Tradisi Menumbai Madu Sialang di Kabupaten Pelalawan

Datariau.com
249 view
Tradisi Menumbai Madu Sialang di Kabupaten Pelalawan

DATARIAU.COM - Menumbai Madu Sialang suatu tradisi masyarakat Riau yang masih bertahan hingga kini. Secara tradisi, lebah diberi julukan “Lalat Putih Sri Majun” karena lebah adalah jenis serangga sebagai lambang rezeki. Ia memberikan madu yang berkhasiat untuk obat bermacam penyakit. Mencari madu merupakan profesi bagi seorang atau sekelompok orang.

Lebah dalam jumlah ribuan dalam satu kelompok dipimpin "ratunya" tinggal di pohon Sialang yang rindang dan tinggi. Untuk mengambil madunya diperlukan usaha memanjat pohon sialang. Kegiatan tersebut disebut dengan “menumbai”.

Manumbai berasal dari kata “umbai” yaitu keadaan sebuah tali yang berada di atas dengan ujungnya terkulai ke bawah. Tali yang tergantung selalu disebut terumbai atau terjulai. Upacara tradisi manumbai yaitu adalah tradisi pengambilan madu di pohon Sialang diturunkan dengan tali yang terulur ke bawah.



Upacara manumbai madu lebah dilaksanakan di malam hari saat bulan gelap dengan maksud agar lebah tak dapat melihat pemanjat.

Penumbai terdiri dari:

1). Juragan tua, adalah orang yang telah berprofesi lama, banyak pengalaman dan telah menguasai ilmu manumbai luar dalam. Ia bertanggung jawab atas keberhasilan dan keselamatan para pembantunya. Tugasnya memastikan keamanan lokasi manumbai agar terhindar dari binatang hutan.

2). Juragan muda terdiri dari seorang atau beberapa orang yang bertugas membantu juragan tua, menyiapkan segala keperluan manumbai, seperti membuat tunam (suluh yang terbuat dari seludang kelapa yang kering), membuat semangkat (tangga bersambung untuk memanjat), menebas dan membersihkan pangkal pohon Sialang, membuat para-para tempat memeras sarang lebah, menyiapkan tali, ember tempat madu, dan yang paling utama tugasnya memanjat dan menurunkan madu.

3). Tukang sambut terdiri dari beberapa orang yang bertugas menyambut timba berisi madu kemudian memeras sarang lebah hingga mendapatkan madu.

Pohon Sialang atau jenis pohon lain seperti pulai yang terdapat sarang lebah, rata-rata berketinggian diatas 20 meter (antara tanah dengan dahan pertama).

Sarang lebah yang ada di pohon sialang tidak hanya pada dahan besar dekat batang pohon, bahkan ada juga yang bersarang di tengah dan ujung dahan bahkan ranting. Tidak jarang pula sarang tersebut menyebar pada pohon pohon sialang yang berdekatan sehingga dahan dan rantingnya bertaut.

Untuk mengambil madu lebah di tengah dan ujung dahan bahkan ranting serta berpindah dari pohon yang satu ke pohon lain yang ada sarang lebahnya melalui dahan dan ranting yang bertaut Tenganai tidak perlu turun untuk kemudian memanjat pohon di sebelah yang dekat dengan pohon yang telah dipanjatnya, cukup dengan meniti di dahan.

Dari proses tradisi menumbai ini tergambar, bagaimana kearifan lokal masyarakat dalam hal menjaga kelestarian lingkungan alam dengan tetap mempertahankan tradisi. Hal ini sangat berpotensi dalam mendukung pariwisata, sebab wisatawan dapat ikut dan terlibat langsung dalam proses pengambilan madu lebah.

Penulis: Intan Ervan Fauzar (Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Riau)

Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com