Presiden Peru ini Mundur Usai Aksi Brutal Polisi Tewaskan 2 Mahasiswa

Datariau.com
138 view
Presiden Peru ini Mundur Usai Aksi Brutal Polisi Tewaskan 2 Mahasiswa

DATARIAU.COM - Presiden sementara Peru, Manuel Merino, mengundurkan diri sehari setelah dua mahasiswa meninggal dalam aksi unjuk rasa menentang pemerintah.

"Saya ingin memberitahukan kepada seluruh rakyat, bahwa saya mengundurkan diri," kata Merino melalui pidato yang disiarkan televisi.

Presiden Merino belum sepekan menjabat dan sebelumnya dikenal sebagai ketua Kongres.

Ia menggantikan President Martin Vizcarra, yang pekan lalu diberhentikan melalui mekanisme pemakzulan, menyusul kasus suap yang diduga melibatkan dirinya. Vizcarra sudah membantah tuduhan suap tersebut.

Para politisi menyerukan pengunduran diri Merino sebagai presiden karena aksi-aksi protes menentang pemerintah dihadapi dengan kekerasan oleh aparat keamanan.

Pada hari Minggu (15/11), 12 menteri yang baru saja ia angkat meletakkan jabatan sebagai protes keras atas brutalitas polisi dan cara Presiden Merino menangani krisis politik.

Para anggota Kongres menggelar pertemuan hari Minggu namun gagal menyepakati figur yang akan menggantikan Merino sebagai presiden. Satu tim yang dipimpin Rocio Silva Santisteban --penulis dan aktivis hak asasi manusia-- ditolak oleh Kongres.

Tim baru, yang terdiri atas presiden sementara dan sejumlah politisi senior lintas kelompok, sedang disusun.

Sedianya Merino menjabat sebagai presiden sementara hingga Juli 2021, ketika masa jabatan Vizcarra berakhir.

Sejak terpilih sebagai presiden pada Maret 2018, Vizcarra teribat "pertarungan politik" dengan Kongres, yang didominasi oleh partai-partai pesaing.

Pemakzulan dirinya terkait kasus dugaan menerima suap sebesar US$640.000 atau sekitar Rp9 miliar saat dirinya menjadi gubernur.

Puluhan ribu orang --banyak di antara mereka anak-anak muda-- turun ke jalan berdemonstrasi menetang pemberhentian Vizcarra sebagai presiden.

Mereka menuduh Kongres melakukan kudeta parlementer.

Vizcarra, 57 tahun, mendapat banyak dukungan karena reformasi yang ingin ia terapkan di Peru.

Aksi protes di ibu kota Lima pada hari Sabtu (14/11) berjalan relatif damai, namun pecah bentrok antara pemrotes dan polisi saat malam tiba.

Polisi dilaporkan menembakkan gas air mata untuk membubarkan para pemrotes, yang membalas tindakan polisi dengan melempar batu dan petasan.

Dalam insiden ini, dua mahasiswa tewas, Jack Pintado, 22 tahun, dan Inti Sotelo, 24 tahun.

Muncul kekhawatiran krisis politik di Peru makin parah di tengah lesunya ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi Coviid-19.

Peru menerapkan salah satu pembatasan paling ketat di kawasan Amerika Selatan untuk menekan penyebaran virus corona, namun tetap saja kasus meningkat tajam.

Sejauh ini angka kasus mencapai 935.000 dengan jumlah kematian lebih dari 35.000 orang, menurut data yang diikumpulkan Johns Hopkins University.

Tingkat kematian per 100.000 orang di Peru adalah yang ketiga tertinggi di dunia.

Source: Viva.co.id

Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com