Polda Riau Gelar Dialog Kebangsaan dan Toleransi Lintas Agama Serta Deklarasi Kedamaian

Hermansyah
133 view
Polda Riau Gelar Dialog Kebangsaan dan Toleransi Lintas Agama Serta Deklarasi Kedamaian
Dialog deklarasi lintas agama dan toleransi.

PEKANBARU, datariau.com - Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi melalui Wakapolda Riau Brigjen Pol Drs Tabana Bangun MSi melaksanakan dialog kebangsaan dan deklarasi toleransi lintas agama pada Kamis (24/12/2020) sekira pukul 09.00 Wib, bertempat di Ballroom Hotel Ayola Tampan, Kota Pekanbaru.

Dialog tersebut dengan mengangkat tema, "Toleransi Beragama Ditengah Keberagaman, Tolak Intoleran dan Radikalisme serta Deklarasi bersama Kedamaian untuk Riau".

Selain dihadiri langsung oleh Wakapolda Riau Brigjen Pol Drs Tabana Bangun MSI, juga dihadiri Dosen UIN DR Junaidi Lubis MAG, Budayawan Syaukani Al Kharim, Ketua GMKI Junelka Lisendra Padang, Sekjen PMKRI Erika Yulviani Saragih, Ketua GMNI Pekanbaru Wanzul Fazli Intizam, Ketua Komisariat UIN Riau Muhammad Fauzi dan 20 orang peserta dialog lainnya.

Ketua UKP mengatakan keberagaman dan perbedaan di antara masyarakat Indonesia itu adalah suatu kesatuan dalam membentuk Indonesia yang lebih maju. "Dengan forum dialog ini, kita dapat membuka wawasan untuk membangun Provinsi Riau yang lebih baik," kata dia.

Sementara itu, Dr Junaidi Lubis MA menyebutkan bahwa toleransi, keberagaman, radikalisme merupakan istilah yang sering dipakai saat sekarang ini.

"Berbicara perfektif keagaaman, umat muslim dicipkatan bagaimana agar dapat membuat tuhan (Allah SWT) itu senang. Dalam hubungan kita, sesama kita sebagai makhluk harus dapat menjaga ketentraman, dan ini sesuai dengan Pancasila," ujarnya.

Kemudian Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi melalui Wakapolda Riau Brigjen Pol Drs Tabana Bangun MSI mengatakan bahwa pihak kepolisian berharap forum ini dapat membagun gagasan serta pemikiran yang dapat membangun Provinsi Riau yang lebih maju.

"Riau merupakan daerah yang sangat memiliki potensi untuk memberikan makna positif bagi daerah daerah lain, suatu kebahagiaan, dan kebanggaan bagi masyarakat yang dapat hidup di Riau," sebut Tabana Bangun.

"Kerukunan adalah suatu kondisi aman, tentram, dan damai dalam kehidupan berbangsa serta bernegara. Jumlah pemeluk agama yang ada di Indonesia cukup banyak, pemeluk agama Islam di Riau termasuk yang terbesar, dengan keberagaman agama yang ada di Riau kita semua berharap dapat membangun kerukunan dengan baik," harapnya.

Dikatakan Brigjen Pol Drs Tabana Bangun MSI, kita berbangsa dan bernegara tentunya harus tetap berlandaskan kepada Pancasila, dimana semua pihak dapat menyikapi bahwa Pancasila sebagai ideologi yang harus tetap di pertahankan.

"Komunisme masih menjadi bahaya laten bagi bangsa Indonesia, melalui forum ini saya mendorong membangkitkan masyarakat Riau Pro aktif dalam membela kebenaran yang ada," tukasnya.

Menurut Brigjen Pol Drs Tabana Bangun MSI, radikalisme perlu diwaspadai karena dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya perselisihan diantara komponen bangsa yang dapat merusak sendi sendi kehidupan bersama.

Tentunya radikalisme muncul karena ketidaktahuan akan ajaran agama, dan radikalisme muncul karena semangat yang berlebihan dalam mengamalkan ajaran agama.

"Maka dari itu, perlu langkah yang dilakukan dengan membentuk forum solidaritas, memberi fasilitas kepada badan musyawarah, dan pembinaan jaringan kerjasama antara umat beragama," pungkasnya.

Wakapolda Riau itu menyimpulkan, bahwa untuk mencipkan Negara Indonesia khususnya Provinsi Riau agar terbebas dari cengkrmaan radikalisme, maka seluruh elemen umat beragama harus bersinergi.

Dijelaskan Syaukani Al Kharim, munculnya kelompok radikalisme dimulai dengan narasi yang buruk, dapat dilihat dari media sosial. Apabila narasi yang digunakan narasi yang membangun dan narasi yang bagus tidak akan menjadi permasalahan.

"Ingin agar forum ini dapat mengeluarkan suara yang baik untuk melahirkan generasi muda yang dapat membangun. Saya sangat merisaukan narasi yang banyak muncul di media sosial, narasi ini yang dapat merusak pembangunan negara," kata Syaukani.

"Dan secara budaya Indonesia tidak ada masalah, yang menjadi masalah adalah adanya sekelompok orang yang ingin mengambil kekuasaan dengan cara yang ilegal. Tidak ada pekembangan pembangunan ini dilakukan tanpa dialog, kebudayaan menjadikan dialog sebagian instrumen," tandasnya.

Tentunya, Syaukani Al Karim menjelaskan lagi, kita semua berharap kelompok cipayung menjadi motor untuk berdiri paling depan dalam pembangunan Provinsi Riau.

Adapun isi dari deklarasi toleransi tersebut, diantaranya menolak rasisme dan menolak intoleransi yang dapat memecah sesama anak Bangsa, membangun dan memperkuat toleransi antar agama, suku, ras dan etnis dalam rangka mengamalkan nilai nilai Pancasila sebagai falsafah hidup beragama, menolak segala bentuk kekerasan dan tindakan radikalisme atasnama agama.

Kemudian mendukung aparat penegak hukum dalam hal ini, Polda Riau untuk dapat menindak segala bentuk usaha uusaha dalam rangka mengganggu kesatuan dan persatuan di Negara Indonesia khususnya di wilayah Provinsi Riau saat ini.(*)

Sumber
: Datariau.com
Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com