Oleh : Roger Frans Sinaga

Makam Pahlawan Sebagai Simbol Perjuangan Bangsa Dalam Mempertahankan Kemerdekaan dan Perjuangan Melawan Penjajah Belanda

Samsul
204 view
Makam Pahlawan Sebagai Simbol Perjuangan Bangsa Dalam Mempertahankan Kemerdekaan dan Perjuangan Melawan Penjajah Belanda

DATARIAU.COM - Masyarakat Batak sejak dahulunya terkenal dengan ciri khas yang sulit untuk ditaklukan ataupun dipengaruhi , begitu juga pada masa masuknya penjajah Belanda ke tanah Batak tidak disambut baik dan dianggap mengganggu kehidupan masyarakat khususnya pada kawasan Tomuan Holbung Kabupaten Asahan yang dipimpin oleh Opung Solpoan Sinurat. Banyaknya hasil pertanian seperti kacang, karet, kopi akan dijual di Parbandaran (Pelabuhan kapal laut) tempat transaksi jual beli pedagang dan petani yang juga menjadi cikal bakal nama Desa Bandar Pasir Mandoge masih bisa diakses oleh penjajah Belanda lewat jalur air dari Tanjung Balai menuju Parbandaran yaitu Aek Silo (Sungai Silau ) tentunya menarik perhatian penjajah Belanda untuk mengambil hasil bumi di kawasan ini. Banyaknya penduduk lama suku Jawa sebagai petani di daerah ini dan etnis Cina yang masuk sekitar tahun 1700-1800 Masehi sebagai pedagang masih bisa dipengaruhi oleh tentara Belanda yang tinggal pada daerah Bandar Pasir Mandoge. Namun tidak pada suku Batak yang gigih dalam menentang penjajah Belanda dan melakukan perlawanan di kawasan Tomuan Holbung dahulunya.


"Adanya pembentukan Batalyon Istimewa memiliki arti pertahanan masyarakat Tomuan Holbung, basis Batalyon Istimewa adalah Kecamatan Bandar Pasir Mandoge yang sekarang sudah ada 9 Desa," ujar Bapak Jaga Sitorus .


Di dalam mempertahankan daerah kekuasaan kaum muda Tomuan Holbung melakukan perlawanan dengan semboyan "Lebih Baik Mati Berkalang Tanah Daripada Hidup Dalam Penjajahan" dicetuskan oleh Sersan Mayor Benjamin Sinurat juga adalah anak dari pemimpin Tomuan Holbung.

Dalam persiapan yang cukup matang untuk mendapatkan senjata dan pakaian kaum muda yang dipimpin oleh Serma Benjamin Sinurat perlahan-lahan menyergap koloni tentara Belanda saat mandi di sungai Aek Liman , serta pengepungan pada malam hari yang membuat tentara Belanda juga kewalahan dalam menaklukkan daerah ini.


Untuk mendapatkan pelatihan guna meningkatkan Sumber Daya Manusia di Batalyon Istimewa diutuslah dua orang ke Bukittinggi dengan jalur darat yaitu Sersan Gairun Sitorus , Sersan Berlin Manurung , seiring dengan waktu kedua anggota serta diutus nya dua orang perwira yaitu Letnan Ahmad Tahir dan Letnan Sumadin kembali lagi ke daerah Tomuan Holbung untuk memberikan senjata dan pendidikan tentara pada kaum muda yang berjuang.


Tentara Belanda mengetahui hal tersebut kemudian berencana untuk menghancurkan Batalion Istimewa yang ada di Tomuan Holbung dengan menaklukkan pemimpinnya. Tentara Belanda kemudian mengepung rumah kakak dari Sersan Mayor Benjamin Sinurat yang berada di Talun Tonga-Tonga sekarang berada di dalam HGU PT Sari Persada Raya, Dusun XI Desa Huta Padang. Mengetahui hal tersebut, Serma Benjamin Sinurat mencoba lari dan melompat dari jendela, namun hal tersebut tidak berhasil ketika Serma Benjamin Sinurat tertembak namun tidak langsung mati , tentara Belanda mencoba mengobati dan akan di jadikan tawanan perang agar bisa di tanya apa saja perjuangan dan rencana yang ada pada Batalyon Istimewa serta tempat-tempat persembunyian pasukan Serma Benjamin Sinurat. Namun nyawa Serma Benjamin Sinurat tidak tertolong beliau menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 26 Maret 1949. Kemudian tentara Belanda menanyakan siapa saudara Serma Benjamin Sinurat di Desa Huta Padang oleh M.Bosir Sinurat Katua Desa Huta Padang mengenal Serma Benjamin Sinurat adalah anak dari Gurdong Sinurat Katua Tomuan Dolok, maka jenazah atau jasad Benjamin Sinurat diserahkan kepada M.Bosir Sinurat, lalu M.Bosir Sinurat menyerahkan kepada keluarga kemudian di makamkan di Bosar Dusun IV Desa Huta Padang.


Wafatnya Benjamin Sinurat tidak menyurutkan semangat anak buahnya untuk memberi perlawanan kepada tentara Belanda, setelah melakukan perlawanan yang kuat dalam penolakan masuknya penjajah Belanda dilakukanlah penyerahan kedaulatan Batalyon Istimewa menjadi Teritorial 1 Sumatera Utara bagian Timur yang aktif sebagai Tentara Nasional Indonesia. Kaum muda dan para anggota lainnya masih melakukan perlawanan dalam mempertahankan daerah yang ingin direbut oleh penjajah Belanda hingga akhirnya banyak pertumpahan darah yang terjadi di dalam peperangan untuk mempertahankan daerah tersebut. Namun dari banyaknya pahlawan daerah yang gugur hanya 9 orang yang diketahui yaitu ; Kapten Serma Benjamin Sinurat, Sersan Puji Sitorus, Hamdi Zen , Maringan Nainggolan, Wahab Panjaitan, Djonas Manurung, Berlin Manurung, dan Nagain Tambunan. Makam mereka tersebar di beberapa daerah yang terletak pada Kecamatan Bandar Pasir Mandoge.

Sejak tahun 2003 Pemerintah Kecamatan BP.Mandoge yang diprakarsai Toga Sinurat dan Jaga Sitorus untuk memugar makam Benjamin Sinurat serta membuat Tugu Pahlawan mencari dan menyatukan kerangka pejuang yang gugur di wilayah Kec.BP.Mandoge, dimana Legiun Veteran mulai Kab.Asahan. Provinsi Sumatera Utara dan LVRI di Jakarta juga Pemerintah Kabupaten Asahan, Pemprovsu mendukung rencana tersebut dan dukungan dana dari Dinas Sosial Kab.Asahan sudah sempat dianggarkan tetapi hanya untuk bangunan itupun dananya hanya sekitar Rp. 200 juta sementara untuk pembelian tanah tidak ada. Dan menurut Sumber para Kepala Desa se Kecamatan BP.Mandoge sudah berencana memasukkan bantuan pembangunan Makam Pejuang dimaksud di APBDes Desa masing masing semogalah terwujud. (*)

Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com