Peluang Bisnis Ekspedisi di Tengah Tren Belanja Online Selama Pandemi

Admin
301 view
Peluang Bisnis Ekspedisi di Tengah Tren Belanja Online Selama Pandemi
Ilustrasi (Foto: Unsplash.com)

DATARIAU.COM - Pandemi Covid-19 atau Corona membawa kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat ketika ingin berbelanja, terutama di pasar maupun supermarket. Karena itu, aktivitas belanja online pun semakin menarik bagi masyarakat. Pasalnya, dengan belanja online, kamu tidak perlu bersentuhan dan berpapasan dengan banyak orang.

Aktivitas belanja online semakin diminati juga karena platform E-Commerce mulai marak dan berkembang cepat di Indonesia. Salah satu keuntungan membeli barang melalui platform E-Commerce adalah kualitas bermutu, jaminan garansi, hingga pengiriman cepat.

E-commerce semakin menggeliat seiring dengan perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi. Kemudahan berbelanja dan berjualan online membuka kesempatan bagi semua pegiat usaha mulai dari perusahaan besar, UKM mau pun bisnis perorangan.

Tingginya aktivitas belanja online ini karena bisnis e-commerce di Indonesia memiliki beragam segmen, dari online retail, marketplace, daily deals, classified ad, price comparison, travel, sistem pembayaran, logistik, keuangan, dan lain-lain.

Dikutip dari situs kominfo.go.id, Idham Azka selaku Head of Mass Media Relations JNE mengakui bahwa pertumbuhan e-commerce dan industri kreatif membuka kesempatan bagi perusahaan jasa ekspedisi untuk turut memberikan kontribusi dalam proses pengiriman.

“Penguatan bisnis di industrf kreatif menjadi daya dorong yang baik secara bisnis di segmen logistik atau jasa ekspedisi,” terang Idham di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Idham, pelaku bisnis e-commerce sendiri mendominasi pelanggan perusahaannya.

“Sekitar 70 persen pelanggan perusahaan kami berasal dari para pelaku bisnis jualan online, baik supplier maupun retailer,” terangnya.

Berdasarkan laporan yang dihimpun iPrice, berjudul Southeast Asian Map of E-Commerce untuk kuartal II-2020, menunjukkan orang Indonesia disebut-disebut paling getol dalam mengakses aplikasi belanja ketimbang negara-negara lainnya di Asia Tenggara.

Tercatat, total sesi atau kunjungan pada aplikasi belanja di Indonesia mencapai 28,5 milyar pada kuartal II-2020. Angka ini naik 34 persen dari kuartal sebelumnya yang mencatat 21,3 miliar sesi. Indonesia unggul jauh atas Thailand yang berada di posisi kedua dengan total sesi aplikasi belanja sebanyak 12,9 miliar pada kuartal II-2020.

Berdasarkan laporan iPrice juga, peningkatan paling pesat diraih Filipina yang sesi penggunaan aplikasi belanjanya naik hingga 53 persen. Namun, total sesinya masih kalah jauh dengan Indonesia, yakni hanya 4,9 miliar, dari 3,2 miliar di kuartal I-2020.

Pada kuartal II-2020, total jumlah unduhan kategori belanja di Indonesia mencapai 40,7 miliar sehingga duduk di posisi pertama dalam hal total unduhan aplikasi belanja terbanyak di Asia Tenggara. Namun, jumlah itu menurun dua persen dari kuartal sebelumnya.

Kemungkinan hal ini dikarenakan aplikasi-apllikasi belanja sudah banyak terpasang di smartphone pengguna sehingga tak perlu diunduh lagi. E-Commerce lokal juga menjadi primadona d Indonesia, dengan angka kunjungan mencapai 55 persen di kuartal II-2020. Namun, jumlah itu turun dari kuartal sebelumnya yang mencatat 57 persen.

Adapun dalam laporan iPrice ini, E-Commerce Internasional mencatat kenaikan angka kunjungan sebesar 2 persen dibanding kuartal sebelumnya, menjadi 45 persen pada kuartal II-2020. Dari lima besar E-Commerce yang disorot dalam laporan ini, tiga di antaranya adalah pemain lokal, yakni Blibli, Tokopedia, dan Bukalapak. Sedangkan dua e-commerce lainnya adalah Shopee dan Lazada yang merupakan pemain dari luar negeri.

Sebagai informasi, penggunaan jasa kurir meningkat di masa pandemi untuk melakukan pengiriman barang. Hal ini sesuai dengan hasil survei cepat yang dilakukan MarkPlus, Inc. pada 122 responden di seluruh Indonesia dengan 59,8% berasal dari Jabodetabek dan 41,2% non-Jabodetabek.

