Sempat Diancam Sebelum Dipenggal, Ini Detik-detik Penyerangan terhadap Guru di Perancis

Yoga
32 view
Kompas.com

DATARIAU.COM - Seorang guru yang dikabarkan tewas dibunuh dengan cara sangat brutal, yakni dipenggal di sebuah jalan di Perancis sebelumnya sempat diancam.


Melansir The Sun, guru sejarah dan geografi bernama Samuel Paty (47) dibunuh dengan cara dipenggal pada Jumat (16/10/2020) setelah memperlihatkan kartun kontroversial Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.


Atas insiden tersebut, polisi menangkap 9 orang termasuk orang tua dari seorang murid di sekolah tempat Paty mengajar. Pembunuhnya disebut oleh kepolisian berusia 18 tahun, seorang pria asal Chechnya.


Pembunuhan itu juga terjadi ketika persidangan kasus serangan militan yang mengatasnamakan Islam pada tahun 2015 terhadap majalah satir Perancis, Charlie Hebdo karena menerbitkan kartun Nabi Muhammad.


Presiden Perancis, Emmanuel Macron mengatakan serangan itu memiliki semua ciri "serangan teroris Islam" dan guru bernama Paty telah dibunuh karena dia "mengajarkan kebebasan berekspresi".


Berbicara di tempat kejadian beberapa jam setelah peristiwa nahas itu terjadi, dia menekankan persatuan nasional. "Mereka tidak akan menang, mereka tidak akan memecah belah kita," kata Macron.


Serangan itu terjadi sekitar pukul 17:00 waktu setempat di dekat College du Bois d'Aulne, tempat Paty mengajar, di kota Conflans-Sainte-Honorine, sekitar 30 km barat laut pusat kota Paris.


Ketika sedang berjalan, Paty diserang oleh seorang pria yang memegang pisau dapur besar. Pria itu menyerang Paty yang malang dan langsung memenggal kepala guru itu.


Setelah melakukan perbuatan brutalnya, foto guru yang tewas itu beredar di media sosial. Penyelidik masih belum mengetahui apakah itu ulah si pelaku atau kaki tangannya.


Penyerang kemudian lari dari tempat kejadian tetapi dikejar oleh polisi setempat yang telah dipanggil oleh saksi.


Ketika petugas menemukan pelaku dan meneriakinya, pelaku malah mengancam petugas. Petugas polisi pun menembak pria pelaku pembunuhan itu dan dia meninggal tak lama kemudian.


Melansir The Sun, polisi mengatakan bahwa penyerang berusia 18 tahun, bernama Aboulakh lahir di Moskwa namun berasal dari wilayah selatan Chechnya yang mayoritas beragama Islam.


Di Perancis, pria itu tinggal di Normandy. Kakek dan saudara laki-lakinya juga ikut ditangkap polisi.


Atas insiden nahas itu, semua guru di Perancis mengemukakan ketakutan mereka. Karena takut dengan pembunuhan seperti itu.


Nilai-nilai nasional di Perancis seperti kebebasan, kesetaraan, persaudaraan dipandang sebagai tugas inti sistem pendidikan yang harus dilanjutkan.


Samuel Paty, korban yang berprofesi sebagai guru sejarah dan geografi tengah mengajar tentang kebebasan berekspresi di awal Oktober.


Dia dilaporkan telah menunjukkan kartun Nabi Muhammad saat berbicara tentang kasus Charlie Hebdo, dan dilaporkan telah menyarankan muridnya yang Muslim untuk meninggalkan ruangan jika mereka merasa akan tersinggung sebab materi itu.


Beberapa orang tua Muslim mengeluh ke sekolah dan setidaknya satu orang dilaporkan mengangkat hal itu ke media sosial untuk menyerukan pemecatan terhadap Paty.


Media Perancis melaporkan bahwa Paty sendiri telah menerima sejumlah ancaman yang tidak ditentukan beberapa hari setelah mengajar materi tersebut.


Atas kematiannya, karangan bunga diletakkan di pintu masuk College du Bois d'Aulne pada hari Sabtu (17/10/2020).


Para pelajar sekolah itu mengatakan merasa putus asa atas pembunuhan brutal yang dialami guru yang mereka sayangi.


Seorang ayah (orang tua murid) menulis di Twitter bahwa putrinya merasa "pecah berkeping-keping, merasa diteror oleh tindakan keras semacam itu. Bagaimana saya dapat menjelaskan kepadanya hal-hal yang tidak terpikirkan ini?"


Salah satu mantan murid Paty, Martial (16) mengatakan guru Paty menyukai pekerjaannya, "Dia benar-benar ingin mengajari kami banyak hal, terkadang kami berdebat."


Pemerintah Perancis mengadakan penghormatan nasional untuk guru Paty, dan tagar #JeSuisSamuel (Saya Samuel) mulai menjadi tren di media sosial, menggemakan seruan #JeSuisCharlie untuk solidaritas setelah serangan terhadap Charlie Hebdo.


Perancis telah menyaksikan gelombang kekerasan Islam sejak serangan Januari 2015, yang menewaskan 12 orang termasuk kartunis terkenal.


Tiga minggu lalu, saat persidangan berlangsung, seorang pria menyerang dan melukai dua orang di luar bekas kantor majalah itu.

Sumber
: https://www.kompas.com/global/read/2020/10/17/210910370/sempat-diancam-sebelum-dipenggal-ini-detik-detik-penyerangan-terhadap?page=1
Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com

loading...