengeluarkan air mani” [Al-Umm 2/81]

Keempat: sebagian ulama ada yang membolehkan mencium kemaluan istri bahwa menghisap biji kemaluan wanita. Demikain juga dengan istri, maka boleh sebaliknya

Seorang ulama mazhab Syafi’i yaitu Al-Maliaariy Al-Fananiy berkata,

“Boleh bagi seorang suami menikmati istrinya dengan berbagai cara kecuali lingkaran duburnya, bahkan (boleh menikmati istrinya) meskipun mengisap kiltorisnya” [Fathul Mu’in bi Syarh Qurratil ‘Ain hal 482]

Kelima: sebagian ulama membolehkan menghisap dan mencium apabila sebelum mulai jimak karena belum keluar madzi dan belum bercambur dengan cairan farji. Boleh dilakukan dengan cara membersihkan dahulu dari madzi yang keluar

Dalam fatwa Asy-Syabakah Islamiyyah disebutkan bahwa bolehnya mencium farji sebelum jimak dan makruh hukumnya setelah jimak

“Ulama Hanabilah rahimahullah membolehkan mencium farji istri sebelum jimak dan makruh hukumnya setelah jimak” [Fatwa no. 50708]

Demikian beberapa pendapat ulama yang kami paparkan dengan dalil-dalil mereka, adapun pendapat yang rajih kami belum bisa merajihkan dan setahu kami ini adalah ikhtilaf mu’tabar yaitu perbedaan pendapat ulama kita berlapang-lapang dalam hal ini. Wallahu a’lam.

Demikian semoga bermanfaat. (*)

Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel asli: www.muslim.or.id

Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com