Frekuensi penggunaan jasa kurir jika dibandingkan dengan sebelum pandemi diakui oleh 39% responden meningkat signifikan dan 39% lainnya mengaku sedikit meningkat. Mayoritas masyarakat menggunakan jasa kurir untuk mengirimkan barang yang dibeli dari e-commerce sebanyak 85,2%.

Sedangkan sebesar 50,8% lainnya mengirimkan barang belanjaan dari tempat belanja online di media sosial. Di masa pandemi, masyarakat menjadi semakin selektif dalam memilih jasa ekspedisi yaitu sebesar 72%.

“Dua hal yang menjadi pertimbangan utama mereka dalam memilih jasa kurir adalah affordability yaitu harga yang terjangkau dan yang kedua adalah waktu delivery yang bisa dikatakan cepat,” papar Senior Associate MarkPlus, Inc. Nadya Prasetyo dalam The 2nd MarkPlus Industry Roundtable Logistic Sector beberapa waktu lalu.

Nantinya, kata Nadya, sistem pengiriman satu hari sampai atau same-day delivery akan semakin diminati oleh masyarakat jika dibandingkan selama pandemi.

“Jika selama pandemi 57,4% responden sudah menggunakan jasa same-day delivery, ke depannya peminat sistem pengiriman satu hari tersebut meningkat menjadi 67,2%, tukasnya.

Sedangkan peminat reguler dan next-day delivery relatif tetap sama antara saat pandemi dan nantinya saat kondisi kembali normal.

Dalam aspek kepuasan pelanggan terhadap jasa kurir saat ini dinilai cukup memuaskan dengan skor 4,1 dari skala 1 sampai 5, meskipun diakui masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan ke depannya.

Sebesar 64,8% menilai pemain ekspedisi perlu memperbanyak jasa pick-up service, 59,8% berharap adanya program keanggotaan, dan 54,9% menginginkan promosi yang lebih menarik.

“Masyarakat juga berharap ekspedisi meningkatkan pelayanan dalam kecepatan pengiriman yang semakin cepat dan on-time (81,1%) dan barang yang diterima dalam kondisi baik (72,1%),” tutup Nadya.

Sebagai informasi, terdapat dua peraturan yang mengatur mengenai Izin Usaha yang bergerak di bidang ekspedisi. Pertama adalah Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Jasa Pengurusan Transportasi (Permen 49/2017).

Kedua adalah Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 7 Tahun 2018 tentang Pelayanan Berusaha Terintegerasi secara Elektronik Bidang Komunikasi dan Informatika (Permen 7/2018). Hal yang membedakan kedua peraturan ini adalah dalam jenis izin yang dikeluarkan.

Adapun, perbedaan dari kedua jenis izin tersebut adalah berdasarkan ruang lingkup kegiatan usaha. Menteri Perhubungan berwenang mengeluarkan Izin Usaha Jasa Pengurusan Transportasi (IUJPT), sedangkan Menteri Komunikasi dan Informatika berwenang untuk mengeluarkan Izin Penyelenggara Pos.

Bentuk Jasa Ekspedisi

Perlu kamu tahu, bentuk jasa ekspedisi sebenarnya berbeda-beda tergantung kapasitas dan layanan moda transportasi yang ditawarkannya. Berikut ini adalah beberapa tipe pengiriman dalam bisnis ekspedisi yang umumnya ditawarkan di Indonesia, yaitu:

1. Full Truck Load (FTL)

Bentuk jasa berikut ekspedisi berikut adalah menggunakan truk sesuai kebutuhannya. Jenis truk tergantung dengan kapasitas berat atau volumenya. Umumnya, kebutuhannya sangat bergantung dari berat atau volume barang ingin dikirim. Contoh perusahaan yang menawarkan jasa ini adalah Go Box, Kargo.co.id, dan Siagatrans.com

2. Less Than Truck Load (LTL)

Bentuk jasa seperti ini biasanya memanfaatkan sebagian kapasitas dari truk. Namun, proses pengirimannya baru akan berjalan jika truk sudah terisi penuh dengan barang muatan. Oleh sebab itu, ada perusahaan jasa pengiriman barang yang memanfaatkan peluang ini dengan cara mengumpulkan muatan barang dari banyak pengguna jasa hingga dapat memenuhi kapasitas truk yang digunakan.

Dengan car aini, pengguna bisa memperoleh harga efisien, sedangkan penyedia jasa tetap mendapatkan keuntungan optimal. Contoh perusahaan jasa semacam ini adalah Ninja Express.

