Makam Keramat dan Tradisinya di Kelurahan Gading Sari

Samsul
274 view
Makam Keramat dan Tradisinya di Kelurahan  Gading Sari

DATARIAU.COM - Makam keramat gading terletak di kabupaten karimun, kecamatan kundur, tepatnya di kelurahan gading sari. Untuk menuju ke makam keramat ini biasanya melalui pantai gading dan melalui tangga keramat gading di atas tangga itulah terdapat makam keramat yang di kelilingi tembok berbentuk rumah dengan ukuran lebih kurang 10 m x 4 m. Menurut kata Hasim Ibrahim (pemuka masyarakat gading) makam keramat yang berada di gading tidak diketahui nama dan asal usulnya. Dikatakan tidak ada yang mengetahui nama makam keramat itu dikarenakan dahulu pernah ada yang meminta kepada makam keramat itu dan bernazar jika yang ia minta didapatkan ia akan melaksanakan nazarnya tetapi, setelah permintaanya didapatkan ia tidak melaksanakan nazarnya atau berbohong karena hal itu dan takut dibohongi lagi maka tidak diberitahukan lagi nama dan asal usulnya bahkan ke keturunan penjaga makam keramat itu sendiri.

Makam keramat ini ditemukan pertama kali oleh tok kamis berupa gundukan tanah lalu di bersihkanlah area gundukan tanah itu, malamnya tok kamis mendapatkan alamat atau mimpi yang mengatakan bahwa itu adalah makam keramat. Sejak saat itulah makam ini dikenal dengan nama makam keramat dan terus dijaga dari tok kamis turun ke anaknya tok aziz, turun ke pak aris cucunya dan hingga penjaga makam saat ini yaitu pak husen sebagai penjaga sementara.

Bersamaan dengan makam ini ada juga tradisi yang berkaitan dengan makam keramat ini yaitu tradisi “Bele Kampung”. Yaitu tradisi yang dilakukan oleh orang-orang gading dengan narak limau atau meletakan limau didalam makam keramat, setiap orang satu limau yang diwakilkan kepada tiap-tiap kepala keluarga untuk meletakannya di makam keramat. Bele kampung dilakukan pada satu hari awal bulan sya’ban yang berlangsung selama tiga hari pada hari ketiga disubuh hari tiap-tiap kepala keluarga mengambil Kembali limau dimakam keramat dan dibawa kerumah pemuka masyarakat atau sesepuh. Setelah itu diadakanlah kenduri pulut yang terdapat berbagai jenis pulut dan juga sebagai kenduri doa selamat.

Setelah selesai kenduri setiap orang gading pulang kerumah dan melakukan mandi limau dirumanhnya masing-masing, setelah mandi ada pantangan yang tidak boleh dilakukan yaitu untuk didarat dilarang memetik daun, menebang pohon selama satu hari dan disarankan untuk dirumah saja. Sedangkan untuk dilaut dilarang melaut, memancing selama tiga hari dan selama bele kampung dilakukan orang luar tidak boleh masuk kegading dan jika masuk harus menyerahkan benda kesayangan yang dibawa baru boleh keluar dari gading namun, keesokan harinya setelah satu hari maka benda atau barang kesayangan bisa ditebus dengan uang misalnya sebagai syarat, karena barang yang diambil itu sebagai penjamin orang luar yang terlanjur masuk kegading. Tradisi ini masih di lakukan oleh masyarakat gading hingga saat ini, walaupun ada sedikit kelonggaran dalam pantangan tradisi bele kampung seiring dengan berkembanganya zaman.

Penulis: Nur Muhammad Hazani (Mahasiswa S1 Jurusab Pendidikan Sejarah Universitas Riau)

Editor
: Samsul
Sumber
: Datariau.com
Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com