Berbagai Kisah Pesawat Mendarat Darurat di Air, Garuda Indonesia Hingga Lion Air

Admin
186 view
Berbagai Kisah Pesawat Mendarat Darurat di Air, Garuda Indonesia Hingga Lion Air
Gambar: Kompas.com

DATARIAU.COM - Setiap kali menaiki pesawat, biasanya di dalam kantong kursi penumpang terdapat kartu petunjuk keselamatan. Para awak kabin juga memperagakan cara menggunakan alat-alat keselamatan penerbangan di depan para penumpang sebelum pesawat mengudara.

Setiap pesawat berbadan lebar memang didesain mampu mendarat di air apabila terjadi keadaan darurat. Tapi, sering juga badan pesawat malah pesawat pecah saat menyentuh air ketika ada kendala mesin saat penerbangan.

Sabtu, 9 Januari 2021, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 jatuh di perairan Kepulauan Seribu dalam penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang menuju Pontianak.

Pesawat ini merupakan jenis Boeing 737-500 yang ditenagai dua mesin CFM56-3C1 buatan CMFI, perusahaan patungan Safran Aircraft Engine dari Prancis dengan GE Aviation dari Amerika Serikat.

Dalam kartu keselamatan pesawat ini juga memungkinkan mampu mendarat di air.

Sebenarnya banyak kisah-kisah pilot yang berhasil mendaratkan pesawatnya di air bahkan menyelamatkan seluruh penumpang berikutnya awaknya.

Salah satu kisah pesawat mendarat darurat di air bahkan pernah dibuat filmnya dengan judul "Sully" yang dibintangi aktor kenamaan Tom Hanks.



US Airways

Film ini diangkat dari kisah nyata Kapten Chesley "Sully" Sullenberger yang terpaksa harus mendaratkan pesawat US Airways dengan nomor penerbangan 1549 yang dipilotinya di permukaan Sungai Hudson setelah mesin mengalami kerusakan akibat bertabrakan dengan kawanan burung.

Keputusan Kapten Sully untuk mendaratkan pesawat di atas Sungai Hudson di Kota New York ini berhasil menyelamatkan 155 penumpang. Film ini menggambarkan bagaimana pilot harus bisa mengambil keputusan terbaik pada waktu yang tepat untuk menyelamatkan penumpangnya.

Bagi yang sudah pernah menonton film ini akan melihat bahwa setiap insiden pesawat udara selalu ada faktor manusia disamping teknologi. Sebagai sutradara Clint Eastwood berhasil mengangkat film ini menjadi tontonan yang menarik tanpa menambah atau mengurangi dari peristiwa sebenarnya.

Garuda Indonesia

Kisah keberhasilan mendarat di perairan juga terjadi di Indonesia. Tepatnya tanggal 16 Januari 2002, pesawat Boeing 737-300 milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA421 terpaksa mendarat di anak sungai Bengawan Solo setelah kedua mesinnya mati akibat cuaca.



Pesawat dengan rute Lombok-Yogyakarta ketika itu membawa 54 penumpang dan enam awak kabin. Meskipun dalam peristiwa itu seluruh penumpang berhasil diselamatkan, akan tetapi salah seorang awak kabin Santi Anggraeni meninggal dunia, diduga terhisap keluar akibat ekor pesawat pecah saat saat pesawat mendarat darurat.

Pesawat yang dipiloti Kapten Abdul Rozak dan kopilot Haryadi Gunawan menghadapi cuaca buruk saat akan menurunkan ketinggian jelajah menuju Bandara Adisutijipto Yogyakarta. Kapten penerbangan atas persetujuan ATC saat itu memutuskan untuk sedikit menyimpang dari rute seharusnya.

Keputusan cepat itu diambil karena di depan pesawat terdapat awan yang mengandung hujan dan petir. Pilot lantas mencoba untuk terbang menembus awan badai itu. Sekitar 90 detik setelah memasuki awan, pesawat turun ke ketinggian 18.000 kaki namun mendadak kedua mesin mati dan kehilangan daya dorong.

Pilot dan Kopilot saat itu mencoba menghidupkan unit daya cadangan (auxiliary power unit/APU) agar mesin bisa kembali menyala. Namun upaya itu ternyata tidak membuahkan hasil, hingga pesawat mencapai ketinggian 8.000 kaki pilot akhirnya memutuskan mendarat di anak sungai Bengawan Solo.

Pesawat berhasil mendarat di sungai dengan kondisi tidak mengeluarkan roda pendaratan serta tidak membuka sayap. Saat evakuasi kondisi pesawat mengalami kerusakan pada bagian hidung dan mesin.

Hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) saat itu menyebutkan pilot yang mengetahui kondisi di luar kokpit seharusnya tidak berupaya menembus awan.

Terakhir diketahui awan badai yang berusaha ditembus GA421 itu mengandung es, kondisi ini yang membuat mesin pesawat mati dan tak mau dihidupkan.

Lion Air

Peristiwa mendarat di permukaan air juga dialami pesawat Lion JT904 jenis Boeing 737-300 saat mendarat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali dengan asal penerbangan Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.

Pesawat yang dikendalikan Mahlup Ghazali dan Kopilot asal India, Chirag Kaira, mendarat keras di perairan sebelah barat runway sehingga membuat badan pesawat terbelah menjadi dua bagian.

Penumpang pesawat sebanyak 110 orang dan tujuh kru pesawat selamat dalam peristiwa itu, meski sebanyak 45 diantaranya harus menjalani perawatan karena luka-luka.

Investigasi KNKT menyebutkan peristiwa itu disebabkan adanya kabut tebal di ujung landasan. Awalnya kendaraan dikendarai oleh kopilot, namun saat akan mendarat diambil alih oleh pilot.



Pilot dinilai tidak mampu membaca secara akurat peristiwa di depannya, lantas mencoba manuver tetapi sudah terlalu dekat dengan ujung landasan sehingga akhirnya jatuh ke laut.

Saksi mata dari sejumlah penumpang, saat itu merasa pesawat akan mendarat seperti biasa. Tetapi kejadian berlangsung sangat cepat, setelah mendengar suara seperti tabrakan, sesaat kemudian badan pesawat sudah pecah menjadi dua dan air laut langsung masuk ke kabin.

Source: Okezone.com

Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com