3. Pengiriman Barang Via Laut

Untuk pengiriman barang via laut, ada 2 cara yang bisa dilakukan yaitu dengan menggunakan kontainer atau pengiriman lewat kapal feri buat kapasitas barang yang lebih kecil. Pada proses pengiriman barang menggunakan kontainer, pemilihan jasa berdasarkan penggunaan kapasitas yang dikenal dengan full charter load (FCL) untuk penggunaan kontainer secara penuh. Sedangkan penggunaan kapasitas kontainer secara parsial dikenal dengan less than container load (LCL).

4. Pengiriman Barang Via Udara

Karakteristik dari pengiriman barang via udara dalah kecepatan dalam pengiriman barangnya. Oleh sebab itu, terif yang diberlakukan juga lebih tinggi dari pengiriman lewat darat ataupun laut.

5. Kurir/Ekspres

Jasa pengantaran barang yang satu ini untuk pengguna jasa yang menginginkan barang terkirim dengan cepat. Karena sifatnya yang cepat, maka harga yang diberikan juga lebih tinggi dibandingkan regular. Umumnya dipakai oleh pengguna jasa yang menginginkan barang dengan volume ringan dan tidak terlalu besar. Contoh perusahaan jasa ini adalah JNE, Tiki, ataupun Si Cepat.

Tips Saat Menjalankan Bisnis Ekspedisi

Dalam menjalani bisnis ekspedisi, ada baiknya kamu menerapkan beberapa tips berikut ini:

1. Memberikan Pelayanan Terbaik

Karena bisnis ini berkaitan erat dengan pengiriman barang pelanggan. Sebisa mungkin untuk menetralisir adanya kesalahan pengiriman yang terjadi. Seperti misalnya masalah keterlambatan pengiriman, kerusakan pengemasan barang (bisa terjadi kerusakan barang), barang yang tidak sampai dan sebagainya.

2. Terus Berinovasi

Setiap bisnis pasti memerlukan banyak perubahan. Memunculkan inovasi-inovasi terbaru juga dapat meningkatkan kemajuan bisnis di bidang ekspedisi.

Jangan menggunakan hanya satu metode, tanpa menggunakan metode inovasi terbaru. Biasanya orang akan mudah bosan jika bisnis yang kamu jalankan cenderung monoton, dan tidak ada hal-hal terbarukan yang menarik minat para konsumen.

3. Terus Memaksimalkan Sistem Pengiriman

Apabila semula jasa ekspedisi milikmu mengalami kemunduran akibat pengiriman yang membludak tetapi tidak bisa ditangani dengan baik alias mengalami kendala pengiriman (terlambat). Hati-hati ini bisa mengancam perkembangan bisnis ekspedisi milikmu.

Kamu bisaa menggunakan beberapa jasa transportasi yang bisa membuat pengiriman menjadi lebih mudah, cepat dan efisien. Menambah armada kurir agar barang bisa sampai tepat waktu, atau memperbanyak cabang di setiap daerah, agar pengiriman lebih mudah dikontrol.

4. Berpatner dengan Beragam E-Commerce

Meminimalisir kurangnya pengiriman, kamu bisa melakukan kerjasama dengan beberapa E-Commerce besar yang banyak melakukan pengiriman barang setiap harinya. Dengan begini, kamu tidak akan pernah kehabisan order pengiriman barang.

Namun jika sudah melakukan kerjsama dengan E-Commerce, selalu jaga hubungan baik dengan partner bisnis kamu tersebut, dan selalu utamakan pelayanan yang terbaik dalam pengiriman barang.

5. Berikan Harga yang Bersaing

Munculnya pergeseran belanja online, membuat banyaknya kemunculan jasa ekspedisi-ekspedisi baru. Ini membuat bisnis milikmu semakin banyak memiliki kompetitor. Apalagi jika dilihat sudah banyak jasa ekspedisi yang sudah besar, seperti TIKI, JNE, J&T, dan sebagainya.

Kamu harus memikirkan bagaimana harga terbaik dari bisnis milikmu. Pikirkan rugi tidaknya dalam bisnis milikmu. Dan bagaimana dengan harga kompetitor. Jangan sampai harga yang kamu tawarkan lebih mahal dari kompetitor. Tapi jangan juga terlalu murah yang mengakibatkan tidak adanya keuntungan yang masuk ke dalam bisnis ekspedisi milikmu.

Adapun, industri logistik atau ekspedisi saat ini mempunyai proses manajemen bisnis yang tidak sederhana. Perusaah perlu lebih beradaptasi dengan implementasi teknologi yang ada di masa sekarang. Pada dasarnya, tantangan utama dalam bisnis ekspedisi di zaman sekarang justru ada di persaingan antar perusahaan ekspedisi lainnya, terutama yang sudah mengimplemntasikan teknologi IT sebagai bagian dari sistem pelayanannya.

Well, semoga informasi ini bermanfaat ya!

Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com